Ahmad Band : Ideologi Sikap Otak - Semu #3

Album ini memuat 11 lagu. Beberapa lagunya menyajikan distorsi menghentak, dengan lirik kritis yang menghujam kenyamanan penguasa.

Ahmad Dhani : Dewa 19 dan Ahmad Band

Ahmad Dhani Prasetyo adalah sosok jenius di bidang politik musik. Dalam hal meramu dan meracik musik yang cantik, kemampuan Dhani nggak perlu diragukan lagi. Buktinya, banyak. Satu yang mungkin semua orang sepakat, adalah lagu Dewa 19 yang judulnya Kangen. Lagu ini bukti nyata betapa brilian dan jeniusnya seorang Ahmad Dhani dalam bikin musik.

Ini lagu, tua usianya. Dirilis Mei 1992, dalam debut album Self-Titled. 29 tahun, bayangkan! Terbilang lawas, tapi sampai hari ini lagu Kangen masih relevan dinyanyikan. Ia abadi, lintas jaman lintas generasi. Tua muda, cross gender, semuanya sing a long bila dengar tembang Kangen. Lagu ini juga cukup keseringan dijadikan backsound kisah percintaan banyak orang. Mungkin, kamu salah satu pelakunya. Ngaku saja, lah.

Selain lagu Kangen, Dewa 19 banyak pula menelurkan greatest hits yang tentu saja, kualitasnya sebanding. Sebut saja misal lagu Cukup Siti Nurbaya, Aku Milikmu, Cinta'kan Membawamu Kembali, Kirana, Laskar Cinta, dan banyak lagi lainnya. Nggak bisa saya absen semua, di sini. Baik yang hits atau tidak, saya rasa lagunya Dewa 19 hampir semuanya enak didengar, juga dinyanyikan.

Ngomongin Ahmad Dhani dengan Dewa 19, yang terbersit di pikiran pasti berkutat seputar lagu cinta dengan lirik yang puitis. Tak bisa dipungkiri, begitulah khasnya Dewa 19. Tapi, sedikit informasi saja, Ahmad Dhani nggak hanya jago nulis lagu cinta doang. Ahmad Dhani, lewat band side projectnya, Ahmad Band, pun pernah menggemakan lagu bertemakan kritik sosial.

Awal Terbentuknya Ahmad Band

Ahmad Band adalah alter egonya Ahmad Dhani. Iya, memang nama bandnya Narsistik sekali dia. Tapi ya sah-sah aja bagi seorang Dhani. Lagi-lagi, kepantasan ini ada karena kualitas yang berbicara. Ahmad Band lahir pasca runtuhnya rezim orde baru yang menggaungkan ke seantero negeri : reformasi. Kelahiran Ahmad Band dirasa tepat dalam mengambil momentum.

Mungkin, Ahmad Dhani sudah lama menyimpan geram karena melihat betapa chaosnya negeri ini. Nurani senimannya tergugah, ingin memberontak. Meminta seorang Dhani untuk ambil peran, menyumbang suara dan nada kritik pada pemerintahan Orde baru. Namun, sepertinya nggak bijak bila semisal Ahmad Dhani menyalurkan hasrat mengkritik lewat band Dewa 19.

Sebab, citra Dewa 19 sudah sedemikian gemilang dengan lagu yang indah-indah. Ya kali Dewa 19 harus rebranding dari yang semula didominasi lagu cinta romantis, mendadak berubah haluan jadi satire dan kritis. Sebab itu mungkin, membuat Dhani menahan sebentar keresahannya, biar nanti ia present saja di waktu yang tepat. 

Waktu berjalan, momen itu makin lama makin mendekat. Tahun 1997, Dewa 19 melepas album ke-4, yakni Pandawa Lima. Album ini memuat hits seperti lagu Kamulah Satu-Satunya, juga Kirana. Setahun kemudian, 1998, Ahmad Dhani mengumumkan bahwa sementara waktu Dewa 19 vakum. 

Dewa 19 vakum, Ahmad Dhani mengejutkan publik dengan band barunya : Ahmad Band. Line up band ini, boleh dibilang mengerikan. Diisi oleh musisi-musisi dengan skill dan jam terbang yang nggak diragukan. Sebut saja, Andra Ramadhan. Ahmad Dhani memboyong Andra yang mana ia merupakan gitarisnya Dewa 19. 

Selain Andra Ramadhan, ia menggandeng dua musisi mantan personil Slank, Bongky Marcel dan Pay Siburian. Ahmad Dhani memanggil pula drummer Netral (sekarang NTRL), yakni Bimo Sulaksono. Mengajak nama-nama besar untuk gabung di band Alter ego, tentu tidak bisa dilakukan sembarang orang. Dhani, sanggup melakukan yang demikian.

