Migren : Kasir Kelontong | BAB 01



.....
Setiap sedang sendirian motoran, yang begini, sering terjadi. Setelah terjadi, sesuatu hal akan datang, mampir ke pikiran. Sesuatu ini, memperkenalkan diri sebagai penyesalan. 

Sedikit sulit untuk dideskripsikan bagaimana bentuk dari penyesalan. Agaknya ia berbentuk menyerupai bayangan. Sebuah Bayang yang mendadak muncul, tahu-tahu ia sudah menginvasi perasaan. 

Mungkin ini sedikit lebih jelas. Bayangan ini, setelah diurai dalam kepala, ternyata berkaitan erat dengan suatu kejadian. Kejadian yang, yah, sayangnya tidak beneran kejadian. 

Oh, kenapa malah makin rumit, ya? Begini mungkin, detail persisnya. 

Kejadian ini, dari jenis hal indah yang, ia nyaris digenggam, ada di depan mata, tapi, sebentar menguap hilang. Lewat begitu saja, jadi jauh jaraknya.

Karenanya, kebahagiaan dicancel. Lalu lahirlah yang namanya penyesalan. Setelah sekian waktu mendekam, penyesalan memutuskan untuk merantau. Boleh juga sih kalau mau dibilang minggat. 

Kemudian penyesalan itu pulang kampung, dan membawa oleh-oleh kesedihan. Ya, sedih sekali. Tapi, ini perlu dipertegas, biar nggak salah paham.

Sedih ini, sedih yang agak beda rasanya. Ini jenis sedih yang kadarluarsa. Sedih yang sekali waktu diproduksi ulang hanya untuk sebentar saja hadirkan sensasi nyes di perasaan. Kira-kira begitu.
.....

Memang, terkadang ada momen di mana Migren bisa berfikir sedalam itu. Terlebih saat sendiri, di pinggir jalan yang sepi, di samping kiri motornya. Dalam momen seperti ini, pikiran Migren akan bekerja lebih ekstra.

Pikirannya akan menguraikan, lalu menafsirkan kejadian-kejadian yang menimpanya. Seperti halnya tadi, saat Migren menyesali keputusannya sendiri. Dan Migren mencoba untuk memikirkan apa-apa yang ada di balik penyesalannya.

Kini, terkait apa yang sedang dipikir dan dirasa, mendadak Migren jadi agak skeptis. "Menurutku, perasaan yang begini ini, kayaknya kurang tepat jika diklasifikasi sebagai penyesalan." Migren mulai berfilosofi.

"Karena gini, loh..." Seolah sedang berdiskusi, Migren memaparkan opininya dalam hati. 

Karena, jika itu dibilang penyesalan, nyatanya dia sudah kelewat jauh. Dan sejauh ini, kayaknya Migren rela-rela saja. 

"Tapi, ada tapinya ini.." Migren jadi gamang. 

Muncul satu hal yang berlawanan dengan opininya barusan. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin satu hal ini ada benarnya.

Adalah, karena meski bilangnya sudah rela, terkadang di batin masih suka meratapi dan berkata, 'seandainya tadi....' 

Perasaan begini memang selalu rumit. Tapi percayalah, itu, memperkaya batin. 

"Ah!! Harusnya tadi isi bensin dulu di Pom sebelum pulang, blokkkk!" Migren lelah, dorong motor sambil berfilosofi.


*****

Kelap-kelip lampu ala disko yang melilit mesin pom mini itu membuat Migren jadi lega. Beruntung, masih ada warung Madura yang buka. Migren tuntaskan dahaga motornya menenggak pertalite. 

Beres sudah, bergegas ia tarik gas menuju markas. 

Kali ini pelan saja rodanya membelah aspal jalanan. Sebabnya malam begitu dingin. Meski jaket tebal telah membungkus rapet tubuhnya, tetap saja itu nggak mempan untuk nahan angin yang semribitan. 

Dingin dan senyapnya jalanan saat larut malam, membuat pikirannya tambah liar. Satu hal terpikirkan, belum selesai, sudah ganti ke hal lain. Setelah melintasi kilometer kesekian, Migren mulai meracau bebas. 

"Pelan saja, asal nggak meriang, oke!"
"Eh, tapi nanti..." batinnya.

"Nama doang Migren, keserempet angin dikit langsung meriang!" 

"Yakin aku, bakal ada yang ngejudge gitu..."
"...Sialan!" Aspal berlubang membuat Migren tersentak. Kekagetan ini sekaligus menjadi transisi yang kasar mengganti frame di pikirannya. 

