Nirvana : Kurt Cobain Meminjamnya Dari Ajaran Buddha - Semu #1

O-Pening

Ihwal menulis rekam jejak sang rockstar- Kurt Cobain-, agaknya bisa dikategorikan sebagai tulisan reportase. Di mana saya membaca, mengumpulkan data, untuk kemudian menyajikan ulang lewat tulisan. Tulisan yang sepertinya sih nggak jauh beda ya dari artikel serupa di rimba luas internet sana. 

Karena jika mau dicari samanya, tentu pembahasan ini tulisan 11/12 dengan artikel di media lain. Dan jika dicari bedanya, ya mungkin cuma beda pada penyajian bahasa, style tulisan versi saya sendiri. Dikarenakan ada kemungkinan sama, sebisa mungkin saya mengurangi potensi plagiasi. Dengan tidak pelit mencantumkan sumber referensi terkait.

Nirvana : Produk Gagal Punk?

Edisi perdana rubrik semu, saya berupaya mengulik riwayat nama dari band yang digaungi Kurt, Dave dan Novoselic. Ya, Nirvana. Kurt dalam sebuah wawancara pernah bilang ketika ditanya perihal nama Nirvana, "Aku menginginkan nama yang terdengar indah, baik, dan cantik ketimbang nama-nama punk yang vulgar seperti Angry Samoans". Sekilas info, Angry Samoans merupakan band punk asal Los Angels, Amerika. 

Diketahui, Kurt merupakan seorang yang addict dengan musik Punk. Nirvana sendiri, mulanya hendak mainin dan bikin musik Punk. Tapi Publik menganggap musik Nirvana bukanlah Punk. Genre yang pas untuk musik seperti Nirvana, ya Grunge. Dan terbukti, Nirvana sukses besar dan dianggap punya andil dalam mempopulerkan skena Grunge ke seantero dunia. Meski begitu, Kurt enggan musik Nirvana dilabeli sebagai Grunge. 

Dia menunjukkan ketidaksukaannya dengan mengenakan kaos bertuliskan, "Grunge is dead". Entahlah. Saya heran mengapa band grunge yang besar seakan nggak sudi dibilang Grunge. Selain Nirvana, kasus serupa juga terjadi pada Pearl Jam. Sang vokalis, Eddie Vedder, lebih senang dirinya disebut sebagai musisi rock ketimbang grunge. Sebuah ironi, why?

Asal-Usul Nama Nirvana

Sebelum ketemu nama Nirvana, Kurt sempat punya sejumlah nama untuk bandnya. Beberapa diantaranya : Poo Poo Box, Designer Drugs, Whisker Biscuits, Spina Biffida, Gud Bomb, Egg Flogg, Pukeaharrea, Puking Worms, Fish Food, Bat Guanna, Imcompotent Fools, juga Skid Row. Nama-nama yang terkesan raw sekali.

Nama Nirvana mulai dipake tetap sebagai nama band pada tahun 1988. Konon, Kurt menemukan nama Nirvana setelah menonton siaran televisi tengah malam yang menayangkan segmen acara seputar agama Buddha. Benar tidak cerita asal muasal ketemu namanya, kurang tahu saya. Tapi yang jelas, adalah sebuah fakta bahwa Kurt punya ketertarikan terhadap ajaran Buddha.

Kurt Cobain dan Perjalanan Spiritualnya

Ini menarik dibahas, kaitan tentang value spiritualitas yang dianut sang rockstar. Sama seperti kita semua, Kurt kecil juga memeluk agama yang dianut orang tuanya. Orang tua Kurt penganut Katolik. Namun, sebab konflik internal keluarga agaknya membuat pertumbuhan masa remajanya berjarak dengan tuhan. Ia terjerumus keliaran absolut remaja dengan menjadikan cimeng sebagai pelarian. Dan ia menemukan ketenangan, justru di sana. 

Hingga tahun 1984, Kurt menyudahi rutinitas mengganja, kembali taubat menjadi penganut Katolik yang taat. Kurt bahkan pernah menjadi penceramah untuk Jesse, seorang sahabat yang ia menumpang tinggal di rumahnya. Hmm?

