Mencari Sisir Sampai Ke Negeri China



Semenjak rambutku kelihatan gondrongnya, aku kepikiran beli sisir. Bukan karena nggak punya. Punya. Cuma sisir lama secara fungsional sudah nggak rilet sama bentukan rambut. Anu, jarak spasi antar gerigi dirasa terlalu sempit. Tiap pake itu sisir, banyak korban rambut yang rontok berjatuhan.

Kan kasian. Mereka sudah harus mati padahal baru sebentar bahagia karena ngerasain sensasi berkibar-kibar disenggol angin. Melihat banyaknya rambut berguguran, nurani keadilanku terpanggil. Nggak tega rasanya diam membiarkan mereka dirampas haknya hanya karena bergesekan dengan sisir sialan.

****

Perihal sisir, bagiku dulu ia cuma piranti biasa yang minim guna. Maksudnya, ada nggak ada itu benda, nggak jadi perkara. Sekalipun memang ada, benda itu lebih sering dianggurin. Njogrog di pojok lemari, tak tersentuh, apalagi dipergunakan. Seolah sisiran itu ilegal.

Itu, sebelum datang ancaman kerontokan. Sadar akan bahaya laten yang mengancam, rambut ini menuntutku melakukan perubahan perilaku. Dia melayangkan gugatan padaku, "Jika kau nggak mau menyisirku, kupastikan kenyamananmu bakal terganggu oleh invasi rasa gatal dan sumpek yang menyebalkan." 

Demi kenyamanan, jelas gugatannya layak diseriusin. Untuk memblokade rencana jahat si sumpek gatel, kukira perlu melegalkan sisiran sebagai normal yang baru. Dan untuk memanjakannya, sisir yang layak dirasa urgen untuk segera dibeli. Tapi, di mana tempat yang jualan sisir? 

Satu masalah krusial yang cukup membingungkan. Aku sama sekali nggak punya referensi di mana tempat jualan sisir. Tapi tenang, pasti ada jalan keluar. Untuk mengurai kebingungan, aku bertanya kepada seorang kawan. Dia menyarankan cari saja di swalayan. 

Kuakui, itu saran memang mencerahkan. Meski sekaligus meragukan. Ya kali ke swalayan cuma beli sebiji sisir. Apa dikata mbak kasir? Terpaksa, dengan segala hormat, saran itu urung kulakukan. 

******

Sejalan dengan berlalunya waktu, agenda beli sisir baru sempat terlupakan. Ketimbun rutinitas harian yang absolut monoton. Terlebih, sepanjang ramadhan kemarin, aku disibukan dengan project kecil-kecilan untuk ngisi waktu yang kelewat luang. 

Tiap sore menjelang buka, aku muter-muter nggak jelas tanpa tujuan. Sekedar cari angin, sekaligus mengamati spanduk-spanduk pertokoan yang berjejer di pinggir jalan. Setiap lagi mengamati, selalu ada kelucuan yang kutemui. Bagiku, ini jenis hiburan yang menggembirakan. Boleh juga dibilang semacam healing, kalau kata anak jaman. 

Setelah puas mengamati spanduk, tiba-tiba di pikiran memunculkan ide yang brilian. Ide itu muncul untuk merespon fenomena sosial yang lazim ditemui tiap ramadhan : menjamurnya penjual es buah di pinggir jalan. Nah, aku tertarik untuk menghitung ada berapa banyak sih yang jualan es buah. 

Tentu, ini menarik untuk ditelisik. Cuma sayangnya aku gagal mengantongi angka pasti. Baru kehitung beberapa, mendadak angka itu kelupa karena konsentrasi dibuyarkan oleh spanduk lucu yang menyedot perhatian mataku. Kan sialan! 

Padahal jika aku teliti menghitungnya, kupikir aku bakal jadi orang pertama dan satu-satunya yang berhasil menguak fakta di balik fenomena tahunan ini. Ah, sangat disayangkan. Sudahlah, mungkin coba lagi tahun depan...

Menjelang ramadhan berakhir, sebagaimana umat perantauan pada umumnya, aku punya keharusan mudik pulang kampung. Ringkas cerita, malam setibanya di rumah, kembali aku diingatkan bahwa aku punya tanggungan belum beli sisir. Kurang ajar!!

******

Selama di desa, sesekali pertanyaan 'kapan dan di mana beli sisir' muncul di pikiran. Tiap malam, pertanyaan itu datang. Tiap dia datang, berkecamuk itu pikiran. Pertanyaan itu bikin pusing. Dia baru berhenti mengacau setelah aku ketiduran.

Sampai suatu saat wangsit kudapat, semacam solusi yang mungkin bisa pecahkan peliknya permasalahan. Aku baru ingat, biasanya, di warung-warung kelontong suka ada sejenis pajangan yang isinya aneka mainan. Aku nggak tahu apa namanya, yang jelas bentuknya mirip lotre cabut. 

Kupikir, di tempat seperti itu, barangkali di sana bisa kutemui dia, si bedebah sisir! Segera kuatur waktu, besoknya, aku bakal melakukan ekspedisi. Menyatroni tiap warung kelontong untuk mencari harta karun one piece sebiji sisir.

*****

Warung pertama. Dari kejauhan terlihat produk aneka mainan semacam lotre cabut, itu ada. Tanpa ragu, kuparkirkan motor. Nyelonong masuk. Menggeledah barang tersebut. Dengan jeli kucari itu sisir, tapi sayang, hasilnya nihil.