Tentu boleh dibayangkan dulu. Gimana jadinya bila permainan gitar Andra Ramadhan berpadu dengan sayatan melodi Pay Siburian. Membayangkan dua pondasinya saja sudah bikin merinding. Lebih-lebih, pergumulan nada Pay dan Andra bakalan sempurna didengar telinga karena ketambahan betotan bass dari Bongky Marcel serta hentakan drum dari Bimo Sulaksono. Ngeri.

Dengan line up seperti itu, Ahmad Band layak digadang-gadang menjadi supergrup rock yang bakal menggetarkan belantika musik tanah air, pada jamannya. Namun, Ahmad Band hanya merilis satu album saja dan tidak ada lagi setelahnya.

Ahmad Band - Ideologi Sikap Otak (ISO)

Juli 1998, Ahmad Band merilis album Ideologi Sikap Otak. Sampul album ini menampilkan potret Ahmad Dhani yang bergaya ala Ir. Soekarno. Ia mengenakan peci hitam, rapi dengan setelan jas, sekalian. Tatap pandangnya tajam, melihat ke depan. Menyiratkan sesuatu yang entah ku tak tahu apa maknanya. Apa, ya?

Album ini memuat 11 lagu. Beberapa lagunya menyajikan distorsi menghentak, dengan lirik kritis yang menghujam kenyamanan penguasa. Selain itu, banyak pula lagu cinta yang diselipkan Dhani di album tersebut. Lagu cinta dalam Album Ideologi Sikap Otak, nggak kalah manis bila disejajarkan dengan lagu-lagunya Dewa 19.

Ideologi Sikap Otak dibuka dengan lagu berjudul Distorsi. Lagu distorsi ini, menyajikan kontradiksi. Antara 'maunya' dengan 'nyatanya', beda. Dua sasaran kritik lagu ini, golongan tua dan muda. Nampak jelas di bagian reffnya, "yang muda mabok, yang tua korup. Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini. Merdeka!".

Lagu ini menyinggung golongan tua alias pejabat, yang di jaman itu mulai hobi mempraktekan bad soft skillnya : korupsi, kolusi, nepotisme. Selang-seling, serangan kritik menyasar ke golongan muda yang tenggelam dalam budaya mabuk-mabukan. Entah mabok alkohol, sesuai lirik lagunya. Atau lebih jauh, barang haram lain yang di tahun segitu sedang merebak : putaw, misal.

Bait lirik yang jadi favorit saya dalam lagu Distorsi : Kapitalis sejati malah ngomongin soal keadilan sosial. Mantap! Kontradiksi sekali, bukan? Selain bait tersebut, satu lagi yang bikin saya kagum : Ada yang coba - coba sadarkan penguasa. Tapi sayang yang coba sadarkan, Sadar aja nggak pernah. Hmm, sepertinya tahu saya, lirik itu ditunjukkan ke siapa. Siapa, ya? Dipersilakan untuk menduga.

Lagu kedua, Dimensi. Ini lagu, liriknya sastrawi. Maknanya, jelas mendalam. Mungkin, Ahmad Dhani menciptakan lagu Dimensi sebab diilhami oleh peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Dan mungkin saja, lagu ini beneran menceritakan soal itu. Siapa tahu benar begitu, bukan? Coba simak bait berikut : Kucoba 'tuk menembus dimensi. Menembus ruang dan waktu. Mencoba meraihmu. Melepas jubah yang gerahkanku. Sejenak lepaskan gaun itu.

Lagu ketiga, Bidadari Di Kesunyian. Saya nggak sempet memikirkan lebih dalam soal makna lagunya. Secara lirik sih, ya seperti lagu-lagu cinta yang khas ala racikan seorang Dhani. Liriknya puitis dan elegan. Bait paling mengesankan untuk saya pribadi, adalah : Belum cukup rasa yang kini tercipta. Baru saja dia di sini wanginya masih tertinggal. Wanginya masih tertinggal. Wah, cantik betul itu syair!

Lagu keempat, berjudul Sudah. Ya, lagu ini tentang cinta yang harus berakhir sudah. Kesan yang saya tangkap dari lagu Sudah milik Ahmad Band ini adalah tentang ketegaran seorang lelaki yang berupaya merelakan hubungan cinta yang kandas. 

Sang lelaki tidak cengeng dan merengek, memohon pada kekasihnya untuk tetap sudi bersamanya. Sepenggal liriknya : Tak satupun yang ku sesali. Malahan semua warnai hidup. Mungkin duri yang pernah tertancap. Mendewasakan aku dan kamu. Sudah berakhir, ya sudah!

