Nirvana : Pertautan Waktu Dan Persengketaan Nama - Semu #2


***
Kemarin sudah diulas meluas perihal nama Nirvana yang didapat Kurt Cobain dari meminjam satu istilah dalam ajaran agama Buddha. Sekarang, di artikel ini akan saya lanjutkan pembahasan. Masih serumpun, cuma lain dari kemarin.

Simak artikel ini sampai klimaks!

***

Tahun 1967 : Kelahiran Kurt Cobain Dan Debut Album Nirvana Versi Inggris

Jauh sebelum Kurt membentuk band Nirvana, terkenal dan berujung mati muda. Di daratan Inggris sana, era 60-an, ternyata, nama Nirvana duluan dipake oleh sebuah band beraliran Pop Rock. Band ini merilis debut albumnya pada Oktober 1967. Tahun yang sama dengan kelahiran Kurt Cobain. Bukti kebenaran adanya Reinkarnasi?

Album Nirvana Inggris ini berjudul The Story of Simon Simopath. Sayang, ini album kurang laku di pasar musik. Pun dengan karir band mereka yang terbilang nggak berflowers. Mereka gagal beken karena terlalu visioner. Format mereka, duo. Sedang di era itu, industri musik lebih welcome pada format full band. Visioner sekali mereka. Disaat semua A, mereka berani B. Tapi ya, anu....

Kran audiens untuk kolam mereka mampet lantaran nggak bisa promosi album. Entah itu lewat konser maupun tampil live di televisi, tetap saja nggak laku. Meski begitu, Nirvana Inggris nggak mau nyerah gitu saja. Demi terwujudnya cita-cita, ya ada harga yang harus mereka dibayar, lah! 

Memeras darah, Bung. Di kamus mereka nggak ada kata 'menyerah'. Siasat perjuangan mereka upayakan, yakni mereka beradaptasi dengan industri. Mereka ngeblend dengan apa maunya industri. Mereka ngerubah format. Yang semula duo, kini jadi full band dengan merekrut empat member baru. 

Dengan format baru ini, diharapkan bisa membawa Nirvana Inggris mendaki tangga popularitas. Sayang, jargon yang sering digaungkan motivator, yakni "Usaha tidak pernah menghianati hasil", kadang nggak work di real life. Itu kejadian di band ini. Mereka sudah menjinakkan ego dengan merubah format band segala, tapi kok ya nggak terkenal-terkenal. Sialan!

Karena dirasa percuma, frontman Nirvana Inggris berinisiatif mengembalikan marwah band ke format semula, duo again. Formasi ini sempat merilis dua album di tahun-tahun berikutnya. Hingga mungkin, suara batin mereka nggak lagi denail dan legowo menerima kenyataan, "Kayaknya bakat musik kita nggak sefrekuensi sama maunya takdir, fren". 

Tahun 1971 : Kebahagiaan Masa Kecil Kurt Cobain Dan Bubarnya Nirvana Versi Inggris

Sepakat, mereka memilih ambil keputusan : bubarkan band Nirvana Inggris sajalah! Passion, Passion, Tai. Nggak ada prospeknya, men! Nirvana Inggris bubar tahun 1971. Tahun segitu, si Kurt baru empat tahun usianya. Masih ada kebahagiaan yang Kurt Rasakan di rumahnya. Ini bisa ditinjau dalam film dokumenternya yang disutradarai Brett Morgen, yakni Montage Of Heck. 

Sebuah video arsip pribadi keluarga merekam momen perayaan ultah ke-3 Kurt Cobain. Di tahun itu, saya yakin nggak ada satupun keluarga Kurt yang mengira bahwa si kecil ini gedenya bakal jadi rockstar yang memilih suicide. Di situ diperlihatkan wajah kecil yang riang dan cenderung hiperaktif. 

Ia pamerkan binar bahagia ketika ibunya bertanya, "Who are you, Kurt?". Dia yang lagi mainin mainan, sempat menirukan dan mengulang dua kali pertanyaan ibunya. Kemudian, dengan kepolosan yang menggemaskan ala bocah kecil, dia present namanya, "I am Kurt Cobain". Scene ini, bagi para pengagum Kurt Cobain, jelaslah sangat sentimentil. Haru membiru.

Semenjak kecil, ketertarikan Kurt Cobain terhadap dunia seni sudah mulai ditampakkan dari tingkah lakunya. Kurt tipikal anak kecil yang nggak bisa jauh-jauh dari keisengan mencorat-coret. Apapun dan di manapun, semua dianggap selayaknya kanvas yang menanti dilukis tintanya sang seniman. Karyanya pas smp, bikin lukisan karikatur raja musik Pop Michael Jackson, juga Presiden Amerika, Ronald Reagen. 