Migren kini beralih memikirkan Vira. Masih jelas teringat, obrolan di motor sewaktu mengantar Vira pulang. Saat itu Vira berebut atensi telinganya Migren dengan deru angin dan kendaraan lain.

"Aku nggak yakin."
"Hah?"
"Aku nggak yakin, Migren" ulangnya, sedikit berteriak.
"Enam tahun ini apa nggak cukup meyakinkan bagimu, Vir?"
"Hah?" Giliran vira yang budeg.

Mengingat itu, Migren tertawa. Lalu tiba-tiba lupa begitu saja. Sekarang di pikirannya muncul lagi hal yang lain. Migren keingat kalau dia belum beli rokok. "Walah, harus mampir ke Kelontong dulu kayaknya."

Rokoknya habis. Karena tadi sebatang yang terakhir ia bakar saat berdua bersama Vira, kencan di pusat kota.

*****

"Minimarket Kelon, tong!"

Di negara ini, setiap menempuh jarak satu sekian kilometer sekali, pasti bakal menjumpai minimarket ini, lagi dan lagi. 

Minimarket Kelontong telah memonopoli industri retail. Unitnya berlipat ganda, ada di mana-mana. Hanya butuh dua tahun bagi kelontong untuk menjadi top of mind seperti sekarang.

Itu mengagumkan, dari segi pencapain bisnis. 

Tapi, Migren lebih memilih menaruh kekagumannya ke hal yang lain. Migren salut sama bos Kelontong yang, bahkan sampai bisnisnya sesukses ini, dia nggak pernah mau nongol di media. 

Ya, sosoknya memang sangat invisible. Dan Migren percaya, aktor intelektual di balik Kelontong, orang itu punya power yang begitu mengerikan. Bos minimarket Kelontong punya kesaktian di atas normal. 

Konglomerat itu mampu menghapus paksa ingatan semua orang. Dan ini fakta, bukan omong kosong belaka.

Buktinya jelas. Lihatlah hari ini. Nyaris nggak ada seorang pun yang berani mengungkit kembali insiden itu. Seolah tragedi itu nggak pernah terjadi di negara ini. 

Waw! Migren benar-benar takjub pada bos yang entah siapa namanya, bagaimana rupanya.

Dua tahun telah lewat. Dua tahun lalu, ada satu insiden yang mengiringi peletakan batu pertama berdirinya kerajaan bisnis ini. 

Saat itu, presiden dan jajaran pejabat elit pemerintah datang menghadiri undangan grand launching gerai pertama dari minimarket Kelontong.

Berbarengan dengan acara itu, ribuan orang dari kelompok konservatif menggeruduk istana negara. Para demonstran menuntut izin legal kelontong dicabut. Demo ini, itu yang kedua kalinya.

Kaum konservatif sebelumnya sudah turun ke jalan, menggelar parade perlawanan. Mereka sedari awal sudah getol menolak kehadiran retail ini. 

Sejak kali pertama minimarket Kelontong menyebar teaser promosi di seluruh kanal televisi, kaum konservatif langsung merespon dengan menempel pamflet penolakan di jalan-jalan. 

Selang beberapa hari, mereka turun ke jalan untuk pertama kali. Demo yang pertama berlangsung damai. Mereka membentangkan berbagai spanduk yang pada intinya, kaum konservatif dengan tegas memboikot minimarket Kelontong.

Mereka menolak bukan karena kehadiran retail ini mematikan geliat umkm. Bukan juga karena lahan masyarakat digusur demi pembangunan Kelontong. Bukan, bukan itu. 

Kaum konservatif menolak Kelontong karena menurut mereka, minimarket ini terang-terangan mempromosikan seks bebas.

"Lihat saja namanya, kawan-kawan." Orator mulai menyalakan api ke jiwa kerumunan dengan orasi yang ndakik-ndakik.

"Kelontong. 'Kelon, tong!', loh, namanya!" 

Mendengar orasi itu, Migren yang saat itu menyaksikan demo lewat siaran live televisi, tertawa dibuatnya.

"Kawan-kawan, bedebah kapitalis ini secara sengaja menyiratkan pesan di balik nama brandnya."

"Mereka ini, para liberal terkutuk, punya agenda terselubung!" Ekspresi wajah sang orator tampak begitu serius saat mengucapkan itu.

"Agenda busuk mereka, adalah merusak moral anak bangsa dengan praktik legalisasi seks bebas di negeri ini."

"Kawan-kawan, jangan tunggu mimpi buruk itu jadi nyata."

"Jangan sampai moral bangsa dirusak oleh binatang-binatang seperti mereka. Maka dari itu kawan-kawan, kita tidak boleh diam saja."

