Bukan Kolam Ikan Puisi - Rilisan #7

_____________________________
_____________________________

[1] Mekanisme
.....
Bakarlah hari-hari 
terlewatkan.
biarkan api hanguskan 
ketidaksempurnaan.
tinggal sisakan abu, 
ambilah segenggam.

Taburkan di atas 
menu makan malam.
kunyah dan telan 
semuanya, perlahan.
bakal dicerna usus, 
bergerak, kemudian 
dibuang anus.

Jatuh dalam genangan 
sarang penyamun kuman.
diguyang derasnya air, 
berdesakan, kemudian 
lenyap diberangus 
mulut rakus pangeran kakus.

Beres, tak lagi penting 
dipikir ke mana, bagaimana.
begitulah mekanisme-nya.
.....
_____________________________
_____________________________

[2] Belakangan Ini
.....
Sore menjelang.
Menuju terminal.
Membakar kekacauan.
Tak hadir ketenangan.
Ramai akan kerisauan.

Datangi rumah kawan demi kawan.
Membuang waktu.
Mengutuk rezim.
Memaki dunia.
Meroasting keadaan.

Mengunjungi bank, 
saldo kosong menertawakan.
Sialan! Ke mana perginya 
alat ukur kesejahteraan?
Buku rekening pegadaian 
tercetak percuma.
Tak sempat terisi, 
emas sekedar hempasan angan.

Malam seperti kutukan.
Malam memeluk setan.
Malam penuh kejanggalan.
Malam riuh pertanyaan.
Malam tak terkendalikan.
Malam penyangkalan!

Sosial media sajikan 
berita pemakaman.
Menggali luang,
Mengubur empati,
Menyiram dendam.

Segelas kopi wacana kesegaran.
Matinya inspirasi diaborsi kemuakan.
Asap-asap serta latu buyar memudar.
Makin hari rokok terasa hambar.

Sastra tak menjamin lega.
Ratusan kata tewas dalam kepala.
Playlist Hindia sekedar 
opium sementara.
Lagu selesai,
Persoalan datang,
Menghantui perasaan.

Berserakan,
Puing-puing kepuyengan.
Meledak!
Kurt Cobain berteriak.
Distorsi menghentak.
Aku ingin berak!
Membuang racun 
di dalam otak.
.....
_____________________________
_____________________________

[3] Tolong 
.....
Air mata jatuh 
menimpa kopiku 
yang ada kamu 
kelelep di sana.
.....
_____________________________
_____________________________

[4] Tower Ponsel
.....
Ku cabut tiga helai rambutmu.
ku kaitkan setiap sisinya, 
dan di ujung yang satu, 
ku pasang jangkar yang terbuat 
dari senyummu yang kupadatkan.

Ku lempar jauh ke atas, 
ke menara provieder ponselmu. 
lemparan tepat dan akurat,
nyangkut di puncrit, puncaknya.
ku tarik kencang-kencang, 
sekencang degup jantung
yang ngos-ngosan nguber 
larinya atlet topik obrolan.

Ambruklah tower itu, 
hilanglah sinyal ponselmu.
biarkan sejenak kita khusyu,
ngalor-ngidul ngobrolin ini itu,
tanpa terdistraksi kemayu 
maya yang bikin bisu.
ya kan, su.
.....
_____________________________
_____________________________

[5] Bisikan Mesra Kekasih
.....
Sebab getir pasti bergilir.
Terampas peran oleh angin semilir.
Tapi jangan salah berfikir.
Semua sekedar satire.
Hembusan angin meneteskan air.
Membawa serta gemetar petir.
Tak perlu engkau khawatir,
Sebut saja namaku, 
Jika hatimu terkilir.
.....
_____________________________
_____________________________