Kemudian menyenggol soal permusikan. DNA sebagai rockstar kayaknya sudah tertanam dalam darah Kurt. Pasalnya, sejak kecil ia akrab dengan musik. Referensi musiknya ia dapat dari bibinya yang sering nyetel lagu Hey Jude milik Beatles. Dan Kurt sendiri mengakui kalau dia bikin lagu, banyak dapat inspirasi dari The Beatles. Si Kurt mengagumi John Lennon, tapi tidak dengan Paul McCartney. Gitu katanya.

Instrumen musik yang pertama bisa dia mainkan adalah drum set dengan gambar Micky Mouse. Imutnya. Dan di usia empat tahun, Kurt sudah coba-coba bikin lagu sendiri. Ia nyanyikan lagu-lagu yang diciptakan olehnya secara spontan, tanpa uhuy. Seiring beranjak usia, referensi musiknya pun bertambah beragam. 

Menginjak remaja, Kurt dibeliin gitar oleh pamannya. Gitar yang dibelikan, gitar umum. Karena doi kidal, dia rombak sendiri gitar itu agar pas dimainkan jari jemarinya. Lagu pertama yang dikulik Kurt adalah lagunya Led Zeppelin yang berjudul Stairway To Heaven. Dia mengulang-ulang terus permainan gitarnya sampai mahir memainkan lagu tersebut. 

Meski bakat bermusiknya sudah diketahui orang tua sejak kecil, tapi tetap saja ibunya melarang Kurt main musik. Duh, sebuah kisah klasik pertentangan restu ibu versus idealisme anak. Entahlah. Mengapa yang terjadi selalu begitu, ya? Head to head anak versus orang tua, mengapa jadi masalah yang nggak selesai-selesai dari jaman ke jaman. 

Gimana biar antara maunya anak sama maunya orang tua bisa harmoni selaras, bro? Nggak bakal bisa, ya?

Pelarangan itu nggak bikin Kurt nurut. Ya karena jiwa Kurt kadung kecantel di musik. Dan nampaknya, musik dijadikan Kurt sebagai ajang pelarian dari masalah hidupnya yang pelik. Ia rasa musik adalah wadah yang pas baginya untuk menyalurkan hasrat pembangkangan. 

Mungkin itu sebabnya mengapa dia dan musik punk bisa berdampingan. Dia kenalan dengan rupa-rupa band Punk. Salah satu yang diidolakannya, adalah unit punk asal Britania Raya, Sex Pistols. Puas melarutkan diri dalam punk yang anarki, ia kemudian menenggelamkan dirinya dalam musik Alternative Rock. 

Di titik ini, dia mulai beneran bikin band bersama rekan satu sekolahnya yang jadi pemain Bass Nirvana, Krist Novosellic.

Tahun 1985 : Nirvana Inggris Comeback Dan Kurt Cobain Mulai Bikin Band

Tentu, masa kecil-remajanya Kurt Cobain tidak terdeteksi radar pengetahuan para personil Nirvana versi Inggris. Tahu juga enggak, apalagi sampai kepikiran kalau bocah kecil kelahiran Amerika ini, nanti pas dewasa bakal jadi rockstar yang merubah arah industri musik dunia. Tak sedikitpun mereka mengira. Juga perihal nama band. Nggak kepikiran mereka kalau nama yang duluan dipake mereka, yang nggak terkenal-terkenal, malahan sukses besar di tangan Kurt Cobain dan kawan-kawan.

Saya sih bisa membayangkan betapa kesalnya personil Nirvana Inggris begitu pertama kali mengetahui di Amerika ada band yang namanya sama seperti milik mereka, Nirvana. Dan rasa kesal mereka semakin berlipat ganda tatkala seluruh radio dan televisi mengabarkan kalau Nirvana versi Amerika sukses gila-gilaan dan tampil di mana-mana. Kesal!

Tapi mereka belum kesal. Kekesalannya, delay. Dipending dulu biar makin ultimate di masa depan. Nirvana Inggris bubar tahun 71. Setelah bubar, saya nggak tahu gimana kabar mereka. Entah rutinitas macam apa yang mereka jalani untuk ngisi hidupnya. Mungkin ternak Kroto. Yang jelas, 14 tahun setelahnya, yakni 1985, mereka comeback. Dua orang itu bersatu lagi. Menghidupkan mimpi bersama dalam tubuh Nirvana Inggris, yang sempat mereka kubur dalam-dalam, sekian tahun lamanya waktu. 

Comeback Nirvana Inggris ditandai dengan merilis album kompilasi berjudul Black Flowers. Memasuki dan menjalani era 90-an, mereka punya dua rilisan album dengan judul : Secret Theatre serta Orange and Blue. Sementara itu, di Amerika sana, dua tahun setelah Nirvana Inggris comeback, tepatnya 1987, Kurt dan Novoselic memulai keseriusan mendirikan bandnya. 