"Kita harus melawan, kawan-kawan!" Sang Orator memberi jeda sekian detik untuk para kerumunan itu bersama meneriakkan kata "LAWAN!" secara kompak dan serempak.

"Hari ini kita berdiri di sini,"
"Kita berjuang bersama demi menyelamatkan moral bangsa dari kapitalis liberalis bejad itu. tu. tu. tu." Megafon sang orator bergema.

"Tiitttttttttttt." Kabelnya keinjek.

Meski tensi cukup tinggi, tapi demo pertama berakhir damai. Masa membubarkan diri sore hari setelah mendapat kepastian bahwa Presiden bakal merespon tuntutan mereka. 

Malamnya, siaran pers istana tayang di berbagai channel televisi nasional. Singkat saja pidato sang presiden waktu itu. 

"Tadi, pertama kalinya sejak saya memimpin negeri ini, ada segerombolan orang tolol yang coba-coba memancing onar."

"Huh!" Presiden membuang angin hangat lewat mulut di depan mic-nya.

"Mereka pikir mereka siapa, hah?" Ucapnya begitu arogan. Lalu ia menjeda sebentar pidatonya.

Bersamaan dengan jeda sekian detik itu, ada sesuatu di luar sana yang tidak tertangkap kamera televisi. 

Adalah raut wajah penuh ketegangan dari mereka yang menantikan angin segar pidato presiden. Jelas, mereka kecewa, karena pernyataan presiden yang barusan didengar, itu tamparan menyakitkan.

"Hari ini, sebagai seorang presiden yang bermurah hati, saya memaafkan kelancangan kalian, kelompok Not-A!" lanjut presiden.

"Lain kali kalau kalian demo-demo nggak guna lagi, tanggung sendiri resikonya." Yang mulia Presiden Jumbreng membanting mic, walk out dan siaran pers berganti komersial break.

Selesai mendengar pidato itu, bunga-bunga harapan yang nyaris mekar di hati kaum konservatif, mendadak layu, dan mengering. Tanahnya mulai gersang, karena tiada lagi bunga tanaman. 

Seseorang datang, dikiranya bakal melakukan penghijauan. Tapi nyatanya mereka keliru. Orang itu, malah dengan sengaja menyiram bensin. Lalu membuang putung rokok yang menyala dan, terbakar sudah itu kemarahan. 

Perlawanan mereka seperti tiada arti, sama sekali. Pihak istana menolak penolakan mereka dengan pernyataan kasar yang menyayat perasaan. 

Demi mendengar pernyataan presiden yang sangat arogan, kaum konservatif yang nama resmi organisasinya adalah Not-A, tentu saja geram bukan main.

"Negara menertawakan kita. Menganggap konyol tuntutan kita." 

"Jika aksi damai malah diabaikan dan ditertawakan, tepat hari itu kita bergerak lewat jalur kekerasan." Kelompok Not-A mulai menyusun rencana, demo jilid dua. 

Kali ini, mereka berencana bakal rusuh sejadi-jadinya. Dan memang itulah yang terjadi pada hari itu. Di depan istana negara, berbarengan dengan peresmian minimarket Kelontong. 

Bentrok aparat dan demonstran tak bisa terhindarkan. Presiden Jumbreng mengambil tindakan brutal untuk mengatasi kerusuhan aksi massa. "Turunkan pasukan khusus. Bantai habis seluruh anggota kelompok Not-A, tanpa tersisa!" tegasnya. 

Buntut perintah itu, banyak demonstran yang hanya bersenjatakan batu, mati tertembak. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Entah berapa banyak pastinya jumlah demonstran yang dieksekusi massal.

Setelah insiden itu, militer bergerak memburu sisa-sisa anggota dan simpatisan Not-A. Mereka semua yang terlibat baik itu secara langsung maupun tidak, tanpa pengecualian ditangkap dan dieksekusi atas perintah absolut Presiden Jumbreng. 

"Itu dua tahun lalu. Semua orang sudah lupa. Iya, lupa. Sekarang negara ini kelihatannya sih aman, damai, sentosa."

"Karena, ya, mending hidup dalam kedamaian semu ketimbang melawan lalu mati dibunuh tirani Jumbreng." Migren membatin sesaat setelah sampai di halaman parkir.

Neon Box bertuliskan 'Kelon, Tong!' menyambut kedatangannya. Nama yang sangat ikonik, yang diwarnai polemik. 

"Padahal apalah arti sebuah nama. Kata sastrawan prancis kan gitu, ya." Migren menghela nafas panjang, mengirim doa entah untuk ke siapa. 

