Museum Gitar Kopong #2

Dia kalau disuruh ngomongin Kurt Cobain, pasti matanya berbinar-binar. Pernah suatu kali dia kenalan sama orang asing yang ternyata sama-sama penikmat musik rock. 

Terjadilah diskusi menyenangkan antara keduanya, ngomongin konspirasi kematian rockstar yang agung.

Apakah benar Kurt matinya murni bunuh diri? Atau dia dibunuh Cortney Love, istrinya? Atau dibunuh record label yang menaunginya demi kepentingan menciptakan nabi baru? 

Atau dia dibunuh CIA? Atau jangan-jangan Kurt masih hidup, memilih meninggalkan popularitas dan menjadi seorang biksu? Sayangnya, keduanya nggak bisa memastikan mana yang fakta dari teori-teori yang mereka obrolin.

*****

Puas sudah, dia beralih memandang stiker lain. Kali ini stiker berbentuk persegi panjang, berwarna hitam dengan logo monogram sebuah brand distro yang sempat beken di kota asalnya, jaman SMP dulu. 

Dia bukan maniak pemuja trend. Sebaliknya, dia cenderung membenci segala yang lagi hype, yang dikonsumsi mayoritas. Jadilah ketika brand tersebut produknya nyaris dipake oleh semua remaja seusianya, dia masa bodo. 

Karenanya, melihat stiker itu, nggak banyak rasa yang muncul. Satu pengecualian, adalah cerita bagaimana dia dapatkan itu stiker. Saat SMA, dia sempat kerja magang di percetakan digital printing. Dari tempat kerjanya itulah, stiker brand distro tersebut, dia menjarahnya.

Semula stiker itu tersisih, dibuang dalam keadaan mengenaskan ke sebuah kardus di pojokan. Stiker itu disingkirkan karena cacat sebagai produk. 

Agaknya pekerja finishing percetakan ketika sedang memotongnya tak sengaja melakukan mal praktik sehingga beberapa dari stiker brand itu dianggap nggak layak diserahkan ke klien.

Daripada tetap ngasih produk mal praktik itu ke klien yang berpotensi merusak reputasi percetakan, mending dibuang saja. Toh cuma dua tiga buah stiker aja. Begitu mungkin yang ada di pikiran para pekerja finishing waktu itu.

Mereka, stiker apes mal praktik itu, tersingkir dari gelanggang stiker unggulan. Jelas, stiker itu sudah nggak punya lagi harapan untuk eksis, untuk dipamerin muda-mudi hits yang beli baju distro, terus dikasih bonus stiker brand itu. 

Yang nantinya, stiker bonusan itu bakal nempel di helm muda-mudi hypebeast tersebut.

Disaat stiker itu sedang terpuruk, mempertanyakan takdirnya 'mengapa aku dicetak kalau nggak layak ditempelin', datanglah orang itu. Seseorang dengan kemuliaan yang luhur, menyelamatkan mereka dari penderitaan.

Dia memungut stiker-stiker hopeless itu, memberikannya ruang di gitar kopongnya sebagai tempat mereka mengekspresikan eksistensinya.

"Nggak ada seni yang nggak pengin dirayain, Ker." Kayak gitu mungkin jika ada dialog antara dia dan stiker rejected.

******

Lebih kurang cuma tiga bulan dia magang di situ. Memang banyak kerjanya yang nggak becus. Sering bikin kesalahan, yang nggak fatal-fatal banget, tapi tetap kena omelan pak bos yang lotnok. 

Meski begitu, ada manfaat yang didapat dari pengalaman singkat. Selain menjarah stiker, ilmu-ilmu industrinya juga dicuri olehnya.

Jika mencuri stiker outputnya sebatas ditempelin di gitar kopongnya, lain hal dengan ilmu. Semua yang dipelajarinya, dia praktekan setelah selesai magang. Bikin bisnis kecil-kecilan : jasa desain dan percetakan.

Untuk membuat orang-orang sadar akan keberadaan unit bisnisnya, dia cetak stiker promosi yang mencantumkan jasa yang ditawarkan. Stiker itu ditempel di tembok depan rumah. 

Dengan begitu, tetangga kanan kiri yang lewat depan rumahnya, bisa ngeh kalau semisal mau cetak produk entah spanduk atau sejenisnya, hubungi saja dirinya. Taktiknya itu terbilang berhasil diawal.

Dia menjembatani tetangga yang ingin bikin spanduk atau produk printing lain dengan pihak percetakan, setelah sebelumnya bersepakat soal harga.

Untuk sekian waktu, dia berjaya dari bisnisnya. Sebab dia melakukan mark-up gila-gilaan.

"Bisnis itu...." ucapnya suatu kali pada seseorang,"Itu modal sekecil-kecilnya untung sebesar-besarnya." Kapitalis kelas coro memang, dia.

Tapi ya, namanya juga bisnis. Kalau kata jason ranti dalam lagu Blues Lendir, "Tak setiap hari bisnis berjalan mulus bagaikan lintasan Tamiya Di betis mahasiswi S1 yang diam-diam mencari rejeki tambahan Di hotel bilangan Dharmawangsa." 

Yah, sebab tak lama setelahnya, bisnis itu gulung tikar. Klien nggak pada mau repeat order. Wajar, sih.