Waduh, kok bisa gitu, ya? Haha.

Pondasi pertama Nirvana versi Kurt adalah petaka kehancuran bagi Nirvana versi Inggris. Meski memang, diawal karier band bikinan Kurt ini bukanlah ancaman bagi Nirvana Inggris. Jangankan ancaman, Kurt dan Novoselic saja masih mencoba Struggle di fase-fase ketidakpastian yang menyenangkan. 

Seperti misal mereka tampil di gigs-gigs kecil dan dibayar pake sebotol minuman, misal. Juga, saat itu nama Nirvana belum digunakan Kurt Cobain sebagai nama Bandnya. Kurt Masih suka gonta-ganti nama. Manggung di Gigs A, pakai nama ini. Di Gigs B, ganti nama itu. 

Intensitas Kurt Cobain ganti nama band sama seringnya seperti negara tetangga. Iya, negara tetangga yang demen gonta-ganti istilah dalam menyebut kebijakan bikinannya, yang sebenarnya, ya sama aja sistemnya! Mereka pikir, hape Android yang dipasangin casing iPhone bakal bikin orang percaya kalau itu beneran iPhone? Dikiranya sebodoh itu, ya tidak dong! 

Maaf, menyelipkan sebungkus kripik.

Tahun 1988 : Kurt Cobain Memakai Nama Nirvana Untuk Bandnya

Kurt baru memakai nama Nirvana pada kisaran tahun 1988. Di bulan November, setelah sepakat bekerjasama dengan indie label Sub Pop, Nirvana merilis debut single dan album perdana mereka, Bleach. Adapun single ini merupakan remake dari lagu milik band Shocking Blue yang berjudul Love Buzz. 

Setelah dirilis, single ini diedarkan untuk kalangan terbatas saja. Dan bahkan Kurt Cobain turun sendiri untuk ngasih satu kopian filenya ke sebuah radio. Kurt gelisah betul menanti kapan lagunya diputar oleh siaran radio tersebut. Menunggu, menunggu dan menunggu, nggak diputar-putar juga itu lagu. 

Kurt pengin sekali lagunya diputar dan bisa dia dengerin hasil karya itu di radio. Karena tak sabar, akhirnya Kurt menelpon dan request lagunya sendiri. Barulah setelah direquest, lagu Love Buzz versi kebisingan distorsi untuk kali pertama mengudara di Radio Amerika. Ini menandai babak awal kesuksesan Nirvana.

Kesuksesan itu makin dekat tatkala Nirvana pindah asuhan dari Indie ke Major Label. Mereka dikontrak perusahaan DGC Records untuk rekaman album kedua. Jika membandingkan Sub Pop dengan DGC Records dari segi jejaring distribusi, tentu yang menang ya DGC Records, lah. Di bawah naungan DGC Records, daya sebar yang lebih luas berdampak menunjang karier Nirvananya Kurt.

Soal reputasi keberhasilan, DGC Records punya CV yang kredibel. Mereka tercatat berhasil mengorbitkan salah satu band yang besar di era 90-an, yakni Guns N Roses. Dan keberhasilan tersebut diulang kembali oleh DGC Records lewat talent baru mereka, Nirvana. Tak butuh lama Nirvananya Kurt Cobain sudah memeluk gemerlap popularitas dengan erat.

Tahun 1991 : Meledaknya Album Nevermind Dan Lagu Ikonik Smeel Like Teen Spirit

Nevermind, album kedua Nirvana dirilis tahun 1991. Album ini sukses dan laris manis di pasaran. DGC Records bahkan tak mengira angka penjualan album ini sebegitu banyaknya. Mereka hanya menargetkan album Nevermind paling banyak ya 250 ribu copy saja. Berkat lagu Smeel Like Teen Spirit yang sering diputar di MTV, meledaklah dan melampaui target DGC Records terhadap album ini. 
 
Jika meninjau tahun perilisan, sepertinya album Nevermind milik Nirvananya Kurt nggak jauh jaraknya dari dua albumnya Nirvana versi Inggris. Dan bisa dipastikan, dua personil Nirvana inggris mestinya sudah dengar lagu ciptaan Kurt Cobain, Smeel Like Teen Spirits. Mari kita bayangkan betapa kesal dan jengkelnya dua personil Nirvana Englis. Saatnya nyalakan imajinasimu, kamerad!

Situasinya : dua personil ini lagi nongkrong di warkop pinggiran kota London. 

Sambil ngopi, sekalian ngerokok Camel, bisalah ya. Mereka ngopi udud sembari nontonin tayangan yang hype di tahun 90-an, MTV. Acara MTV yang mereka tonton sedang memutar klip Smeel Like Teen Spirit. Dalam clip itu, ditampilkan Kurt, Dave dan Novoselic yang lagi manggung. Ditonton remaja-remaja tanggung. Dan diiringi cheersladers beranggotakan para pelacur yang mengenakan seragam berlogo anarki.