Lalu berjalan, mendorong, dan pintunya terbuka.

*****

Begitu berada di dalam Kelontong, sepersekian detik kaki Migren serasa dipaku. Ia berdiri, memandang kosong sosok yang berdiri persis di depan etalase rokok. 


Migren terhipnotis, jiwanya tertuju sepenuhnya menatap keindahan artistik, si mbak kasir yang cantik. 


Wajah oriental, dengan empat pasang mata yang teduh tatapannya. Rambut sebahu yang digelung menjuntai njentir seperti kuda kepang. Itu, mempesona!


"Mari gila belanja di Kelontong, Mas." Migren tidak merespon, masih mematung di sana.


"Mas. Cari apa, mas?"
"Cari mbaknya." Ucap Migren setelah melepas paku-paku di kakinya.


Mendengar itu, sepersekian detik wajah mbak kasir berubah mbesengut, mirip kucing waspada. Namun karena sop kerjaan, tidak butuh waktu lama bagi mbak ini untuk kembali menyajikan senyuman ramah. 


Lebih dari itu, mbak kasir malah membalas rayuan norak itu dengan candaan, "Sebelumnya sudah ada sekitar 999,999 lelaki. Mas orang ke satu juta yang bilang gitu tiap ketemu saya di sini."


Migren sedikit kaget, nggak siap dengar jokesnya yang tiba-tiba. Tapi lelucon tadi sangat menghibur. Migren mengakuinya.


Sebelum sempat dicap yang enggak-enggak, segera saja Migren alihkan pembicaraan sebagaimana standar konsumen saat berbelanja. 


"Rokok, mbak. Eee...."
"Matahari enam belas."


Terlihat alisnya mbak kasir naik sekian inchi, tampak lagi loading. Setelah ngeh, baru mbak kasir itu berbalik arah, ambil sebungkus surya 16. Dalam hati, perempuan ini mengutuk Migren karena telah membuatnya mikir hanya untuk perkara beli rokok.


"Ada lagi, mas?" Tanya kasir itu sambil scan produk.
"Bentar, mbak." Migren berjalan menuju aneka display etalase produk lainnya di sebelah kiri dari meja kasir.



Sebetulnya Migren nggak ada niat beli apa-apa selain rokok. Hanya saja, setalah ditanya kasir, mendadak Migren ingin sekalian membeli minuman.


Namun sebelum menghampiri barisan kulkas, biar agak lama, Migren lebih dulu menelisik etalase perlengkapan mandi. Berdiri, lalu jongkok, dan nggak jadi ambil apa-apa.


Migren bergerak sedikit ke kanan. Kini ia berdiri di depan etalase cemilan. Ambil ini, seperti meragu, lalu taruh lagi. Comot yang itu, sekian detik dipegang, ujungnya meletakan kembali ke tempat semula.


Setelah dirasa cukup, baru kemudian Migren berjalan pelan saja menuju kulkas di pojok sana. Menelusuri satu per satu, mengamati dulu dari kacanya sebelum mesin pendingin itu ia buka. 


"Jangan teh, barusan minum itu sama Vira." Batinnya.


Mbak kasir menanti dengan sabarnya, yang palsu. Karena dalam hati, kasir ini mengumpati Migren yang lambat memilih belanjaan, kayak siput. Sementara itu, Migren telah membulatkan tekad untuk ambil botolan kopi instan. 


Bergegas ia kembali ke mbak kasir yang tiada banding indahnya. "Ini, mbak." ucap migren, meletakan botol itu di meja. 


Dengan gesit mbak kasir itu scan lagi, menyebut total pembayaran, dan menerima uang 100 ribuan dari Migren. Dengan cekatan mbak kasir itu menghitung sejumlah uang kembalian. 


Menyerahkannya ke Migren, beserta struk belanjaan. Mbak kasir menyodorkan kembalian, lalu migren menyambutnya.


Peristiwa serah terima uang kembalian, jika dilihat sebagaimana umumnya, sebetulnya itu hal remeh. Namun, khusus kali ini, Migren memandang dari sudut yang berbeda.


Insiden bersentuhannya permukaan kulit dua manusia berlainan gender ini, memicu getaran janggal di batin. Migren nggak mau langsung menafsirkan itu apa, tapi agaknya dia tahu kejanggalan ini datang dari jenis yang mana.


"Ingat vira!" Seperti ada yang membisikinya begitu, secepat kilat Migren membuang perasaan aneh tadi.


