Kejelian Chris Cornell Meracik Lirik Be Yourself-nya Audioslave

Audioslave Be Yourself


01/Seratus Senin - Audioslave merilis Be Yourself pada tahun 2005 sebagai single utama dari album kedua mereka, Out Of Exile. Tidak jauh berbeda dari judul, secara garis besar lagu ini ditujukan bagi orang yang sedang kehilangan arah untuk kembali pulang ke dirinya sendiri.

Karena, memang hanya di sanalah seseorang bisa menemukan ‘sesuatu’ yang seumur hidup dicari-cari umat manusia sedunia, ya, apalagi kalau bukan kebahagiaan. Barang bernama ‘bahagia’ itu ternyata tidak ada di tempat lain kecuali di dalam dirimu. Percayalah!

Sekilas Pandang

Butuh waktu sepuluh tahun bagi Chris Cornell untuk berani merilis Be Yourself sejak liriknya selesai ditulis. Cornell bilang, dulu dia terlalu malu untuk merilisnya sebagai lagu karena ia beranggapan liriknya terlalu ‘sederhana’. [¹]

Terkait dengan liriknya sendiri, dalam sebuah wawancara bersama Launch Radio , Cornell mengaku bahwa inspirasi utamanya menulis Be Yourself bersumber dari perenungan pribadinya akan sekian hal yang dilaluinya sepanjang hidup.

Berbagai peristiwa masa lalu lengkap dengan tragedinya, juga diri yang berubah seiring waktu ke waktu, serta hal-hal mengganjal seperti kesalahan yang berulang ia lakukan, yang karena saking memalukan untuk diingat, ingin sekali rasanya Cornell membayar lunas rasa bersalah itu agar tak lagi membebani hidupnya.

Cornell menuangkan semua hal itu ke dalam lagu yang katanya sih ‘sederhana’ ya. Memang sesederhana apa sih lagu Be Yourself? Mari menguliti pritilan-pritilan lagu tersebut dalam kajian lirik.

Kesan Mendengar Intronya

Genjrengan dan petikan gitar Tom Morello yang teduh mengawali Be Yourself, seketika merangsang ingatanku untuk memunculkan kisah pangeran Siddharta -Sang Buddha- yang kala itu untuk kali pertama keluar meninggalkan istana. Safarinya melihat realitas di luar pagar istana, membuatnya terkejut mendapati banyaknya derita yang merongrong kehidupan manusia.

Begitu tiap instrumen berpadu menyumbang harmonisasi nada sebelum lagu memasuki verse, scene demi scene tersaji dengan transisi sehalus kedipan mata mengenai empat peristiwa yang dilihat pangeran Siddharta : lelaki tua yang lemah lagi ringkih, seseorang yang menderita suatu penyakit, jasad yang hendak dimakamkan, serta petapa suci pengembara yang memancarkan aura bahagia. [²]

Belum juga detail kisah sang Buddha tuntas terselesaikan, semua adegan yang barusan muncul di kepalaku bergegas lenyap begitu Chris Cornell senandungkan bait verse yang lekat  merepresentasikan rasa sakit dan penderitaan.


Verse 1


someone falls to pieces / seseorang hancur berkeping-keping

sleeping all alone / tidur sendirian

someone kills the pain / seseorang membunuh rasa sakit

spinning in the silence / berputar-putar dalam kesunyian

she finally drifts away / dia akhirnya pergi

 

Inilah rasa sakit yang dipresentasikan Chris Cornell :

Tentang seseorang yang hancur yang berkeping-keping, entah oleh seseorang atau sesuatu. Siapa atau apapun sebab, abaikan sebentar karena yang jelas, kini hidupnya serupa remukan biskuit yang ketiup kipas angin : remah-remahnya tercecer, berhamburan dengan sangat berantakan.

Selama ini dia hanya memendam sendiri rasa sakitnya. Tidak pernah memberitahu siapapun mengenai yang dideritanya. Karena baginya, mustahil orang lain bisa sepenuhnya memahami seberapa menyakitkan detail dari rasa sakit itu.

Ia tak sudi dikasihani dan karenanya, di hadapan siapapun, dia selalu berlagak baik-baik saja. Meski yang senyata-nyatanya, saat kembali sendiri, derita itu muncul lagi dengan begitu ngeri. Sangat menyiksa sampai dia tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membunuh sakitnya.