Setelah sempat taat sesaat, kembali Kurt ke jalan di mana tuhan tak dipedulikan eksistensinya. Dia menjalani hidup tanpa menganut agama, a.k.a Ateis. Cukup lama dia berada di fase ini. Sampai kemudian, ia memeluk kepercayaan baru. Bermula dari dia menyukai logo Swastika, Kurt beralih menjadi penghayat Jainisme. Sebuah agama yang lahir sebagai satu gerakan reformasi dalam tubuh agama Hindu, di India pada abad ke-6. 

Tak lama, Kurt kepincut sama ajaran Budha, yang cenderung lebih soft ketimbang Jainisme. Mungkin karena semua kejadian di kehidupan Kurt bergerak begitu cepat, ia butuh sesuatu yang ritmenya pelan dan tenang, dalam harmoni keteraturan dan keseimbangan. Dan Buddha, mungkin adalah jawaban atas kegundahan pertanyaan jiwanya. Hingga akhir hayat Kurt memeluk Buddha sebagai pegangan spiritual. 

Kurt mengakhiri hidupnya ketika popularitas berada dalam genggaman tangan. Peluru kaliber ukuran 99mm, ia tembakkan ke kepalanya sendiri. Dia, pergi. Karena Buddha sebagai keyakinannya yang terakhir, prosesi setelah kematiannya pun dilaksanakan sesuai ajaran Buddha Siddhartha Gautama. 

Jasad sang rockstar dikremasi, sebagian abunya di tanam depan pohon Willow, di taman depan rumah. Sebagian lagi dibawa sang Istri, Courtney Love, untuk disimpan di wihara Buddha Namgyal, Itacha, New York. Kemudian tahun 1999, anak perempuan Kurt, Frances Been Cobain, menaburkan abu ayahnya ke Sungai McLane dengan iringan doa seorang biksu. 

Tentang ajaran Buddha, Kurt Cobain dan Nirvana, saya punya hipotesa : Kurt Cobain sepertinya banyak memanifestasikan ajaran Budha ke dalam lagu yang dia ciptakan. Soal ini, mungkin lain waktu saya akan coba menguliknya. Barangkali benar demikian, entahlah. 

Sekarang balik lagi pada pembahasan soal nama Nirvana. Kurt meminjam satu istilah dalam ajaran Buddha untuk menamai bandnya. Dalam ajaran Buddha, Nirvana bisa diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang sanggup melepas diri dari siklus reinkarnasi dan tidak lagi terperangkap dalam dukka (penderitaan) kehidupan dunia fana.

Konsep Nirwana dan Reinkarnasi Dalam Ajaran Buddha

Nirvana atau Nirwana atau Nibbana, bukanlah surga. Nirvana adalah kebahagiaan tertinggi, satu keadaan abadi di mana tidak ada lagi penderitaan yang dirasakan oleh orang yang telah mencapainya. Orang bisa mencapai Nirvana tanpa harus mati dulu. 

Bahkan ketika masih hidup, tak mustahil seorang bisa menggapainya. Orang bisa mencapai Nirvana asal dia mampu menjalankan dengan baik ajaran Buddha Gautama. Yakni dengan cara melenyapkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha). 

Manusia perlu menenangkan hasrat-hasrat itu untuk kebahagiaan yang jauh lebih hakiki. Jika sebaliknya, malah memanjakan diri dalam perangkap inderawi, manusia akan mengalami siklus yang dinamakan reinkarnasi. Reinkarasi sendiri berarti terlahir kembali. Seseorang yang belum mencapai Nirvana, ketika dia mati, dia akan dilahirkan kembali di dunia. 

Yang lahir kembali adalah jiwanya, bukan fisiknya. Sementara fisiknya sendiri, wujudnya nanti menyesuaikan dengan perbuatan yang setimpal yang dulu ia lakonkan di kehidupan sebelumnya. 

Artikel Plot Twist

Ngomongin Reinkarnasi, mendadak saya jadi teringat karakter Pat Kai dalam serial film Journey Of The West. Sedikit ngelantur, nggak apa-apa, ya..

Diceritakan dahulu Pat Kai merupakan seorang panglima perang di kekaisaran langit yang bernama Tiang Feng. Dia punya wibawa lantaran memegang jabatan yang cukup prestisi di kekaisaran tersebut. 

