Bukan Kolam Ikan Puisi - Rilisan #8

_____________________________
_____________________________

[1] Hormat Kami Untuk Lord Didi
.....
Hormat kami untuk lord Didi.
Berjasa bagi aliansi patah hati.
Arus perlawanan muda-mudi 
haus kasih sayang.
Perihal cinta sungguh 
menyakitkan,
Menoreh luka terdalam,
Ciderai perasaan,
Menangis di pementasan.
.....
_____________________________
_____________________________

[2] Merem
.....
Tidur kepagian.
Bangun kesiangan.
Malam mendatang 
tetap berulang.
Putaran lingkaran berakhir 
entah sampai kapan?

Malam yang menantang,
Sanggupkah kau melawan?
Lantang kau katakan,
Libas semua setan!

"Tapi tolong", katamu.
"Sekali ini saja", kau memohon.
Kau bilang, "Aku ingin terpejam".

Merebahkan segala kepenatan,
Menstabilkan kekalutan pikiran.

"Wahai mata", ucapmu putus asa.
Tolong, merem dong!
.....
_____________________________
_____________________________

[3] Menuju Pantas
.....
Aku kotor sekali.
Ingin bergegas mandi.
Menggosok rasa,
Menyikat empati.
Berkumur dengan air nurani.
Melumuri jiwa dengan 
sabun toleransi.
Bersihkan hati, rontokan 
kerat duniawi.

Lalu berwudhu, dengan 
secangkir kopi suci.
Mengalirkan kebaikan
tanpa tendensi.
Namun, gejala kekeringan 
mengeliminasi.

Mungkin tayamum 
ku lakukan sesekali.
Masih menghitam dan
keringat menetes deras.
Badai topan menghamburkan 
debu yang belum tuntas.
Biar lambat ibadahku, 
perlahan menuju pantas.
.....
_____________________________
_____________________________

[4] Sesudah Rencana 
.....
Yang satu mati dibunuh rencana, 
satu yang lain reinkarnasi 
tanpa rencana apa-apa.
lahirnya, begitu saja. 
dan satu yang baru ini, 
sedang sibuk gladi resik 
serah terima kekalahan, 
mati yang kesekian.

Kita sumpel saja mulutnya, 
sebelum merapal janji keseriusan. 
sebelum berbusa obral keoptimisan 
yang bakal basi di tengah jalan!

hubungi kontak yang tertera 
bila berkenan booking kavling 
kuburannya, ya.
.....
_____________________________
_____________________________

[5] Dokter Spesialis Kesadaran
.....
Perasaan mual-mual.
pikiran mimisan. 
Mama bilang, 
"itu gejala sok ngintelektual".
aku cemas, khawatir salah 
nelan pil argumentasi.

Aku bergegas periksa ke dokter 
ahli kesadaran diri sendiri. 
dokter itu bilang, 
"Mas, itu kadar pretensius-mu 
sudah kelewat ketinggian, eh".

Mendengar diagnosanya,
aku lunglai, jatuh pingsan.
dokter menawarkan resep 
obat mujarab anti ketololan.
tetapi aku menolaknya, 
sebab ku pikir aku 
kritisnya di atas rata-rata.

Dokter tersenyum, 
ditusuknya kulitku 
dengan jarum suntik 
berisi teks buku-buku tebal 
kadar nutrisi tinggi, jelas bergizi.

"Kamu akan sembuh,
perbanyaklah membaca".
setidak-tidaknya, ia meneruskan :
baca ulang chatmu dengannya 
yang hingga kini tak terbaca, 
apalagi dibalasnya.

Hei dokter, tolong!
aku ingin menyublim
menjadi cairan infus.
.....
_____________________________
_____________________________