Hal yang selama ini dicobanya sebatas meninggalkan rasa sakit itu di ambang batas kesadaran. Entah dengan tidur atau ketidaksadaran lain yang dikondisikan. Upaya itu paling mentok hanya menjeda rasa sakit itu untuk sementara, tapi jelas, tidak menyembuhkan.

Semakin lama semakin muak saja. Dia pun kini mencapai limitnya. Tak sanggup menahan derita itu lebih lama lagi. Hingga di detik itu dia merasa, sekaranglah waktunya untuk melenyapkan rasa sakit sialan itu, untuk selama-lamanya.

Dan ya begitulah : di dalam kesunyian, berputar-putar ia untuk kemudian, pergi.

***

Berbicara mengenai konteks lirik di atas, saya menduga Cornell menuliskan itu untuk mendiang sahabatnya,  Andrew Wood (vokalis Mother Love Bone), yang meninggal tahun 1990 usai ditemukan terkapar dalam kondisi koma akibat overdosis heroin. [³]

Kan di awal artikel tadi disebut bahwa, Chris Cornel butuh waktu 10 tahun untuk berani merilis Be Yourself. Dan lagu Be Yourself sendiri itu dirilis Audioslave tahun 2005. Itu artinya, 10 tahun sebelum 2005, itu ya kisaran 1995.

Demi mengingat kedekatannya dengan Wood, menurutku wajar saja jika Cornell masih merasa sedih bahkan setelah 5 tahun kematiannya.

5 larik pertama dari lirik tersebut, seperti yang dinyatakan Cornell, kematian Wood mungkin merupakan satu dari sekian banyak tragedi dalam hidup yang menginspirasinya menulis Be Yourself. Terlebih Cornell menyaksikan langsung detik demi detik sahabatnya menghadapi kematian.

Sedikit tambahan, Cornell juga menulis lagu berjudul Say Hello 2 Heaven  yang merupakan satu dari beberapa lagunya bersama band Temple of the Dog yang dipersembahkan khusus untuk Wood. Di lagu tersebut, terdapat lirik yang menurutku maknanya mirip-mirip seperti 5 larik lirik awalan Be Yourself.


he came from an island / dia berasal dari sebuah pulau

then he died from the street / lalu dia mati di jalanan

and he hurt so bad like a soul breakin' / dan dia terluka sangat parah sepertinya jiwanya patah

but he never said nothin' to me, yeah / tapi dia tak pernah mengatakan apapun kepadaku


Baik awalan Be Yourself maupun Say Hello 2 Heaven di atas, menurutku, jika konteksnya sama mungkin saja liriknya juga bersumber dari rasa bersalah yang terus menghantui Cornell karena dirinya tak bisa membantu Wood melepas ketergantungan dari drug.

Iya, terkait dengan kata ganti 'she' di Be Yourself  dan 'he' di Say Hello 2 Heaven, bukti ini, mungkin bisa langsung mematahkan teoriku. Silakan dikoreksi jika saya keliru.

***


someone gets excited / seseorang begitu antusias

in a chapel yard / di halaman sebuah kapel

catches a bouquet / menangkap karangan bunga

another lays a dozen / sementara yang lain menabur lusinan

white roses on a grave / kembang mawar di kuburan


Hanya dengan lima larik yang sependek itu, Chris Cornell bisa meracik lirik yang menurutku begitu indah sekaligus menusuk. Bagaimana tidak indah, Cornell mengkomparasikan sebuah objek yang sama yang dipandang melalui dua perspektif yang kontras bedanya.

Objeknya sama-sama bunga, tetapi pemaknaannya jadi jomplang ketika dipandang oleh dua insan dengan kondisi hidup yang berkebalikan. Satu sisi melambangkan bahagia sementara sisi yang lain, mewajahi duka.

Seseorang bisa begitu antusias demi ‘menangkap’ karangan bunga yang dilempar mempelai di resepsi nikahan. Sementara, seseorang tertunduk lesu saat ‘menabur’ lusinan kelopak mawar di prosesi pemakaman.

Sebagai lirik, menurutku ia kelewat indah dalam menyajikan ironi.

***

Tadinya saya nggak kepikiran untuk berteori mengenai konteks peristiwa yang menjadi landasan Chris Cornell menuliskan bait lirik tersebut. Tetapi setelah saya menulis soal Andrew Wood yang di atas itu, kok ya sepertinya lirik ini juga masih terkait dengannya.

