Beberapa Tempat Memang Sentimental



Di antara reruntuhan gedung gusuran yang terbengkalai, persis di belakang mall perbelanjaan yang sekarang kalah pamor, di sana, terdapat sepetak kecil warung kopi yang dinding triplek nya berdempetan langsung dengan, katakanlah pos atau gardu, atau juga sekaligus halte tempat orang-orang menunggu angkutan kota. 


Warkop ini betulan kecil. Menempati kavling yang luasnya tak lebih dari 6 meter, dengan lebar bangunan sekitar 2 meter lalu memanjang ke belakang 3 meteran. Bentuknya menyerupai sebuah kubus, dengan tinggi yang mungkin tak sampai 3 meter.


Seperti umumnya warkop, yang dijajakan di sini pun tak jauh beda. Didisplay menggantung, berderet begitu variatif itu aneka minuman kemasan -baik kopi maupun sari-sari rasa buah-, snack cemilan seribuan, tapi ada pula yang home made, semisal lontong ukuran jumbo dan tempe mendoan yang lebarnya melebihi bukaan telapak tangan.


Di warkop ini ada satu bangku panjang yang hanya muat diduduki tiga orang. Ada satu tempat duduk lagi di samping, yang sebetulnya bukan tempat duduk melainkan box pendingin minuman. Untungnya ada gardu di belakang -yang sebetulnya milik pemerintah- tapi seolah-olah terhitung sebagai fasilitas warkop. Orang bisa memesan kopi lalu duduk dengan leluasa di dalam gardu tersebut.


Jika diamati, bangunan gardu ini cukup tua umurnya. Sekalipun tidak layak dibilang reyot, tapi kesan yang nampak bangunan ini sepertinya terlewat dari perincian daftar yang direncanakan untuk diremajakan oleh kota kecil yang sedang bergeliat begitu giat mempercantik tatanan visualnya. 


Lihat saja betapa uzur-nya bangunan itu. Cagak penyangga berbahan kayu yang menancap dan menopang di tiap sudut lantai dan atap, dulunya mungkin dipoles cat biru muda yang cerah, tapi kini cenderung lusuh dan kusam memudar. 


Ada tiga pasang bangku memanjang yang tiap sepasang, direkatkan oleh sebuah meja yang sama panjangnya. Inventori ini pun tidak luput dihinggapi penyakit tua.


Seperti pada tiga pasang bangku yang memanjang itu, misalkan. Beberapa dari bilahnya, ada yang sudah patah. Triplek putih yang melapisi permukaan meja-meja perekat kedekatan tiap sepasang bangku tadi, juga mengelupas. 


Pun dengan atap gentengnya yang tak bisa lagi menepis kebocoran. Maka jelas sudah, basah pada kayu-kayu dari meja dan bangku itu mustahil terhindarkan jika turun hujan.


Tapi kondisi bangunan yang tidak begitu prima itu tidak sedikitpun mengusik kenyamanan bagi segelintir orang yang kadung dibikin sentimentil begitu singgah di sana.


Seperti orang yang duduk sendirian di sana, misalnya. 


Di bangku memanjang yang paling ujung yang juga paling dekat dengan muka jalan, tepatnya di sebelah kiri bangkunya, duduklah bapak paruh baya dengan setelan kaos polo bergaris yang dimasukan rapi ke dalam celana jins ala Elvis Presley, lengkap dengan topi pet abu-abu yang membuatnya tampak bersahaja. 


Sedari tadi bapak itu hanya duduk bersandar, dengan satu kaki menekuk dan ditopangkan ke kaki yang lain, sembari tangan sibuk membolak-balik lembar koran harian kota yang dibacanya. 


Sesekali ia letakan sebentar koran yang dibiarkannya tetap terbuka lebar itu di permukaan meja, demi melorotkan sebatang kretek dari dalam kotaknya, lalu mengapitnya di sela-sela bibir hingga puncaknya api dari pemantik menyulutkan bara yang melahap kertas sekaligus tembakau. 


Lalu ia pun berlanjut, kembali khidmat menelan dan menguyah tiap kata dan berita yang tersaji di korannya.


Jika bapak paruh baya itu mau sebentar untuk menggeser duduknya ke sebelah kanan, lalu berdiri sambil memiringkan tubuh dan melongokkan kepala ke depan, mungkin ia dapat melihat kedatangan seseorang yang lain yang detik itu sedang memarkirkan kendaraan.


"Tapi ngapain?" bapak itu pasti menjawab demikian jika disuruh begitu.


Dilihat dari perawakannya, sepertinya ia masih muda, kisaran dua puluhan. Pemuda tersebut mengenakan jaket hitam dengan gambar yang tersablon di area dada berupa tulisan yang rumit dibaca karena menyerupai akar-akar pepohonan, yang mana, itu font yang khas dijadikan logo-logo band pengusung death metal. 


Usai mengalungkan helm pada spion, pemuda itu berjalan mendekat dan begitu sampai ke yang dituju, serta merta pemuda itu menyibakkan spanduk-spanduk yang mengelilingi area luar warung kopi tersebut. Lagaknya mirip kura-kura yang menyembulkan kepala dari tempurung sebelum ia bilang, "Assalamualaikum!"