Migren masih berdiri di depan meja kasir. Menghitung uang kembalian, pas. Lalu memasukan pelan-pelan ke dompetnya, "pelan biar lama aja."



Uang masuk ke dompet. Dompet masuk ke kantong. Kini di tangannya hanya tergenggam kertas struk belanjaan. Migren pandangi kertas itu dengan serius, membacanya. Mbak kasir menatap Migren dengan sorot mata penuh kejengkelan.


"Jeni, ya?" Ucap Migren, beralih memandang wajah kasir itu.
"Iya, betul, mas." Sambil mengangkat dan nunjukin Id Card yang menggantung di saku seragamnya.


"Aku lagi cari orang yang pinter ngitung duit, mbak."
"Hah? Maaf, maksudnya gimana, mas?"
"Mbaknya kan kasir, pasti pinter ngitung duit."


Sejenak Jeni a.k.a mbak kasir coba mencerna ke mana arah ucapan bedebah di depannya itu. "Ah, nggak juga sih, mas. Yang pinter ngitung duit, itu ini." ucap Jeni, menunjuk komputer.


"Lagian, mas. Saya kerja di sini juga karena..." Jeni menengok ke kanan kiri, lalu meneruskan ucapannya, "Tapi ini rahasia, ya, mas. Sini mendekat dikit, tak bisikin."


Migren nurut. Ia dekatkan telinganya hingga nyentuh plastik pembatas yang terbentang vertikal. Perlahan Jeni juga dekatkan wajahnya dari sisi seberang. 


Dalam hati, sekali lagi Jeni mendamprat pria itu, "Kapan mas-mas ini pergi, sih! Huh!" Sementara Migren, dalam hati ia menciptakan harapan muluk, "Liberal juga, dia. Baru kenal langsung main cium. Asik."


"Fak, lah! Lupakan vira sebentar. Ini dulu." seperti ada yang membisikinya begitu.


"...Karena orang dalam." Jeni lirih berucap. Lalu menjauhkan kembali wajahnya dari plastik pembatas.
"Udah, gitu aja?" Migren membatin, mati muda itu harapan.


Jeni kembali melempar senyum tipis dan mendarat di mata Migren dengan begitu estetis. "Itu manis." lagi, Migren membatin. 


Senyum itu serupa pupuk untuk harapan yang baru saja pupus. Migren jadi telat merespon tawa untuk jokes mbaknya yang, yaa, kira-kira begitu.


"Mbaknya menarik." ucap Migren, kembali ia melihat struk belanjaan tadi. Lalu melipatnya rapi, dan memasukannya ke saku kangguru jaketnya.


"Kayaknya aku bakal rutin ke sini, mbak."
"Wah, bos ku pasti seneng kalau mas sering belanja di Kelontong." Keduanya kompak tertawa bersamaan.


"Kita bisa ketemu lagi kan, mbak?" Kali ini ucapan Migren sedikit serius.
"Ini step terakhir." Migren membatin.


"Kayaknya nggak bisa, Mas." selalu, Jeni berucap sambil tersenyum.


Sebelum sempat Migren bertanya kenapa, percakapan terpaksa mandeg sebab pintu Kelontong didorong. Berjalan seorang pria, ia langsung menghampiri kasir. Tampaknya pria random itu mau beli pulsa.


"Sialan! Ganggu saja si kunyuk ini." Migren mendampratnya dalam hati. 


Menyingkir dengan terhormat, lalu melangkah pergi meninggalkan Jeni tanpa permisi. Sementara menunggu kunyuk itu keluar dari minimarket, Migren mengisi waktu dengan membakar sebatang rokok.


Pria tadi tak lama kemudian pergi. Tapi saat pria itu baru pegang gagang pintu, datang satu lagi motor yang lain. 


Kali ini sepasang kekasih. Keduanya sempat cekcok sebelum akhirnya masuk ke minimarket. "Beli kondom, pasti." Migren suudzon.


Entah mengapa, Migren merasa mas-mas kunyuk pembeli pulsa pulsa tadi adalah Jin penglaris minimarket ini. Sebab setelahnya, selalu datang dan pergi pembeli-pembeli berikutnya. 


Tak tahan menunggu lebih lama, Migren putuskan melesat jauh mengendarai motornya.


"Semoga nomormu dijadiin kontak darurat pinjol, mas-mas pembeli pulsa sialan!" Sumpah serapah berkali-kali Migren teriakan di jalan menuju pulang.


- selesai


..... BAB 2 Rilis 24 September 2022 .....

BAGIKAN TULISAN INI JIKA MENURUTMU MENARIK!


Posting Komentar

0 Komentar