Salah satu personil Nirvana Inggris keasyikan sendiri. Terpejam dan headbang pelan mengikuti ritme hentakan nada band asal Seatle, Amerika. Sementara personil yang satunya, mendadak keselek kopi hingga batuk-batuk lantaran membaca nama band yang video clipnya diputar MTV. Nirvana, namanya. 

Kesal sekali dia. Lalu, ia berujar pada kawannya, "Bro, lihat itu. Apa maksudnya, coba?!! Kok band Amerika ini namanya niru-niru band kita. Sialan, mereka tembus mtv lagi. Brengsek! Bedebah!". Personil yang satunya, tak melontarkan umpatan serupa. Melainkan menggerutu dengan sikap pesimis yang paling optimis, "Hidup ini nggak adil, Fren. Nggak adil. Bener-bener nggak adil!". 

Di kepala keduanya, mereka coba menembus pagar zaman. Menyambangi momen masa silam. Tentang bagaimana beratnya perjuangan menjadi bintang. Kegagalan demi kegagalan yang datang memberi hadiah persakitan. Dan kini, di layar yang mereka tonton, agaknya sudah cukup untuk sadarkan. Bungkus saja impian ini dengan kain kafan. Gali tanah sedalam-dalamnya. Kuburkan dan jangan sekalipun coba untuk menggali ulang.

Pikiran kayak gitu buru-buru mereka tipis. "Nggak boleh, bro. Nggak boleh menyerah. Kita harus melawan. Selagi masih bernafas, jangan pernah memilih naas. Lawan!".

Iya, jelas dua personil Nirvana Inggris ini nggak langsung terima gitu saja. Secara, mereka lebih duluan gunain nama Nirvana untuk bandnya. Dari situ juga kelihatan siapa sebenarnya yang lebih berhak menggunakan itu nama. Jelas, mereka sendiri, lah! Bukan si Kurt yang baru kemarin sore! Ya, mereka bakal memperkarakan hak nama itu.

Tahun 1992 : Persengketaan Nama Nirvana

Terjadilah itu peristiwa. Tepatnya kapan, intinya terjadi di tahun 1992. Tahun di mana Album kedua Nirvana, Nevermind, sukses mendepak Album Dangerous milik Michael Jackson. Nevermind berjaya lantaran menduduki puncak nomer wahid di tangga lagu seluruh dunia. Tak hanya itu, Kurt Cobain pun didaulat sebagai salah satu penulis lagu terbaik di usia yang terbilang muda, 24 tahun.

Di saat kegemilangan Kurt dan Nirvananya, duo personil Nirvana Inggris ini mempersengketakan perkara nama. Agaknya ya, urusan beginian kemungkinan besar ditangani oleh pihak perusahaan yang menaungi Nirvananya Kurt. Karena ya Kurt, Dave dan Novoselic lagi sibuk manggung, mungkin.

Ketika dua personil itu mempersoalkan nama, sepertinya bisa kita tebak akhirannya gimana. Siapa yang menang, siapa yang kalah, sudah jelas. Karena, yang dilawan dua personil ini, itu major label. Pemilik modal. Jelas sudah, kapitalis. Dan mana ada, kapitalis yang mau ngalah gitu saja? Adakah? Nggak ada, men!

DGC Records, jelas punya kepentingan terhadap kepopuleran Nirvana. Dan tentu mereka nggak rela semisal Nirvananya Kurt diganti namanya, misal jadi Nirlaba. Mereka maunya untung, kok malah disuruh jadi nirlaba. Ya nggak mau, lah! 

Mungkin, jika semisal Nirvananya Kurt ganti nama, itu bakal berimbas pada meredupnya karier band. Mungkin juga mereka sudah menghitung berapa rugi yang didapat jika Nirvana ganti nama. Jadinya ya mereka coba negosiasi sama dua personil ini.

Selesain masalah secara kekeluargaan, istilahnya gitu.

Close SssstttttšŸ¤«

Permasalahan ini menemui pangkal ujungnya ketika dua personil Nirvana Inggris bersepakat melepas dan merelakan nama Nirvana digunain oleh Kurt Cs. Saya awalnya curiga, jangan-jangan dua personil Nirvana Inggris ini tahu soal Falsafah Jawa : Nrimo ing Pandum. Eh, ternyata dugaanku meleset. Mereka baru bisa rela setelah dikasih lembaran uang 100 ribu dolar Amerika.

Dan ya, kita semua tahu, lah, ya : Jika kapital berbicara, idealisme bakalan hahaha haaaalaah embuh!! 

Sekian.