Betul, lirik be yourself yang kumaksud terkait dengan Andrew Wood, tentu saja part, 'Another lays a dozen / white roses on a grave’. Lalu untuk bagian ‘Someone gets excited / in a chapel yard / catches a bouquet’, saya menemukan konteks peristiwa yang cukup mengejutkan. 

Saat iseng browsing pernikahan Chris Cornell, yang dimunculkan oleh google :



Coba bayangkan : Andrew Wood meninggal 19 maret 1990 dan beberapa bulan kemudian, Chris Cornell menikah dengan Susan Silver pada 20 September 1990. Sedih dan bahagia bergantian datangnya.

Kamu paham kan keterkejutan seperti apa yang kumaksud? 


Verse 2


someone finds salvation in everyone / seseorang menemukan keselamatan pada setiap orang

another only pain / sementara yang lain hanya melihat persakitan


Ada orang yang selalu bisa melihat sisi baiknya setiap orang. Seperti halnya Abraham Maslow, orang tipikal ini percaya bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang jahat. Karena pada dasarnya, kehendak jiwa punya kecenderungan untuk menjadi baik. Atau setidak-tidaknya kehendak jiwa itu netral, bukan jahat.

Bagi tipikal orang ini, tidak peduli seburuk apapun reputasi orang lain, entah dia mengetahui berdasar pengalaman sendiri atau dispoiler yang lain, dia akan selalu mau atau setidaknya percaya bahwa suatu hari nanti orang tersebut bisa berubah menjadi baik.

Tapi di sisi seberangnya, ada orang yang memandang setiap orang hanya akan membawa luka baginya. Seperti halnya Jean Paul Sartre, bagi tipikal orang ini, 'orang lain adalah neraka'.

Dia akan membangun benteng yang begitu tinggi sehingga setiap orang yang mencoba dekat dengannya akan frustasi duluan bahkan sebelum mendaki separuhnya. Semua itu dilakukan hanya untuk melindungi dirinya.

Bukan apa-apa, hanya saja dia tidak percaya dengan yang lain. Karena mungkin sepengalamannya, semua yang berlaku baik di depan selalu saja menancapkan belati ke punggungnya begitu ia lengah saat menghadap sebentar ke belakang.

Bagian ini saya nggak nemu kaitannya dengan kehidupan Chris Cornell. Mungkin, ada satu masa di mana dia bisa percaya sama orang lain. Lalu hal-hal buruk terjadi sehingga seiring dengan bertambahnya pengalaman tak menyenangkan kaitannya dengan hubungan interpersonal, membuatnya kapok untuk percaya pada manusia.


someone tries to hide themself / seseorang mencoba sembunyikan dirinya

down inside himself he prays / di kedalaman dirinya dia berdoa


Mungkin semacam penyesalan. Penyesalan yang sumbernya datang dari rasa bersalah. Rasa bersalah yang selama ini selalu ia gunakan untuk menampar-nampar dirinya sendiri. Membully dirinya sendiri. Menistakan dirinya sendiri.

Sejatinya, dia ingin menerima dan memaafkan dirinya. Hanya saja, dia tidak punya keberanian untuk itu karena selalu dijegal oleh rasa bersalah. Semakin lama merenungi penyesalannya, semakin dirasa menyiksa. Dia tak punya pilihan lain selain menumpahkan semua yang dirasakannya ke tuhan, dengan cara berdoa.


someone swears their true love / seseorang bersumpah setia untuk cinta sejatinya

until the end of time / sepanjang hidup sampai meninggal

another runs away / sementara yang lain, melarikan diri

separate or united? / berpisah atau bersama?

healthy or insane? / waras atau gila?


Ada yang berani berkomitmen untuk sampai akhir hayat bersetia kepada seseorang yang dipilihnya sebagai cinta sejatinya. Tetapi, dengan segala sebab dan alasan, ada yang akhirnya memilih untuk lari dari komitmennya. Mana yang akan kau kategorikan sebagai yang waras dan gila antara yang tetap bersama dengan yang memilih bercerai?

Bagian lirik di atas, menurutku bukan sebentuk cibiran dengan menganggap yang satu lebih mulia sementara yang lain menjadi hina. Justru lirik tersebut berusaha memprotes pandangan semacam itu. Bahwa tidak bisa kita menilai buruk satu keputusan yang diambil seseorang hanya karena keputusan tersebut tidak sesuai dengan standar sosial.

