Begini Cara Mainnya Perasaan Hampa



Sering saya mikir, "memang kalau nggak ngerokok, hidup bakal berantakan?". Ini soal adiksi. Saya benci adiksi ini. Sialnya, semakin kuat kebencian, semakin hebat keinginan putus dari ketergantungan, justru, semakin sulit rasanya melepas kecanduan. Love hate relasionship, begitu. 

Mungkin, keinginan berhenti memang beneran ada. Cuma sayangnya kekurangan tekad api konoha. Keinginan subur di dalam kepala. Bayang-bayang ideal, nggak pernah beneran diwujudkan sebagai nyata. Jadi mau sekuat apapun keinginan, kalau sebatas ingin, ya mana mungkin?

Di titik ini sebenarnya sudah kuketahui patternya, "kalau pengin berhenti merokok, ya cobalah untuk tidak merokok".

Yaa, sesimpel itu. Mudah sekali, bukan? Tapi, dalam prakteknya, apakah semudah itu? Tentu tidak! Nyatanya, sesuatu yang simpel, sebenarnya mengandung kerumitan. Hakikat dari simpel adalah kerumitan yang nggak kelihatan.

Mari kita tengok realitas. Kita bikin simulasi. Misal, pecandu rokok pengin berhenti merokok. Situasinya, di hari itu, dia masih punya beberapa batang tersisa. Mau nggak dirokok, tapi sayang. Dirokok, tentu menunda niatan. Ini baru langkah awal. Baru mau mulai. Sudah datang godaan. Duh!

Atau, ini mungkin karena timing mulainya kurang pas saja, ya? Dia pengin nggak ngerokok tapi masih punya rokok. Distraksinya tebal. Jadi, kemungkinan besar, pasti gagal. 

Tapi tapi, dia tetep pengin mulainya hari ini. Sebab kalau ditunda besok, belum tentu tekadnya sekuat sekarang. Jadi, biar tetep bisa mulai sekarang, dia pilih bakar rokok yang tersisa, sampai habis semua. Baru setelah itu, dia bisa fokus tirakat nggak ngerokok. 

Okelah, Kita coba maklumi apapun keputusannya. Meski, yaaa begitulah..

Persingkat, sekarang kita anggap dia sudah nggak punya rokok. Di tahap ini ada satu problem lain yang menanti. Yakni, dia nggak menyangkal, ada kemungkinan dirinya bakal berkeinginan beli sebungkus rokok lagi. Tapi, kayaknya kali ini tekad mampu kuatkan diri. Dia kesampingkan keinginan membeli rokok.

Dan berhasil! Berhasil sedetik pertama, maksudku. Ya, semua perokok pasti bisalah nahan keinginan ngerokok kalau cuma satu detik. Tapi, kalau semenit, gimana? Kemungkinan ya masih tahan. Level godaannya easy. Sepuluh menit? Emm, masih bisa sih, kayaknya. Sejam kemudian, gimana dia kabarnya? Agak ragu sedikit, saya. Mode pesimis menyala!

Soalnya, banyak faktor yang bakal jadi distraksi baginya. Kita coba ambil satu saja faktornya. Nanti, kamu bisa ngelihat, gimana faktor yang cuma satu ini, bakal jadi distraksi bercabang yang begitu mengerikan. Menyerang dalam senyap, dan dalam sekejap, gampang banget merobohkan dinding tipis tekadnya yang lonjong.

Misal, dalam kurun waktu sejam tersebut, dia nggak melakukan aktivitas yang berarti. Boleh dikata, dia punya banyak waktu luang. Atau kalau mau lebih kasar, ya bilang saja dia nganggur, begitu. Sebelumnya, kalau lagi nganggur begini, yang dia lakuin, ya bakar rokok. Apalagi, memang? Hanya itu. Tapi sekarang, bakar rokok hukumnya haram baginya. Jadi, gimana? 

Dia bingung. Dan sialnya, dasar sudah kecanduan ya, jadi, hasrat bakar dan hisap ini mulai naik meluap-luap. Nyaris merobek segel tekadnya. Biar nggak jebol, yang dia lakukan, adalah menekan terus hasrat tersebut ke alam bawah sadar. Sepersekian detik berhasil melemahkan hasrat itu. Namun, nggak lama kemudian, hasrat itu naik lagi. 