Singkat cerita, datang seorang perempuan bernama Cang Eh yang tak sengaja terdampar di teritorial istana kaisar. Melihat itu perempuan, Tiang Feng jatuh hati pada kecantikan dan pesonannya. Segala cara coba dilakukan sang panglima untuk memikat hati si perempuan. 

Sialnya, si perempuan lebih tertarik menautkan hatinya pada lelaki lain. Lelaki itu secara strata terbilang lebih rendah di bawah jabatan sang panglima. Saya lupa nama si lelaki ini. Asal mula Cang eh jatuh hati pada si lelaki, adalah karena ketika dia hampir jatuh sesaat setelah terdampar di istana, dia ditolong si lelaki yang menangkap tubuhnya.

Tiang Feng kesal bukan main. Harusnya dia yang lebih pantas menangkap tubuh Cang Eh waktu itu. Iri dan dengki membikin sang panglima coba mengakali 'takdir', dengan mengulang kejadian terlewatkan menggunakan semacam mesin waktu. Scene ini memuat banyak unsur komedi yang ngehe. Pada intinya, Tiang Feng tetap saja gagal dalam upaya memperbaiki nasibnya meski diusahakannya berulang kali. 

Sampai akhirnya, perbuatan Tiang Feng diketahui kaisar. Perbuatannya, melanggar hukum yang berlaku. Sial betul Tiang Feng. Sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah nggak dapat cintanya Cang Eh, malah kena hukuman.

Ia dihukum berat. Untuk mengganjar ulahnya, ia diusir dari kekaisaran langit dan hidup sebagai manusia biasa di bumi. Tak sekedar itu, dia perlu menjalani kehidupan dengan tiada henti merasakan duka dan kesedihan. Adalah ia dihukum dengan nasib buruk mengalami 1000 penderitaan cinta. Scene ini terbilang tragis, tapi lucunya ultimate. 

Dia hidup di bumi, jatuh cinta, hampir bahagia, tapi tak jadi. Cintanya gagal, mati dan reinkarnasi. Jadi manusia lagi. Kehidupan berikutnya, kisah serupa dengan lakon berbeda, dialami olehnya. Menderita. Begitu terus berulang terus. Sampai suatu kali, entah di kehidupan yang ke berapa, Tiang Feng muak dengan penderitaan cinta ini. 

Di akhirat, dia memberontak. Menolak untuk dilahirkan kembali. Ketika dia disuruh meminum sesuatu cairan kehidupan, dianya nggak mau. Mbeligar dia, men. Meronta-ronta. Sekuat tenaga melepas cengkraman para petugas akhirat. Berhasil, loloslah dia dari penjagaan. Dia berlari menjauh dan selamatkan diri dari kejaran para penjaga. Namun sial, pas lagi lari kencang, dia kejeblos di lubang reinkarnasi khusus binatang. Getir nian nasib kau, hei Tiang Feng.

Iya sih, memang dia berhasil lolos untuk tidak menjalani hukuman 1000 penderitaan cinta lagi. Tapi apesnya, dia malah reinkarnasi dengan wujud baru, sebagai babi. Dan jauh hari setelahnya, dengan kondisi fisik setengah babi setengah manusia, masih saja dia kepincut cinta. Dan tiap dia kepentok kegagalan cinta, dia selalu berucap pasrah, "Begitulah cinta. Deritanya tiada akhir". Itu sedikit riwayat menyedihkan si Babi.

Closet

Waduh. Dari Kurt Cobain, kok ya bisa-bisanya sampai melenceng jauh ke Pat Kai babi celeng. Betul-betul ugal-ugalan! Haha. 

Duh, sebenarnya ini masih perlu melanjutkan ulasan soal nama Nirvana. Karena masih banyak yang belum ke eksplore. Tapi sepertinya sudah terlalu kepanjangan ini tulisan. Ada baiknya, disambung saja lain kesempatan. 
Mohon maaf atas penulisan yang konsepnya nggak jelas blas dan ngelantur ke mana-mana. 

"Katanya sih, Reportase. Reportase macam apa ini, hei Penulis Amatiran! Ngawur antum!".

Ya namanya juga platform berkelakar. 
___________________
___________________