Lagu berikutnya, Dunia Lelaki. Saya kutip penggalan liriknya: Bila rasio bicara revolusi. Perlu segera revolusi. Bila bosan dengan segala Yang ada yang s'lalu status quo Paling membosankan, tak ada kemajuan lagi. Langsung dengerin gimana lagunya. Untuk interpretasinya, lain waktu saja saya tulis. Kalau nggak lupa.

Tembang selanjutnya, Rahasia. Agaknya, lagu ini bercerita soal cinta yang hanya bisa dipendam dalam hati. Soal seseorang yang nggak sanggup menyatakan rasa cintanya. Entah, mungkin karena bagi seseorang ini, yang dia cintai itu layaknya bintang. Nggak bakal kegapai jangkauan tangannya. Adapun liriknya :  Bentuk tubuh yang tercipta. Ingatkan aku akan sebuah Mahakarya yang pernah dipuja Sebelum masehi. Sebegitu cantiknya dia?

Lagu yang kesekian album Ideologi Sikap Otak, berjudul Impotent. Lagu ini menggambarkan seperti apa situasi yang terjadi di era orde baru Soeharto. Di mana situasi negara aman terkendali karena penguasa melarang sepenuhnya dikritik rakyatnya. Ahmad Dhani mempertanyakan situasi tersebut lewat lagu ini : Apa arti damai jika otakku terkubur? Apa arti damai jika semua membisu? 

Kekhawatiran Ahmad Dhani terhadap masa depan negeri ini terekam jelas di bait setelahnya : Kau jilati situasi. Kau pun menari di atas kepatuhan. Di atas kesunyian jiwa yang telah mati. Tercipta generasi tanpa peduli.

Dari ritme menghentak, diturunin temponya lewat lagu ballads Aku Cinta Kau Dan Dia. Ya, dari judulnya saja bisa ketebak lagu ini berkisah tentang apa. Jelas, soal cinta, lah. Lebih lanjut, ini lagu bercerita tentang seorang lelaki yang mencintai dua perempuan sekaligus.

Untuk mengatasi persoalan yang mungkin bakal lebih rumit bila dijalani, dengan penuh bijaksana si lelaki ini bilang : Memang salahku yang tak pernah bisa Meninggalkan dirinya 'tuk bersama kamu. Walau 'tuk terus bersama, 'Kan ada hati yang 'kan terluka. Dan kutahu kau tak mau. Sekali lagi maafkanlah. Karena aku cinta kau dan dia. Maafkanlah 'ku tak bisa, Tinggalkan dirinya..  

Tinggalin keduanya, lebih bijaksana. Ya, bijaksana.

Tensi lagu naik lagi lewat tembang Interupsi. Liriknya frontal : Bangsat-bangsat bertopeng anak bangsa rajai hukum rimba. Asah otak tajamkan pandang masih banyak yang tertinggal. Masih terjajah, belum merdeka, terjajah bangsat seiring. 

Secara lirik, nampaknya ini lagu mengemas kegusaran seorang Ahmad Dhani perihal tidak adanya perubahan berarti tiap-tiap terjadi pergantian kepemimpinan. Begitu mungkin, sekiranya.

Tema cinta lagi, muncul lewat tembang Gairah Tak Biasa. Sepertinya, ini lagu menceritakan tentang mencintai pacar orang. Saya menduga begitu karena di lagunya terdapat lirik : mari kita lupakan apa dan siapa kita, siapa dia. Mungkin, loh ya. 

Lirik paling berkesan di lagu ini bagiku : Jangan salahkan aku Bila ku katakan semua Angan mungilku kepadamu. Karna bila kusimpan, Menyesakkan otakku di saat, Di sekitarmu, seluruhmu.

Terakhir, album Ideologi Sikap Otak ditutup dengan lagu Ode Buat Extrimist. Lagu ini menggambarkan gimana parpol mengendalikan massa pendukungnya. Pendukung parpol, selayaknya boneka yang dimainkan oleh elite politik. Mereka turun ke jalan, kampanye, teriakan yel-yel klise soal janji bila kemenangan didapatkannya.

Padahal yang terjadi sebenarnya, menurut Ahmad Dhani : Arak-arakan pawai idiot dengan baju warna warna, pasti tak mengerti yang dilakukan yang sedang diteriakan. Ini cuma permainan! Ini bukan kenyataan!

Segitu sajalah ulasannya. Bila terdapat banyak kecacatan tulisan, mohon maafkan. Mungkin lain waktu bakal dipermak ulang. Cukup sekian.