Memangkas Jalan Buntu



Ini kesekian kali, upaya serius ia kerahkan, demi merampungkan naskah tulisan. 

Sudah sedari tadi lembar notes terbuka tak tersentuh di layar ponselnya. Terlalu lama ia pandangi lembar kosong dengan tatapan yang sama kosongnya. Keadaannya, ia rasa mirip seperti Jackson Pollock yang gemetar, tak berdaya di hadapan kanvas lukisnya. 

Ia tak mau biarkan keadaan begini berlarut-larut. Sama sekali tidak! Ia harus memenangkan pertempuran merampungkan naskahnya sendiri, entah bagaimana caranya! 

Ia bersiap. Berkonsentrasi penuh. Menarik nafas panjang. Menghempaskan pelan-pelan. Pejamkan mata. Lalu, dengan pelan, ia sentuh sembarang layar ponselnya.

Jembual. Muncullah papan ketik yang sedang menanti jemarinya menari. Barisan huruf qwerty itu seakan melambai sembari berujar, "sentuh aku segera, saaat!". 

Bukannya bergegas sentuh keyboardnya, ia malah makin khusyu' dalam diamnya. Kebingungan memborgol pikiran. Ia bingung, bahkan pada soal remeh : huruf pertama apa yang mau dia tulis?  

Apakah musti memulainya dengan abjad A? Ya, tentu boleh-boleh saja. Ia coba pencet huruf A. Ia senang betul. Sebab berhasil menulis lagi, meski cuma satu huruf. Sedikit lega, ia hembuskan udara hangat lewat cangkemnya.

Kini ia tak lagi bingung. Secara beruntun, dua huruf berikutnya ia tulis tanpa sepenuh kesadaran : Huruf S dan U. Ia baca kata pendek yang telah dituliskan. Ia sadar, "Ini terlalu buruk untuk awalan, men!". Baru juga mulai, ya kali langsung mengutuk. Jangan dong. Hapus!

Ia tak jadi memakai huruf A sebagai awalan kata. Sebagai gantinya, ia secara sembarang memencet huruf T. Entah, ia tak tahu kelanjutannya nanti. Yang jelas, lagi-lagi, nampaknya ia mengulangi pola yang sama. Sebab dua huruf berikutnya : A dan I.

Membaca kata tertulis, sontak, kepalan tangan kiri menghantam pelan dinding kamar yang catnya mulai kusam. "Sama buruknya seperti sebelumnya", ucapnya.

Ia paham, dua kata yang barusan ia tulis, asu dan tai, jelas, keduanya lebih sering dimaknai memaki. Dan ia mengerti, tulisan bakal terkesan terlalu anarki, bila baru prolog sudah langsung manggil asu juga ngasih tai.

Kembali, ia restart lagi. Mengambil nafas panjang, beberapa kali, berkali-kali. Konon, ini mampu memberi sedikit ketenangan. Dan benar saja, setelah ritual pernafasan, ide segar ia temukan.

Ia tak mau mengulangi pola yang sama seperti sebelumnya. Ia ganti. Jika tadi mengawali tulisan dengan satu huruf, kali ini, ia coba pake dua huruf. Dua huruf yang beruntung dipilih olehnya : S dan I. Lalu, secara sporadis, huruf-huruf berikutnya ia tulis : A-L-A-N.

"Sialan! Harus banget memulai tulisan dengan kata sialan?", Ia menggerutu.

Ya memang. Meski kata 'sialan' lebih soft dibanding dua kata sebelumnya, tapi kan tetap saja konotasinya umpatan. Kan sialan! Nggak ada beda! 

"Ah, sialan!". Kadung kesal, lembar notes tersebut ia tutup. Ditutup tanpa satu kata pun tertinggal di sana. Pun juga ia mengunci ponselnya. Jenuh ia berkutat dengan produk kemajuan peradaban tersebut.

Deru nafas yang tak stabil, coba ia redam dengan kafein. Tangannya beralih dari menggenggam ponsel, menuju gelas yang berdiri di atas meja. Ia raih gelas itu. Segelas kopi, yang isinya tersisa sedikit lagi. Ia tenggak kopinya sampai tuntas, tas, tas, tas.

Lalu meletakan lagi gelasnya ke tempat semula. Ia ambil sigaret. Ia bakar ujungnya. Jress. Dua tiga kali hisapan, ekspansi asap dengan liar melukis udara sekitar. Ia harap, dengan doping rokok, ide-ide di kepalanya mau dipancing untuk mencuat keluar. Selayaknya asap-asap rokok yang ia hempaskan.

Tapi nyatanya tidak. Ide-ide menolak damai. Jalur mediasi yang ditempuh rokok, mentok! Yang terjadi justru sebaliknya. Merokok, malah membikin kecemasan makin menguat. Kental di dalam pikiran. Dan pikiran, kini angkat tangan, ia nggak sanggup mengurai kacaunya. Buntu sudah!

Tapi, ia tak berhenti mencoba. Kini ia coba kolaborasikan, zat nikotin dengan kafein. Mana tahu dengan menggabungkan keduanya, pikiran berhasil meredam gejolak berkecamuk di dalamnya.

Ia hendak mengambil gelas yang tadi, namun akhirnya ia sadar. Bahwa gelas itu telah kosong. Dan lagi-lagi, karena hal sepele, ia pun mengumpat. Faklah, katanya.