Ibu pemilik warung sedari tadi mengawasiku di balik etalasenya. Karena kadung mampir dan menggeledah dagangannya, nggak sopan rasanya langsung pergi tanpa terlebih dahulu menanyakan keberadaan barang yang kucari.

Dengan memasang gestur mikir layaknya patung socrates, ibu pemilik warung itu ngendiko, "sisir, ya? Emmm, kayaknya nggak ada mas." Sudah tahu!

Karena kadung mampir, menggeledah dagangan dan menyita sekian detik waktunya, sebagai reward untuk beliau, kubeli sebungkus rokok minak djinggo dari warungnya. Terima kasih telah melayani pembeli dengan tidak memasang muka mbesengut. Respect!

Pencarian berlanjut. Warung kedua, lokasinya hanya berjarak sekian meter dari sebelumnya. Kali ini aku ganti strategi, Nggak lagi turun dari motor dan mampir ke warungnya. Aku cuma sekilas melihat dari kejauhan. Berlalu lewat dan secepat kilat ambil kesimpulan, "nggak ada juga di sana."

Kurasa dua warung cukup. Kupikir tiada guna menyatroni untuk ketiga kali. Dan kuanggap, misi mencari sisir kali ini, gagal. Dan kegagalan ini, sejujurnya, bikin aku sedikit putus asa. KE MANA LAGI HARUS KUCARI KAMU, SIR SU!

*******

Tahukah, kau, gimana sedihnya aku ketika hari raya tiba, di mana semua orang merayakan dengan gembira, tapi aku masih kepikiran karena sisir belum kebeli. Hari di mana orang seusiaku mengeluhkan betapa menyebalkannya ditanya kapan nikah sama sanak saudara. Sedang aku, nyaris gila digerogoti pertanyaan nggateli, "kapan beli sisir?"

Rasanya, seolah itu sejenis pertanyaan eksistensial yang khas menghinggapi muda-mudi 21 guns yang sedang mengalami fase quarter life crisis. Jenis pertanyaan yang bila telat dijawab, mendatangkan penyesalan di masa depan 

Tentu aku nggak sudi seumur hidup membawa beban penyesalan masa lalu. Dan jelas aku nggak mau, di masa tua nanti, apalagi pas menjelang mati, tiba-tiba muncul lagi itu pertanyaan nggateli : KAPAN BELI SISIR??? Hih, itu ngeri! 

Maka, selagi muda, aku nggak mau buang waktu dengan memikirkan hal yang nggak perlu. Segera setelah pertanyaan KAPAN BELI SISIR itu muncul lagi siang sehabis bersilaturahmi, kujawab tanpa sedikitpun keraguan, "SEKARANG!!!!"

Dan berselancarlah aku mengarungi luasnya marketplace orange. Mencari di situ, kurasa sudah pasti ketemu. Kuketik keyword sembarang di kolom pencarian, "sisir rambut lebar." Muncul seabrek foto produk dilengkapi titel sekaligus harganya. 

Produk yang muncul teratas, memancing tawa : sisir kutu elektrik. Aku masih mikirin gimana bentuk kutu elektrik itu. Lalu disebelahnya, produk dengan nama sisir lipat besi butterfly. Kupu-kupu besi? Besi lipat? Kupu-kupu kelipat sisir besi? Duh, apalagi ini??? Sisir jaman sekarang makin aneh-aneh aja, yaaa. Dan jelas, dua produk sisir itu menarik di imajinasi, tapi tidak untuk dibeli. Ngapain?!!

Aku terus scroll sampai akhirnya ketemulah tipe sisir yang cocok untuk rambutku. Kulihat harganya, murah. Cuma sebelas ribuan. Juga, sekilas lihat bentukannya, kurasa sisir ini agak sedikit artsy. Terlihat beda dari sisir punya ibuku. Tak perlu mikir lagi, langsung kubeli dan yah, lega rasanya. Berakhir sudah pencarianku. 

Kini aku tenang. Terbebas dari pertanyaan yang membebani pikiran. Sekarang, aku hanya perlu menunggu sisir itu nyampe di kosan. 

*******

Seminggu setelah lebaran, aku balik ke perantauan. Kupikir sesampainya di sana, sudah kutemukan bungkusan paketan tergeletak di samping parkiran kendaraan. Ternyata nggak ada. 

Aku sempat mikir positif, "mungkin sellernya masih libur dan belum ngecek orderan." Tapi aku nggak betah berbaik sangka gitu. "Pasti belum dikirim karena sellernya males ngurusin orderanku yang cuma beli sebiji sisir!" 

Seminggu kemudian, sekitar tanggal 10 Mei, karena paketan belum datang, didorong rasa penasaran, aku cek marketplace-nya. Terlihat icon pick up yang di pojoknya ketempelan angka satu dalam lingkaran warna orange. 

"Sudah dikirim rupanya." batinku. 

Itu icon aku klik. Di situ keterangan : order tanggal 5 Mei. Pesanan kira-kira sampai tanggal 25 Mei. Sedikit heran, mengapa estimasinya selama itu? 

Hanya ada satu kemungkinan yang kupikirkan. Untuk memastikan, perlu kubaca informasi pengiriman. Dan benar dugaanku, per tanggal 10 Mei, tertulis di situ : paket telah tiba di pusat penyortiran di Yiwu.

APA KATA MBAK KASIR?!!!