Hasratnya naik turun, fluktuatif. Cenderung agresif, macam harga koin crypto. Naik turunnya hasrat ini menghasilkan output yang sangat nggak enak rasanya. Apa itu? Kehampaan! Kehampaan ini, sungguh merupakan penderitaan yang mengerikan untuk dibiarkan hinggap dalam perasaan.

Kini dia harus hadapi lawan baru, ketika dirinya belum tuntas ngalahin lawan yang satu. Fokusnya kebelah jadi dua. Lagi-lagi bingung, mana nih yang harus duluan dia lawan? Hasrat yang merayunya makin kurang ajar, atau, kehampaan yang absolut mengerikan? Kepalanya bundet! Full time bingung!

Dua lawannya ini kemudian membentuk aliansi. Tambah ngeri mereka. Dan baginya, makin nyeri menghadapi. Pasukan aliansi bersiap menyerang. Tujuannya, merobohkan benteng tekadnya yang memang terbilang rapuh sejak dari awal. 

Perasaan hampa, berperan menyerang secara langsung dari depan. Karena si hampa tahu, pecandu pasti nggak berdaya melawan hampa yang ngeri tak terkira. Sebabnya jelas, si pecandu ini nggak pernah diajari gimana caranya mengatasi kehampaan. Nggak pernah ada silabusnya!

Sedang hasrat untuk merokok, perannya lain lagi. Awalnya dia kelihatan seperti musuh. Namun mendadak seolah-olah berlagak macam kawan. Dia menuju arah belakang. Bukan untuk menyerang, tapi lebih ke seakan-akan berdiplomasi mengajak perdamaian. Hasrat merokok bilang ke si pecandu, dia serius membantu pecandu untuk singkirkan kehampaan. Ya, bilangnya nolong, padahal mau nodong. Bermuka dua si hasrat sialan ini.

Tapi lihatlah gimana hasrat mainnya begitu halus. Memperdaya pecandu untuk menjabat tangan si hasrat. Si pecandu bukannya nggak sadar kalau hasrat, itu sebenarnya musuh. Tapi, dia dibikin seakan nggak punya pilihan lain selain merapatkan barisan ke hasrat. Sebab sebelumnya, yang dia tahu dan rasakan, hasrat merokok ini mampu jadi juru selamat ketika hampir dibuat sekarat oleh hampa. Kini pecandu terperangkap genjutsu!

"Rokok adalah juru selamat", itu sugestinya. Dan ini membuatnya mikir, bahwa nggak ada lagi pilihan lain yang lebih make sense. Berjabat tanganlah dia dengan hasrat. Berkoalisi jadi satu, perlahan lupakan tekad. Tekad jadi layu. Tapi, keuntungan dari mengorbankan tekad, adalah dia berhasil mengalahkan kehampaan. Yaaa, setidaknya begitulah yang kini dia rasakan.

Dibakar, dihisap dan dihempaskan kehampaan tersebut. Sedikit lega sedikit tenang. Namun, sepersekian detik kemudian, kesadarannya muncul, "Heh! Kamu salah ngambil tindakan! Cara ngatasi kehampaan bukan dengan memberi makan si hasrat sialan itu, tolol!". Sadar, tapi cuma sebentar. 

Karena kesadaran macam itu, baginya, hanya akan melahirkan perasaan kalah. Jelas dia nggak mau merasa kalah. Orang dia sudah deklarasi kemenangan melawan kehampaan! Peduli setan kalau sebenarnya dia kalah sama hasrat! Yang penting, dia nggak merasa hampa. Itu dulu! Dan kesadaran tersebut masih berupaya menyeruak ke permukaan. Mencoba melepaskan si pecandu dari genjutsu. 

Tapi, kombinasi antara pecandu dan hasrat, membangun pertahanan yang solid dan kuat. Semakin kesadaran itu naik, semakin sering pula keduanya menekan kesadaran turun ke bawah. Cara menekan kesadaran tersebut, adalah dengan memperbanyak lagi menghisap rokok. Satu batang dicungcek, batang rokok lain dibakar lagi sepersekian menit berikutnya.

Semakin banyak rokok terbakar, semakin tipis kehampaan, semakin lenyap itu si kesadaran. Singkatnya, dia merasa menang. Ya, menangnya cuma di perasaan. Tapi di dalam pikiran, dia nggak bisa mengelak, kalau sebenarnya, dia kalah telak. Dan kekalahan kali ini, memaksanya untuk memulai lagi memutari pola lingkaran setan, dari awal. Yakni, dari tahap ngumpulin niat. 

Perjuangan masih panjang. Udud dulu, kamerad :(