Ya, kaitannya dengan mempertahankan pernikahan atau bercerai. Mungkin ada orang yang merelakan bahagianya demi mempertahankan pernikahan dengan berbagai macam pertimbangan seperti misal anak-anaknya. Dan ada juga yang memilih untuk bercerai, memilih merebut bahagia yang selama ini tidak terpenuhi oleh pasangannya.

Tidak ada yang benar-benar salah diantara dua keputusan itu. Dan orang di luar mereka berdua tidak ada hak untuk menyalahkan apapun yang mereka putuskan.

***

Ada konteks peristiwa yang kutemukan terkait lirik di atas.

Lagu ini dirilis tahun 2005. Setahun sebelumnya, tahun 2004, dalam kehidupan pribadinya Chris Cornel terdapat dua peristiwa besar sekaligus. Pertama, dia bercerai dengan Susan Silver lalu tak lama kemudian dia menikahi Vicky Karayiannis. [⁴]

Entah lirik di atas berkaitan dengan itu atau bukan, saya tidak tahu pastinya.


Bridge


even when you've paid enough / bahkan saat kamu sudah membayar lunas

been pulled apart / mau ditarik lepas

or been held up / atau tetap menahannya

every single memory of / setiap kenangan tentang

the good or bad, faces of love / baik atau buruknya, adalah perwajahan cinta

don't lose any sleep tonight / jangan menyerah tidurlah malam ini

i'm sure everything will end up alright / aku yakin semua akan berakhir baik-baik saja

you may win or lose / kamu mungkin menang atau kalah


Tidak peduli bahkan jika kamu sangat ingin untuk memperbaiki kembali hal yang berakhir kacau di masa lalumu, tidak peduli sesering apapun kamu meratap ‘kalau saja dulu’, semua itu tidak akan berdampak apa-apa. Hanya akan menambah berat beban penyesalanmu.

Ya pasti, akan ada momen di mana semua kenangan dalam hidup muncul kembali dalam ingatan. Mau itu hal-hal yang baik atau buruk untuk dikenang, santai saja, tanggapilah dengan cinta. Dengan welas asih. Dengan tidak mengutuk jika yang datang kenangan buruk.

Sudahlah, jangan terlalu dipusingkan. Sekarang sudah waktunya kamu tidur. Matikan lampu dan merem.

Entah nantinya bakal menang atau kalah, percaya saja, semuanya pasti berakhir baik-baik saja. Kata kata klise seperti ‘semua akan indah pada waktunya’ itu bener, loh. Nanti akan ada waktunya kamu mengamini kebenaran dari kalimat klise itu, paling nggak saat kamu semakin tua.


Reff


but to be yourself is all that you can do / tapi menjadi diri sendiri adalah satu-satunya yang bisa kamu lakukan

to be yourself is all that you can do / menjadi diri sendiri adalah satu-satunya yang bisa kamu lakukan

to be yourself is all that you can do (all that you can do) / menjadi diri sendiri adalah satu-satunya yang bisa kamu lakukan (cuma itu yang bisa kau lakukan)

be yourself is all that you can do / jadi diri sendiri adalah satu-satunya yang bisa kamu lakukan


Jika harus menyederhanakan makna lagunya, anggap saja be yourself itu tentang menerima apapun –hal baik sekaligus buruk- yang kadung terjadi di hidup yang sudah kita lewati. Menerima, sekaligus tidak terus menyalahkan diri sendiri atas segala kekacauan yang mustahil ditebus meski sangat ingin menekan tombol restart untuk mengulanginya menjadi lebih baik.

Karena hidup tidak menyediakan tombol restart. Adanya paling replay, itu pun bukan untuk mengulangi, melainkan untuk refleksi. Dan ujung dari refleksi adalah menemukan hal paling sederhana untuk diucapkan tapi begitu sulit dipraktekan : yasudah, sing wise ya wis.

Dan puncak dari menjadi wise adalah kamu sadar untuk balik ke dirimu lalu kembali menjalani sisa hidupmu dengan tidak lagi meninggalkan atau mengingkari dirimu sendiri.

Sederhana sekali, bukan?


***


Rujukan

1. https://genius. com/Audioslave-be-yourself-lyrics

2. https://learningrmps. com/2017/09/14/the-four-sights-and-going-forth-buddhism/

3. https://en.wikipedia. org/wiki/Andrew_Wood_(singer)

4. https://en.wikipedia. org/wiki/Chris_Cornell

Posting Komentar

0 Komentar