Bukan Kolam Ikan Puisi - Rilisan #4

_____________________________
_____________________________

[1] Interpretasi
.....
Kalau kau tarik aku, 
dan telanjangi bagian anu, 
tentu yang kau temu 
adalah rudal membisu.

yang dalam damai hening 
dalam naungan rerumputan hitam, 
yang tidur mendekur penuh kecemasan 
dan mempertanyakan,
"Kapan si tuan mempergunakan?".

Semoga nanti, 
andaikata sudah legal.

Ya wajar bila kau temukan 
aku sekedar anu.
Wajar bila kau menilaiku 
semacam itu.
Wong hanya itu 
yang dilihat matamu.

Sedang dalam diriku, 
tak sekedar perangkat vital, 
yang lugu diam kala keramaian, 
namun berdansa liar dalam kesunyian.
Ada seribu lapisan yang 
tersirat dalam jiwaku 
yang tak terjangkau 
ranah interpretasimu.

Sebab kau hanya lihat aku 
dari sudut sempit lubang pipis.
Menjadi wajar bila kau nilai aku 
tabu dan saru.

Dan aku tak gentar 
dengan pembredelan,
Mendengar omong kosongmu 
tentang moral.
Memberi seribu satu permakluman, 
Khusus untuk kamu yang sialan!
.....
_____________________________
_____________________________

[2] Masturbasi Eksistensi
.....
Kawanku yang bajingan.
mengabadikan suasana jalanan 
dengan video rekaman.
satu tangan menarik gas 
motor metik kreditan.
tangan yang lain, 
masturbasi eksistensi kekinian.

Agenda pagi berkumpul 
dengan kawan sejalan.
janji ketemu sudah
hampir satu bulanan.
begitu datang, 
nihil akan obrolan.
masing-masing membatu,
hipnoteria layar dalam genggaman.
sebab gawai horizontal, 
esensi menghilang.

Suatu malam larut dalam 
majelis pengajian.
mencari makna dari tutur kata 
obat ketentraman.
ketika doa mulai dipanjatkan,
aku kaget bukan kepalang.
melihat sekelilingku, 
tak lagi menengadahkan tangan.
melainkan rekam dan rekam 
dan live serta posting di Instagram.

Terdengar doa-doa dari 
pancaran flash light ponselnya,
"Ya tuhan, semoga like dan komentar 
always berlimpah, pah, pah, pah!".
.....
_____________________________
_____________________________

[3] Tongkat Selfie
.....
Matamu tajam natap kamera.
kamera capek dipendelikin matamu.
matamu nggak puas lihat potretmu.
Potretmu kebanyakan, 
setipikal.

berdesakan di dalam
galeri yang miris.
galeri udah bilang :
memorinya kepenuhan!
dituntut memanjakan 
kau punya kenarsisan.

"Apa kau bilang?"
satu potret lagi?
innalillahi, ponsel mati.

Turut berduka cita 
atas gagalnya ngepost
pose selfie yang xixixi.
.....
_____________________________
_____________________________

[4] Jengkel Kau, Hei Bulan?
.....
Sedang bulan pun jengkel.
capek-capek ia bersolek 
berdandan dengan kilau 
cahaya anggun terang 
menghias hampa malam,
tetap saja dicuekin manusia
yang sibuk hapean.
.....
_____________________________
_____________________________

[5] Pelajaran Purnama 24 Sks
.....
Bulan kalang kabut 
diserbu serdadu awan.  
sejenak sinarnya menghilang
ditelan gumpalan hitam.

Seandainya sang bulan 
khusyu' di peraduan, 
ku pastikan kakinya kuat 
mencengkram langit, 
tabah mengarungi sakit,
hingga hitam lekas pamit.

Atau misal sang bulan 
bergerak melawan awan,
ku pastikan ia tak henti
sikut kabut sikat pekat,
sedikitpun tak takut 
pada hitam yang akut.

Hingga padam berangsur 
beralih jadi cahaya terang
pada malam ketika aku terbuai
oleh cantiknya engkau 
yang terbilang sempurna 
dan tiada bandingnya.
.....
_____________________________
_____________________________