Kurungan Penderitaan - Kajian Lirik (4/30)



Yang ikonik dari lagu Man In The Box menurutku adalah intronya. Nadanya terus nempel di telinga sejak kali pertama mendengarkan. Meski jauh hari sebelumnya saya pernah dengar sebuah lagu, yang intronya, sedikit banyak punya kemiripan sama Man In The Box. Lagu yang kumaksud judulnya Neraka Jahanam, dinyanyikan oleh band rock lawas tanah air, Boomerang

Man In The Box merupakan lagu kedua dalam debut album Alice In Chains yang rilis tahun 1990, dengan judul Facelift. Alice in Chains sendiri sering dianggap sebagai band pengusung Seattle Sound atau Grunge. Saya kenalan sama Alice in Chains bermula ketika kupingku lagi kecanduan sound-sound kasar dan mentahnya Nirvana

Langsung saja, Mari kupas liriknya. Sejujurnya saya masih sedikit bingung mengenai makna ini lagu. Nggak paham dan ngerti sepenuhnya. Beberapa referensi mengatakan kalau ini lagu ngomongin soal aturan sensor yang diberlakukan industri media. Aturan sensor yang membatasi dan memberedel karya-karya yang dianggap kurang pantas ditayangkan ke pemirsa. Ya biasanya disensor pake bunyi-bunyian, "Tittttttttttttttt".

Aturan sensor yang diangkat dalam lagu Man In The Box liriknya banyak memakai metafora berupa kekejaman terhadap hewan. Maksudnya, penyensoran digambarkan layaknya hewan yang disiksa (dari sudut pandang hewan) untuk dijadikan makanan manusia. Masih bingung? Jadi, begini asal mula cerita soal liriknya...

Suatu hari, personil Alice in Chains diundang makan malam bareng eksekutif di perusahaan rekaman yang mengontrak mereka. Mungkin mau ngobrolin soal album atau entalah, nggak ikut soalnya. Singkatnya, diantara beberapa eksekutif tersebut, salah satunya ngaku seorang vegetarian. 

Si vegetarian ini kemudian cerita ngalor ngidul sampai akhirnya obrolan menyenggol soal bagaimana eksploitasi yang dilakukan manusia kepada seekor anak sapi. Dikisahkan olehnya, bahwa anak sapi ini dikurung atau dipelihara di dalam sebuah wadah atau kotak atau kandang berukuran kecil. Di sana, anak sapi tersebut hidupnya hanya semacam persiapan untuk dijadikan daging sapi muda, yang akan disajikan di restoran. 

"Macam di restoran ini", katanya. Mungkin, si anak sapi ini sudah tersiksa sedemikian rupa sejak menempati kadang kecil itu. Siksaan ini belum seberapa. Siksaan itu cuma batu lompatan menuju siksaan lain yang lebih mengerikan. Dia sekarang lagi nunggu dibunuh, dicincang habis untuk dijadiin makanan manusia. 

Dari hewan, oleh manusia, untuk manusia. Begitu kiranya. Mendengar ceritanya mas-mas vegetarian itu, Layne Staley dapat inspirasi. Lirik lagu Man In The Box yang sebenarnya sudah selesai ditulis, kembali disempurnakan lagi olehnya. Format final liriknya, dibikin seolah-olah kata dari lirik tersebut adalah ratapan anak sapi yang lagi menanti giliran mati. 

Dengan kata lain, subjek yang lagi bercerita dalam lagu Man In The Box adalah si anak sapi. Awalnya, saya sempat meragukan. Masa iya, lirik Man In The Box itu metaforanya anak sapi yang meronta-ronta? Tapi, kebingungan itu berlangsung sebentar. Setelah nonton ulang video klipnya, barulah dapat pencerahan, "ooh, ini maksudnya".

Dalam video klip tersebut, ditampilkan personil Alice in Chains lagi nge-Jam di kandang sapi (sepertinya). 

Sepanjang scene, beberapa kali dimunculkan seseorang dengan jubah warna hitam yang berkeliaran di sekitar kandang. Sosok berjubah ini keliling dari sudut ke sudut. Dia kemudian menemukan seorang pria (Layne Staley) yang lagi duduk frustasi di pojokan. Sosok berjubah ini lalu menyorotkan cahaya senter yang digenggamnya ke wajah Layne. 

