Perihal Hati Yang Remuk Dan Patah ~ Makna Lagu Pearl Jam - Black

Sejak dimulai dari intro, lagu Pearl Jam berjudul Black sudah menciptakan teater of mind tersendiri.

Kajian Lirik (Kali) - Sub rubrik seputar musik yang mengulik dan mengkaji lirik secara komperhensif sporadis. Artikel ini ditulis base on interpretatif. Nggak menjamin kebenaran, alias sekedar asumsi personal. Sekalipun mungkin sedikit ada benar, tetap, nikmatilah tulisan sebagai hiburan. 

________________________________________________

Atmosfer Kesedihan Di Lagu Black - Pearl Jam

Sejak dimulai dari intro, ini lagu sudah menciptakan teater of mind tersendiri. Suara rhythm gitar yang dimainin Stone Gossard, terdengar nyaring mengambang di kejauhan. 

Seolah membawa kita pada malam di mana bintang bertaburan. Berada di savana luas. Merebahkan badan di atas hamparan rerumputan. Terdiam, larut dalam kekalutan. Samar-samar, ingatan mengenali sebuah bayang. Bayang yang jamak disebut sebagai kenangan. 

Kesan ini makin diperkuat dengan ringkihan vokal Eddie Vedder yang sedu dan muram. Menimpali bunyi sound gitar yang magis itu, sesaat kemudian. Gelap dan dalam. Kesedihan nampaknya kental betul terasa di lagu ini. Lagu yang sarat emosional. Sentimentil. 

Black merupakan lagu Ballads dari unit alternative asal Amerika, Pearl Jam. Lagu ini diciptakan Eddie Vedder (vokalis) ketika ia mengalami problem manusia dewasa, putus cinta. Saya pikir, perasaan Mas Vedder benar-benar remuk sewaktu patah hati itu terjadi. Karena kalau tidak, mana bisa ia bikin lagu yang rohnya kuat sekali. 

Memang, energi dari cinta yang paling besar itu bukan bahagianya. Tetapi sedihnya.


Iya, tentu sewaktu Mas Vedder patah hati, itu dianggap olehnya sebagai tragedi. Namun, jauh hari setelahnya, Eddie Vedder mampu mengurai kacaunya dan mengolah sedihnya sedemikian rupa. Menjadi musik yang cantik, dengan lirik yang puitik

Lagu Black, jauh dari kesan klise dan menye-menye seperti kebanyakan lagu yang mengambil tema serupa. Ia elegan dan pantas disematkan padanya, "One of the most beautiful urban Poetries". 

Nggak percaya? Terus baca artikel ini sampai beres.

Terjemah Lirik Lagu Pearl Jam - Black

Kendala ketika saya coba memaknai lagu ini, jelas, dari segi bahasa. Lagunya berbahasa Inggris. Dan saya, cuma ngerti bahasa Inggris sebatas Yes, No dan Fakyu. Tapi ya selama Mbah Google belum batuk-batuk, pintu segala solusi masih memungkinkan diketuk.

Cuma sialnya, keturunannya Mbah Google ini, yakni Translate, itu kayak Maba yang kena sindrom Culture Shock. Itu, yang baru sedikit mencicipi teori njelimet, langsung buru-buru aktualisasi, padahal nggak paham-paham banget. Ya kayak saya ini contohnya.

Iya, iya. Saya tidak menyalahkan Mbah Google. Terjemahan dari Google itu nggak salah. Sama sekali nggak salah. Cuma ya, tetap saja. Nggak enak dibaca. Hingga akhirnya, sebisa mungkin saya otak-atik terjemahannya. Juga cari referensi lain yang sekiranya menambah pemahaman saya soal arti dari lirik per liriknya. 

Tentu saja, besar kemungkinan apa yang saya tuliskan di sini, itu tidak sama persis seperti yang dimaksud empu lagunya. Dengan begitu, sedikit banyak kekeliruan tulisan, harap dikasih permakluman. 

Baiklah, tak perlu panjang-panjang seremonial. Mari meluncur ke bait lirik yang tersaji di bawah ini.

Interpretasi Lirik Lagu Pearl Jam - Black

_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #1

Di lagu Black, Eddie Vedder banyak sekali memakai hiperbola untuk mendeskripsikan isi perasaannya. Bait awalan saja, sudah membikin kepala saya memunculkan frame demi frame peristiwa. Secara serampangan, kurang lebih begini terjemahannya :

"Lembar kanvas kosong. Lempung tak tersentuh. Kedua benda yang tergeletak begitu saja, di hadapanku. Seperti dirinya, kala itu". Eddie Vedder nampaknya sedang mengenang sosok perempuannya. 

Kanvas kosong, berarti tidak dikreasikan menjadi lukisan. Yang mana maksudnya, perempuan itu tidak lagi mewarnai hari-harinya frontman Pearl Jam ini. 

Sedang lempung (tanah liat) tak tersentuh, berarti tidak dibentuk atau dicetak menjadi genteng (atap rumah). Maknanya, mungkin nggak jadi tinggal satu atap dengan perempuannya. 

Ini cuma mungkin, ya. 

Tapi, memangnya di Amerika sana atap rumahnya pake genteng, ya? Misal genteng merk Super Sokka Masinal dari desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Promosi.
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #2

Jika bait sebelumnya lebih ke arah mengenang sosok dia. Di bait ini, Eddie Vedder memberi gambaran betapa cantiknya dia. Ia mendeskripsikan sosoknya dengan begitu indah. Tak tanggung, ia umpamakan ada lima cakrawala keindahan yang mengitari perempuannya.

