Meratapi Nasib Kawan Masa Kecil - Kajian Lirik (1/30)



Ketika saya mendengar intro lagunya, bayangan suasana masa kecil dihadirkan dalam frame sedikit buram. Bayang tersebut, makin menguat dan makin jelas kelihatan, sejalan dengan rhytem gitar distorsi tipis-tipis. Menyuguhkan Theater of mind tersendiri. 

Berselang sepuluh detik, secara beriringan menyusul hentakan drum, betotan bass, juga melodi gitar sedikit kasar. Perpaduan irama yang selaras, membuat jempol kaki kiri dan kepala gerak-gerak sukarela. Automatic headbang. 

Melodi intro lagunya cuma dua putaran. Selanjutnya, kita diantar menuju verse pertama. Oh iya, lupa. Lagu yang kumaksud, judulnya The Kids Arrent Alright. 

Lagu ini menempati track ke-5 di dalam album studio yang ke-5 juga, milik The Offspring, dengan judul Albumnya Americana. Kita tengok sebentar album Americana. Album ini digarap Juli 1998. Empat bulan kemudian, ia dirilis pada November 1998. 

Tematik lirik album ini secara umum hendak menyoroti lifestyle muda-mudi Amerika era 90-an. Album ini mengkritisi budaya negara sendiri, yang bikin anak muda di sana nggak bahagia. Album Americana berisi 13 lagu. Tiga diantaranya, dijadiin single hits album.

Tiga lagu tersebut : Pretty Fly (for a white guy), Why Don't You Get a Job? dan The Kids Arrent Alright. Saya sudah dengerin ketiga lagunya. Bagiku, lirik ketiga lagu tersebut memuat unsur komedi yang kental. Kayak semacam ngetawain ironisnya kehidupan. 

Pretty Fly, dengan gaya bahasa yang indah tapi sarkastik, ngetawain orang-orang yang ikutan trend biar kelihatan keren. Cuma ikut-ikutan, nggak ngerti esensinya. Niatnya pengin keren, tapi kelihatan norak.

Kemudian lagu Why You Dont Get A Job, menceritakan tentang pasangan yang parasit. Orang yang gayanya selangit, tapi ekonomi sulit. Alhasil untuk memenuhi hasratnya pada kemewahan, dia manfaatin pacarnya. Menukar cinta palsunya demi harta. Kocak sekali lagu ini.

Berikutnya, single hits ketiga, The Kids Arrent Alright, kita bahas secara spesifik dalam artikel ini. Ceritanya, Vokalis The Offspring, Mas Dexter Holland, mudik ke kampung halamannya di distrik Garden Grove, California. Dulu banyak moment indah tercipta di sana, tempat kelahirannya.

Dia keinget teman-temannya. Ingat gimana mereka dulu sering bersama. Tapi, kini mereka sudah jauh beda. Dan Holland sedih, juga resah, demi mengingat bagaimana nasib kawan-kawannya sekarang. Dia pikir, anak-anak itu, yang lahir dan besar di negara semaju Amerika, mestinya punya masa depan cerah. 

Tapi nyatanya nggak gitu. Kenyataan yang dia lihat di kotanya, berbanding jauh dari bayangan idealnya. Di sini, di kota kelahiranya, anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan dihancurkan kehidupan. Banyak muda-mudi yang akhirnya kesasar, terjebak dalam problem-problem sosial yang pelik dan mengerikan.

Permasalahan yang jadi langganan di sana, diantaranya : hamil di luar nikah, pengangguran, overdosis narkoba, dan suicidel. Holland merenungi kenyataan pahit tersebut, untuk kemudian dia presentasikan ke dalam lagu berjudul The Kids Arrent Alright. Lewat lagu ini Holland ingin menegaskan, "Lihat, mereka nggak baik-baik saja, hei!".

Bagiku, lagu ini cukup menarik. Selain karena nadanya asik, juga, pov yang disajikan terasa begitu unik. Sudut pandang penceritaan lagu ini, ialah orang pertama, yakni Aku yang lagi menggerutui nasib naas kawan-kawan masa kecilnya. Verse pertama coba menghadirkan gimana masa lalu mereka, pas masih kecil.

When we were young, the future was so bright
The old neighborhood was so alive
And every kid on the whole damn street
Was gonna make it big and not be beat

Anak-anak tersebut dulunya punya mimpi-mimpi. Mereka begitu yakin masa depannya bakal cerah. Di masa depan, mereka akan jadi orang besar, generasi penerus yang hebat-hebat, nggak terkalahkan. Pertemanan mereka begitu akrab. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Ngumpul, ngobrol ngalor ngidul di basecamp mereka. 

Pertemanan yang indah, menyenangkan dan ada nyawanya. Tapi, ini cerita jaman dahulu. Sekarang? Yaa, gitu...

Now the neighborhood's cracked and torn
The kids are grown up, but their lives are worn
How can one little street swallow so many lives?

Kamu ngerti betul gimana mereka dahulu. Betapa ceria dan bahagianya mereka, anak-anak itu. Tapi lihat, sekarang, mereka sudah berubah. Mereka sudah dewasa. Nggak ada lagi hari-hari di mana mereka menghabiskan waktu bersama. Nggak ada lagi keakraban diantara mereka.

