Puisi Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia 2021

ikut menyemarakan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia 2021 ke 76, mahaplung menyajikan beberapa puisi yang bisa dinikmati dan dimaknai.

Ragam rupa dan cara warga negara merayakan hari kemerdekaan bangsanya. Ada yang bikin foto Twibbon Upacan HUT Ke-76 RI. Ada yang ikut upacara virtual. Dan banyak lagi lainnya.

Untuk ikut menyemarakan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia 2021 ke 76, mahaplung menyajikan beberapa puisi yang bisa dinikmati dan dimaknai. 

Berikut adalah kumpulan Puisi Kemerdekaan untuk Merayakan HUT Ke-76 RI.
*****
_____________________________
_____________________________
[1] Mari Mati dan Hidup Kembali
.....
Kini tangisan tak lagi terdengar.
Setelah tadi malam air matanya 
diorder secara brutal.
Menetes, melumer di pipi, 
dan turun menjamah pergelangan kaki.

Seakan ia selesai mandi.
Basah disana, sabun merana.
Sikat gigi problematika,
Kegagalan odolnya.
Sampo kesuraman membasuh 
setiap helai rambut kepala.
Bilasan air mengguyur deras 
dari gayung ratapan samsara.

Lagi-lagi air mata.
Jatuh sebab kelilipan ambisi gila.
Pedih yang terkarunia.
Rencana sekedar fatamorgana.
Terhempas seiring barikade kecoa,
Menutup setiap jengkal ruang bahagia.
Terbentang garis melintang 
bertuliskan "Sambutlah kabar duka".

Sialan!
Bajingan!

Aku anak kandung kekalahan.
Aku berkawan kegelisahan.
Kekasih setia menjelma sosial standar.
Saban hari doa-doa dilantunkan,
Sebaris ayat-ayat umpatan,
Termaktub dalam kitab suci 
karangan tetangga.
Terdengar sumbang, 
nyaris pecahkan gendang telinga.

Ah, peduli setan!
Kau hanya punya dua pilihan.
Perlahan lepaskan belenggu kepecundangan,
Sandarkan kesadaran tentang penderitaan, 
yang sebentar kan datang dan menghilang.

Atau?

Silakan mati sekarang.
Liang sudah tergali dalam.
Penghormatan khusus upacara pemakaman,
Untuk kamu, pecundang yang menyerah dalam kenistaan.

Kami dengan senang hati 
menaburkan bunga-bunga penyesalan, 
di atas pusara tanah kuburan kemalangan.

Tidak!
Aku ingin mati seribu tahun kemudian!

Sebab aku sudah meramu racun,
Menyiapkan senapan, 
juga sebilah pedang.
Untuk nanti bunuh diri, 
lalu reinkarnasi.
Dan aku hidup kembali!

Ketika pilu berkolaborasi dengan palu,
Memukul pikiran yang memuja ragu.
Menjeda sebentar keinginan keanginan.
Merancang struktural manuver pergerakan.
Mengenakan kembali seragam kebangkitan.
Melawan segala macam persakitan.

Hei, kau!
Ingat sampai mati, 
Bahwa aku belum mati!
.....
_____________________________
_____________________________
[2] Struk Belanja Stock Sampo
.....
Ingin saya elus endas mu,
Memetani setiap helai rambut yang apek nan kusut.
Wangi pentine cepat usang kurang dari semingguan.
Tak mempan membinasakan tuma beserta bala sekutunya.
Mereka perlahan menyelinap, menyarap,
dan tinggalkan efek gatel berkepanjangan.

Katamu, kamu tak tahan.
Dan aku sungguh-sungguh perhatian.
Dipitesnya satu persatu kutu dan kor yang mengganggu.
Ekspansi mereka yang tak transparan, 
cenderung diam, diam dan menyebalkan.
Memberi jarak melanggengkan ketidakpercayaan.

Mereka menghimbau tetap tenang.
Sementara disini, kami dihantam jutaan informasi mencekam.
Tidak tepat memang kalau saling menyalahkan.
Tapi kami cemas perihal keselamatan.
Apakah kami terlalu tabu untuk tahu?
Memang kami tahu, kutu-kutu pasti menghilang.
Tapi tidak secepat seperti sebarkan broadcast berantai di platform chattingan.

Dan baru kusadar, ternyata semua jadi kutu disetiap kubu.
Saya dan kamu adalah kutu.
Kata mereka, kita menghambat kinerja mesin pengering rambut di salon kecantikan.
Dan mereka juga kutu.
Siap meneror dengan rasa gatal, 
yang tak gentar dibilas sampo sachetan.

Sedang kutu yang original senang-senang menertawakan.
Tertawa pada kedunguan kita, yang kebingunan tentukan pilihan.

"Kita ini mau pake zinc atau clear, ya?".
.....
_____________________________
_____________________________
[3] Ilusi
.....
kamu adalah dogeng 
yang mengantarku pada tidur panjang. 
Memasuki ruang mimpi menyenangkan. 
bergelantungan di kaki tangan sang bintang. 
keliling melintas gemerlap malam. 
lalu aku kelelahan, 
jatuh dari ranjang,
mengumpulkan kesadaran
aku bangun kesiangan.

dan aku sedih semenjak terjaga, 
sebab kau tak hadir dalam nyata.
.....
_____________________________
_____________________________
[4] Perjuangan
.....
menganalisa kata berjuang. 
tentu hitungannya per/juang, 
bukan per/uang.
sebab dalam frasa perjuangan, 
uang bertempat di garda terbelakang.
namun sialnya kehidupan, 
frasa uang paling terang kelihatan.
.....
_____________________________
_____________________________
[5] Makan Siang Lauk Slogan
.....
Inginku bakar, 
sepanduk itu. 
di pinggir jalanan, 
di perkotaan.

yang menampilkan, 
wajah paling sopan.
senyum polesan, 
hajat kepentingan.

slogan kesejahteraan,
murni cuma tulisan.
nggak bikin kenyang, 
orang kelaparan.
.....
_____________________________
_____________________________
[6] Semoga Bukan Seremoni
.....
Hias gapura ikon Garuda, 
hafal-menghafal pancasila.
semoga, bukan rutinan 
semata.

Kibar sang saka, 
merah putih mengudara, 
di sini dan di sana.
di mana-mana, semoga, 
tak sekedar kain bendera.

Idiom perihal Bhineka, 
berbeda namun bersama, 
semoga, tak sebatas buih 
kata-kata.

Baris-berbaris tegap, 
dekap tangan melekat di dada. 
berteriak lantang, "Kita Indonesia!".
Semoga, bukan ocehan 
burung kakak tua.

Dan di sini, 
puisiku masih setia menanti.
merdeka bukan cuma :
slogan seremoni.
.....
_____________________________
_____________________________