Tapi tidak ada jawaban. Ia hanya mendapati Bu Rin -begitulah beliau disapa-, barista merangkap waiters juga kasir sekaligus owner warung kopi ini, sedang duduk sambil tidur tak lupa pelan mendengkur di dalam singgasana kecilnya. 


Sehalus dan sepelan mungkin pemuda itu coba memanggil-manggil Bu Rin agar terbangun tidak dalam keadaan kaget. Butuh tiga kali percobaan sampai akhirnya kedua bola mata Bu Rin menyala, diiringi luapan uap tak tertahan dari rongga mulutnya yang autopilot menganga. 


"Eh, iyaaa." ucapnya, sambil kucek-kucek mata.

"Kopi, bu." 

"Biasa, bu."

"Oke, mas." singkat jawabnya, enggan seperti kebanyakan orang yang terpaksa melek karena dibangunkan.


"Tapi profesional is me, is me!" itulah slogan yang sudah dipaku nancep ke dalam mindset-nya Bu Rin.


Setelah memesan segelas kopi, pemuda itu langsung duduk di bangku paling ujung yang lain, yang paling dekat dengan dinding warkop ini. Ia duduknya di sisi paling kanan dari bangkunya. Lalu melepas jaket dan melipat tak rapi sekaligus meletakan di sampingnya.




Bapak paruh baya yang duduk di seberangnya sedikit menurunkan koran untuk menatap sekilas ke arahnya. Pemuda itu mengangguk sebagai bentuk kesantunan meski terlambat sekian detik sebab koran yang lebar dihamparkan itu kadung menutupi wajah si bapak.


Waktu mulai menjemput sore, sekitar pukul setengah tiga. Dari kejauhan, pemuda itu bisa dengan jelas melihat seorang gadis berseragam putih lengan pendek berbalut rok biru tepat selututnya, sedang berjalan santai sambil sesekali menyeka keringat yang menetes dari dahinya. 


Langkah sang gadis makin dipercepat begitu semakin dekat jaraknya dari gardu dan setibanya, ia langsung mencolek pundak bapak paruh baya itu dari belakang. 


"Ayo, pah." dengan senyum yang mekar, gadis itu berucap. 


Bapak paruh baya itu memiringkan leher tak sampai sembilan puluh derajat untuk membalas senyumnya dengan kecupan yang mendarat tepat di pipi kiri usai sang gadis berinisiatif memajukan wajahnya. 


Meski hanya sekelebat, adegan barusan mustahil luput dari lirikan mata sang pemuda. Ada haru yang timbul di hati si pemuda begitu merasai timbal balik dari tulusnya saling menyayangi antara bapak dan anak gadisnya ini. 


Sekian detik berselang, bapak-bapak itu beranjak dari duduknya, dan lekas menggenggam erat tangan gadisnya. Berdua mereka, berjalan beriringan menuju mobil yang diparkir tak jauh dari gardu. 


Secepat roda menggelinding di aspal, mereka pun menghilang dari pandangan usai mobilnya melesat ke entah.


"Humbert Humbert, mas" ucap Bu Rin begitu saja setelah meletakan cangkir kopi panas pesanannya di meja. 


Si pemuda sedikit terperangah, balik menatap Bu Rin dan dengan ekspresi wajah yang bingung, ia membalas tanya, "Iya, gimana, Bu?


"Itu loh, bapak-bapak tadi." 

"Bapak-bapak itu kenapa?" 


Pemuda itu mengernyit begitu mendapati Bu Rin yang hanya cekikikan sambil berlalu pergi kembali ke petakan kecilnya. 


"Maksudnya gimana, bu?!" teriaknya, tapi tak digubris Bu Rin yang sudah hilang dimakan oleh warungnya sendiri.


Ia hanya bengong, dengan sedikit jengkel yang tersisa. Benar-benar tak mengerti. Sudah coba ia pahami, tetapi satu-satunya benang merah yang bisa dirangkainya hanyalah : Humbert dan bapak itu. 


"Simpel saja, sih. Bapak itu namanya Humbert." ia simpulkan begitu saja. "Apa pentingnya ngasih tahu nama bapak itu, bu, bu." ia berteriak, tapi pelan saja.


Pemuda itu kembali melamun dengan tatap mata yang sayu memandang gelas kopinya. Ia tahu, kopi dalam gelas itu pasti masih panas. Tidak perlu memegangnya untuk membuktikan kebenaran dari hipotesisnya.


Tapi, ia tetap kukuh meraih gelas itu. Baginya, sangat tidak perlu menahan diri demi menunggu kopinya mendingin baru kemudian meminumnya. Ngapain? Selagi panas, bahkan ia bisa tipis-tipis menyeruput kopinya.


"Anjing!" kata itu spontan keluar dari mulut begitu kopi ia sruput.


Bukan, bukan karena saking enaknya kopi itu sehingga mengabsen anjing. Tapi karena barusan ia ngeh sama yang dimaksud Bu Rin.


"Yang benar saja, bu!" teriaknya, kali ini keras.


***

Posting Komentar

0 Komentar