Sajak Salesman Krupuk - Serpihan Puisi #10


Jok motor belakang bukan singgasana
bagi perempuan yang ia sayang.
melainkan plastik besar
penuh krupuk plembang
yang harus ia antarkan
ke warung langganan.

Jalanan tak ada kepastian!
terik panas ia libas.
hujan deras pasti terabas.
menyerah?
sungguh tak pantas!

Sebab di pundak kiri,
token listrik gaungkan notifikasi.
sedang di pundak kanan,
susu anak dan uang domestik bulanan
jadi tanggungan.
belum lagi itu ini dan ini itu,
menumpuk jadi satu,
menggumpal jadi batu,
mengepruk kepala ku,
Asu!

Andai bisa,
kadang terpikir ingin
seperti mereka.
setelan rapi,
jas berkolaborasi dengan dasi.
boleh telat datang
ke ruang sidang.

Duduk dengan kaki jegang.
dengan gampang,
membubuhkan tanda tangan.
milyaran rupiah terkucurkan.
dana untuk realisasikan kebijakan.
lalu, jika tak kuat hati,
pasti jadi halal selipkan
seperak di kantong kiri.

kan sedikit tak mungkin
terhitung korupsi?

Kalaupun apes ketangkap,
ya tinggal pake peci.
minta maaf, bilang saja khilaf.
seandainya berakhir di penjara,
ya tenang saja,
di sana masih bisa berdisko ria
dan foya-foya.

Ha ha ha.

Dan aku?
iya, aku?
sibuk menertawakan
hidup yang lucu.

Hah, lucu?

lucu Ndas mu!


***

*Dikutip dari buku vsdiksi hal. 61-62