Ingin ia secara reaktif melempar gelas tersebut ke lantai. Biar pyar, lalu pecah. Tapi ia urungkan setelah menimbang dirinya terlalu males untuk berbenah beresin pecahan kepingan kaca yang ke mana-mana. 

Ia memilih keluar dari kamar. Menuju ke dapur. Menjerang air. Mengambil ceret. Mengisinya dengan air kran, secukupnya. Meletakan ceret ke atas kompor, yang apinya menyala-nyala. Biar cepat mateng, ia gedein apinya. 

Sesudah itu, dia melamun. Dalam lamunan, ia membayangkan mekanisme memasak air, padahal aktivitas itu sedang dia lakukan. Aneh memang. Ia mengamati ceret yang terpanggang api. Makin lama diamati, perlahan muncul di kepalanya, semacam analisa.

Ia merunut proses memasak air. Lalu, ia bikin head to head antara memasak air dengan proses kreatif menulis. Ia hendak mencari titik temu keduanya, mencari samanya di mana. 

Namun, nggak ketemu. Lebih tepatnya, yang ditemukan kurang tepat. Maka, ia kembangkan lagi gagasan tersebut. Sedikit melebar. Ia pikir, menganalogikan menulis dengan memasak air, agaknya kurang seksi. 

Sepertinya, akan lebih serasi bila ia sandingkan proses kreatif menulis, dengan step by step menyeduh kopi. Nah, ini baru pas!

Dari hulu ke hilir. 

Dimulai dengan ceret harus diisi air mentah. Ceret tersebut diletakan di atas kompor yang apinya menyala. Besar kobaran api, disesuaikan dengan debit air di dalam ceretnya. Biar cepet mateng.

Setelah mendidih, tuangkan air ke dalam gelas yang telah dihuni gula kopi. Lalu aduk sampai merata. Sudah? Jangan langsung ditenggak. Coba cicipi sedikit dulu. 

Pastikan, rasanya pas atau enggak. Bila dirasa kurang manis, ya tambahin gula. Bila kemanisan, ya tambah lagi celebek kopinya.

Sudah pas, tetap jangan buru-buru meminumnya. Sabar sebentar. Tunggu dingin, atau setidaknya, ya tunggu sampai dia mulai hangat. Buru-buru minum kopi yang masih panas, bakal bikin lidah mati rasa. 

Efek dominonya, menyebabkan seruputan kedua, tiga, empat dan lima, hambar dan tak nikmat. Jika sudah tidak terlalu panas, barulah seruput pelan-pelan dan nikmatilah. Di situ, seninya.

Menulis pun dari hulu ke hilir.

Kepala harus diisi dengan referensi. Entah bersumber dari bacaan, pengalaman orang lain, atau pergulatan batin personal. Referensi, perlu disusun sedemikian rupa menjadi kerangka tulisan.

Kerangka tulisan, digodog lagi biar jelas menentukan mau bagaimana : konsep, alur, sudut pandang, dan lain-lain, dari tulisannya. Setelah jelas runutannya, tiada lain yang perlu dilakukan : tuliskan!

Tulis dulu semuanya. Pelan-pelan. Satu-satu. Per huruf. Per kata. Per kalimat. Per paragraf. Sampai tak terasa, jadi satu kesatuan tulisan yang utuh. Lalu, setelah semua dituliskan, bacalah ulang. 

Biar tahu, mana yang mana yang perlu diperbaiki. Jika dirasa tulisan kurang enak dibaca, ya revisi saja. Ganti pemilihan diksi. Ubah sudut pandang. Atau sekalian, rombak susunan paragrafnya. Biar tulisan rapi. Lebih penting lagi, ketika dibaca, masuk ke rasa dan jiwa.

Meski dirasa tulisan sudah sempurna, tapi tetap, jangan terburu-buru lempar ke pembaca. Diimbu dulu, diendapkan. Disimpan dan diamkan dulu tulisan. Biarkan dia hiatus. Nanti, setelah sekian waktu, buka kembali filenya dan baca ulang lagi.

Pertimbangkan pantas nggak pantasnya tulisan itu bila dibaca khalayak ramai. Pertimbangkan, dengan standar setidaknya diri sendiri menikmati ketika membaca tulisannya. Baru setelah itu, tak perlu ragu lempar saja ke publik. 

Biarkan pembaca menemukan kesenangan, kenikmatan, dengan membaca tulisannya. Ya memang. Nggak semua orang bisa menikmati tulisan tersebut. Tapi, masa sih dari sekian orang yang membacanya, nggak ada satupun yang seleranya sama seperti penulisnya? 

Pasti ada, lah. Kan memang begitu mekanismenya?

Terlalu asik dia menyusun gagasan di kepala. Sampai kelupaan, air telah mendidih dan meluap. Muncrat ia dari mulut ceretnya. Buru-buru ia matikan kompornya. Ia angkat ceret itu dengan bantuan kain lap. 

Ia tuangkan air ke dalam gelas. Ia seduh kopinya. Ia rasakan, aroma khas kopi mulai menyeruak masuk ke hidungnya. Kopi telah siap untuk dinikmati. Dan kini, ia pun telah bersiap untuk menulis gagasan yang tadi dikonstruksikan di dalam pikirannya. 

"Gas!", lagu Fstvlst ia dengarkan.