Kini mereka punya kehidupan dengan segala macam varian permasalahan, yang nggak selesai-selesai. Mereka kesasar di simpang jalan yang hitam. Yang gelap, dan mengerikan. Mengakrabi hal-hal yang menawarkan keindahan semu, yang lambat laun, itu mematikan potensi, mimpi-mimpi, dan masa depan anak-anak tersebut.

Mereka kalah telak. Kenyataan mempecundangi mereka. Si aku, yang lagi cerita di lagu ini, kesalnya bukan main. Dia nggak bisa terima kenyataan ini. Nggak habis pikir dia, mengapa bisa banyak dari kawannya, yang berakhir dengan nasib menyedihkan seperti ini? Why?

Chances thrown
Nothing's free
Longing for used to be
Still it's hard, hard to see
Fragile lives
Shattered dreams (Go)

Bagian reff boleh dikatakan full gerutuan. Terasa betul kemarahan aku. Si aku marah karena dia tahu, banyak dari kawannya punya potensi dan kesempatan jadi orang hebat. Tapi kenapa sekarang mereka jadi begini? Kesempatan tersebut, terlempar entah ke mana. Sialan! 

Mereka sulit lepas dari belenggu penderitaan. Mereka nggak bisa balik lagi ke jalan hidup yang lebih baik. Hidup mereka berantakan. Mereka, dipaksa untuk melepaskan, merelakan, melupakan dan membunuh semua mimpinya. 

Dan, yaa kan, "Hidup ini bajingan dan aku dipaksa menikmatinya", gitu, judul bukunya Puthut Ea dan Gindring Wasted.

Jamie had a chance, well she really did
Instead she dropped out and had a couple of kids
Mark still lives at home 'cause he's got no job
He just plays guitar and smokes a lot of pot
Jay commited suicide
Brandon OD'd and died
What the hell is going on?
The cruelest dream, reality

Bagian lirik ini, bisa kamu rasakan tiap-tiap hurufnya. Denger lirik di atas, bikin hati berdarah-darah. Memilukan rasanya. 

Mungkin, nama-nama di atas sekedar fiktif. Sekalipun begitu, jelas, problem yang dihadapi tokoh fiktif tersebut, itu nyata. Itu ada di sekitar kita. Mulai dari Mbak Jimi, Mas Mark, Kang Jay dan Kak Brandon, mereka dekat dan ada di sekeliling kita. 

Mungkin satu atau malah mereka semua, adalah representasi teman-teman kita sendiri.

Asumsiku, Mbak Jimi, mungkin dulu dia juara kelas. Pinter di sekolahnya. Dia dulu sebenarnya punya peluang jadi orang hebat di masa mendatang. Orang-orang yang mungkin saja akan jauh lebih memajukan negara dibanding para pendahulunya.

Tapi sial, nasib Jimi berakhir dengan dia di-DO dari sekolah lantaran hamil di luar nikah. Sejak hari itu, Mbak Jimi disibukan dengan ngurusin rumah tangga. Nikah dengan pacarnya dan jadi ibu muda yang keteteran ngerawat dan membesarkan anak. Duh, mbak Jimi...

Lain lagi dengan si Mark. Mungkin dia punya passion di dunia musik. Dia pengen jadi rockstar. Dia pengen ngejar mimpi-mimpinya. Kalau disuruh cari kerja sama orang tuanya, selalu dia jawab dengan, "I Hate Monday!". Dia nggak punya kerjaan selain diam di rumah, main gitar sambil ngeganja. Boleh dibilang, dia punya julukan sebagai beban keluarga. Investasi bodong, orang tuanya. 

Sementara si Jay, dia... Maaf, nggak bisa banyak cerita soal dia. Intinya, dia nggak kuat lagi nanggung rasa sakit dan deritanya. Sekarang, ada baiknya kita terbangkan doa-doa ke atas, untuk Kang Jay. Everyone Goes To Heaven, semoga.

Kak Brandon, dia jadi korban BD. Latar belakangnya saya nggak tahu pastinya. Mungkin, dia anak orang kaya yang cuma dikasih uang, tapi nggak pernah dipeluk dengan segenap kasih sayang. Dia merasakan sepi yang luar biasa, ditengah kemampuan nominal yang bisa dia pake untuk beli teman dan have fun.

Tapi mungkin beli teman nggak cukup untuk bikin dia tenang. Dia butuh sesuatu yang menenangkan perasaan. Yang bisa bikin dia lupa dengan segala masalah hidup yang menyebalkan. Dia pengin lari dari kenyataan. Ada BD lewat, nawarin barang. Singkatnya, barang itu dia sikat. 

Kini dia terjerat zat dan jadi pemadat. Pake narkoba tiap hari, dari dosis rendah sampai tinggi. Makin lama pemakaian, dosis terus ditambah biar fly-nya menembus nirwana. Karena ketingian, akhirnya OD dan ID, Is Dead. Rhyme in Peace, Brandon.

"Hidup macam apa ini? Ternyata, mimpi paling kejam, itu kenyataan. Sialan!!!", Kata si Aku, sambil nangisin teman-temannya.