Kata Eddie Vedder, "Selayaknya bumi mengorbit mentari". Bumi tanpa disinari matahari, gelap. Sama seperti kehidupan Eddie ketika ditinggalkan sosok perempuan yang cantiknya tiada lawan. Hidupnya Mas Eddie hampa tanpa dirinya. Mungkin itulah sebab lagu ini berjudul 'Black'. 
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #3

Kehampaan yang dia rasakan, diperjelas lewat bait ini. Sederhananya, sang vokalis ingin bilang, "Ya, bagiku dia sangat berarti. Sekarang, tanpa dirinya, hidupku tiada begitu berarti lagi". 

Kemudian Eddie menerangkan gimana hubungan yang terjalin antara dia dan mantan pacarnya. Sepertinya, hubungan ini bersifat simbiosis mutualisme. Saling mengasihi, saling menyayangi. Begitu sekiranya.

Setelah bait di atas, ada bagian reff yang nanti bakalan diulang dua kali. Karena pengulangan, saya letakan di belakang sajalah. Kita lompat ke chorus kedua.
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #4

Seperti tadi dijelaskan, hidupnya Eddie hampa tanpa ada sosok dia di sisinya. Dan Mas Eddie perlu mengatasi kehampaan tersebut. Biar nggak berlarut-larut. Perasaan hampa itu perlu dialihkan.

Dan upaya pengalihan itu, dilakukan Eddie dengan jalan-jalan keluar menghirup udara segar. Ya barangkali, dengan begitu kesedihan bisa diuraikan. Lalu musnah dan menghilang. Barangkali.

Ketika menapaki aspal jalanan, Mas Eddie berpapasan dengan kerumunan anak kecil yang lagi main-main. Mereka, anak kecil itu, terlihat begitu bahagia dengan tawa polosnya. 

Kebahagiaan bocah-bocah itu terpancar keluar dan ikut menjalar ke perasaan Eddie yang terdalam. Di titik itu, vokalis Pearl Jam membatin, "So why do I sear?". Kontemplasi, men.

Dia nggak mau dijajah kesedihannya sendiri. Tapi, biar sejernih apapun pikiran, kalau perasaan sedang nggak karuan, pikiran ya kewalahan. 

Kekalutan, lagi-lagi selimuti perasaan. Naik ke pikiran, seakan-akan mengepruk keras tempurung kepalanya. Makanya dia dua kali menegaskan, "Im Spinning". 

Spaneng, basa Jawanya. Ya mungkin kalau Eddie Vedder orang Jawa, dia bakal menggerutu begini : Ndue Ndas Mumeti. Ra Ndue Ndas, medeni.

Setelah menggerutu sebab kepalanya terasa mau meledak, ia kemudian mencoba bersikap pasrah. Terlihat dalam kalimatnya, "Haha, betapa keceriaan ini begitu cepat terbenam". Kesadaran spiritual, men.
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #5

Ini reff yang tadi saya bilang diulang dua kali. Sedikit ada perbedaan antara reff pertama dan kedua. 

Dia jengkel mendapati dirinya yang menyedihkan. Dirinya seakan terhimpit oleh kabut yang menyesakkan dada. Juga, ia serupa pecahan kaca, berantakan berkeping-keping. 

Perasaan yang sedemikian kacau, tiada lain disebabkan kisah kasihnya telah kesiram tinta hitam. Warna-warni kebahagiaan, lenyap oleh gelap kesedihan.
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #6

Cinta yang berujung nestapa, membikin dirinya saat ini, juga bayang akan masa depan, kelihatan suram. Gelap total. Mungkin, jika mau disederhakan, pada titik ini Mas Eddie kehilangan gairah menjalani hidupnya. Kemudian, bait : Uh huh, uh huh, oh. Kayaknya, khusus ini nggak perlu diartikan, sat.
_____________________________________________
_____________________________________________
Baris Lirik #7

Nah, ini. Lirik paling berdarah-darah. 

Iya, saya tahu kamu bakal punya kehidupan yang indah di masa depan. Tahu juga saya, kamu bakal jadi bintang di langit milik seseorang. Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa nggak bisa jadi milikku? Nggak bisa jadi milikku? 

Satu sisi, Eddie Vedder sadar kalau hubungannya dengan si perempuan sudah berakhir. Sisi lain, Eddie masih menyangkal kenapa perpisahan ini bisa terjadi. Nggak bisa nerima sepenuhnya dia.

Saya pikir, tiga kata 'why' tersebut merupakan satu bentuk penegasan. Penegasan yang diperhalus pakai pertanyaan, biar nggak terkesan memaksakan kehendak.

Padahal, maksud dari kata 'why' tersebut adalah : seharusnya kamu tetap jadi milikku. Bukan yang lain!
_____________________________________________
_____________________________________________

Fun Fact Lagu Black - Pearl Jam

Bagiku sendiri, lagu Black merupakan lagu patah hati yang sangar. Sedih, tapi nggak cengeng. 

Cuma, sangat disayangkan kesedihan di lagu ini jadi sedikit kedistraksi. Sebab, tiap kali dengar 'why', saya selalu teringat nada why burung elang yang ikonik dari Coki-Muslim. Nuansa sedihnya jadi berkurang. Sialan.


Ada sedikit fun fact menyangkut lagu Black ini. Tahun 1992, Pearl Jam tampil di MTV Unplungged. Ketika lagu Black dibawakan, Eddie Vedder nambahin lirik di akhiran, "We belong together...together!"

Setelahnya, lirik tambahan tersebut selalu disertakan tiap Pearl Jam membawakan lagu Black di panggung lain. Kemudian lirik tersebut pada akhirnya diganti : We didn't belong together...together!

Digantinya lirik tersebut menandakan Eddie Vedder sudah punya istri dan dia takut sama istrinya sudah melupakan serta beneran merelakan mantan terindahnya. 

Sekian.