Kemudian, di scene akhir, mas-mas berjubah menyingkap tudung yang nutupin wajahnya. Ketika jubah tersingkap, diperlihatkan matanya mas-mas berjubah itu yang ternyata penuh dengan jahitan. Lirik "Feed my eyes, now you've sewn them shut" mengiringi adegan itu. Seakan ngasih penjelasan mengapa matanya dijahit rapat. 

*****

Saya coba mengiyakan lagu ini ngomongin aturan sensor. Itu masuk akal. Tapi, agaknya saya lebih sreg sama interpretasi yang lain. Menurutku, yang menjerit di lagu Man In The Box, itu penulis liriknya, yakni Mas Layne Staley. Batinnya menjerit sebab nggak kuat nanggung rasa sakit kehidupan. 

Sekilas info, Mas Layne, dia itu pemadat. Pecandu narkoba varian heroin. Layne Staley pernah coba direhabilitasi. Tapi, nggak lama setelahnya, balik lagi jadi pecandu. Sampai akhirnya 5 April 2001, tanggal yang sama seperti tanggal di mana Kurt Cobain bunuh diri, Layne Staley pun menyudahi hidupnya. Semua rasa sakit sudah selesai. 

Selang beberapa hari, jasadnya baru ditemukan dengan kondisi yang mulai membusuk, terbujur di atas sofa rumahnya. Layne dinyatakan tewas karena overdosis sebab di sekitar jasanya ditemukan beberapa perlengkapan memakai narkoba.

"I'm the man in the box // Buried in my shit // Won't you come and save me? // Save me". Terlihat bagaimana Mas Layne mengungkapkan penderitaannya. Tentang betapa sulitnya menyelamatkan diri sendiri dari jerat narkoba. Narkoba yang mungkin semula dia pikir bisa sedikit bikin bahagia, nyatanya, berujung mengurung dirinya dalam derita. 

Lirik di atas cukup jelas ke mana arahnya. Dia terkurung penderitaan. Dia bertanya, adakah seseorang sudi untuk datang dan selamatkan diriku? Bisakah seseorang bebaskan diriku dari belenggu yang menyiksa jiwa?

"Feed my eyes (Can you sew them shut?) // Jesus Christ (Deny your maker) // He who tries (Will be wasted) // Oh, feed my eyes (Now you've sewn them) shut". 

Jawaban dari pertanyaan sebelumnya : nggak ada yang bisa selamatkan dia. Bahkan, dirinya sendiri, nggak punya daya kuasa. Dia mencapai titik kejenuhan frustasinya. Ketika berada di titik terendah, satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan, ya siapa lagi kalau bukan tuhan. Jesus Christ...

Sedikit gambaran, bagian lirik ini, dinyanyiin oleh dua vokalis. Vokal utama yang tanpa tanda kurung. Sedang backing vokalnya yang ada tanda kurung. Lirik tanpa tanda kurung, itu adalah suara permohonan. Sedangkan lirik dengan tanda kurung, adalah suara yang menyangkal permohonan tersebut. Jadi ada semacam pertarungan dalam batin antara dua suara itu.

Suara permohonan mengatakan, "Tolong kasih aku pencerahan. Tolong berikan petunjuk keselamatan, tuhan". Namun, permohonan ini disangkal suara lain, "Kamu mana mungkin mendapat cahaya. Hidupmu gelap. Terlalu gelap dan tuhan nggak berpihak!".

Kira-kira, suara mana yang menang? Satu suara perlambangkan keoptimisan hidup. Sedang suara yang lain, mewakilkan pikiran untuk mati. Di satu sisi, Layne Staley masih percaya kalau dirinya punya secercah harapan kesembuhan dari kecanduan. Namun di sisi lain, agaknya dia meragukan. 

Keraguannya terlihat jelas dalam lirik, "dia yang mencoba bakal sia-sia". Ya, kadung kecipratan, basahin saja sekalian. Terlanjur basah, sekalian tenggelam. Sudah tenggelam, sekalian ucapkan selamat tinggal. Selesai, kan?