Mahaplung Dan Konektivitas Orang Sange - Keresahan Berkesenian #2

Tulisan ini bakal panjang. Jadi siapin dulu : rokok, kopi, wedangan, cemilan, juga sekalian, kasih sayang.

Ini cerita mengenai platform mahaplung. Platform yang usianya terbilang masih muda. Baru kemarin sore. Ya mirip-mirip lah seperti remaja SMP yang kalau habis ngerokok dilanjut ngemut permen kiss. Biar bau asapnya nggak kecium orang tuanya gitu. 

Masih hitungan bulan platform ini terdeteksi search engine google. Banyak kekurangan di sana sini. Banyak pembenahan yang pelan-pelan sedang diupayakan. Berbenah dari segi tulisan, tampilan serta navigasi yang memudahkan yang mulia : para pembaca yang jenaka dan budiman. 

Ceritanya, disaat Mahaplung sedang melakukan pembenahan di sana sini, terjadi satu fenomena yang mengusik, menggelitik dan meresahkan. Bermula dari seorang kawan yang iseng bikin screencast atau video tangkapan layar yang nampilin aktivitas ponselnya ketika sedang mengakses situs mahaplung. 

Olehnya, video itu ditambahin sedikit teks persuasif. Dan dibagian akhir video, dibikin ngeblur. Kemudian video itu beliau upload ke tiktok. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, konten itu meledak, viral. Sekarang jumlah viewsnya tembus 3 juta penayangan. Gokil!

Karena narasi dalam video berupaya mengarahkan atau merekomendasikan orang-orang untuk berkunjung ke situs ini, tentu mahaplung kena imbasnya. Platform yang biasanya cuma dikunjungi tak lebih dari hitungan sepuluh jari, kemarin mendadak kebanjiran visitor.

Lebih dari sejuta orang penasaran. Lalu memutuskan konsultasi ke Mbah google. Hingga akhirnya mereka nyasar ke sini, ke kolam kecil mahaplung. Tentu saya kaget dengan ledakan visitor yang banyaknya gila-gilaan. Entahlah, ini kecelakaan atau justru keajaiban. 

Satu yang bikin heran. Mengapa di kolom komentar orang-orang pada minta diamond FF gratis, sih? Info dari mana, dari siapa? Memangnya di video itu ada ya kawanku nulis keterangan mau bagi-bagi diamond gratis? Setahuku sih nggak ada, ya.

Efek domino dari viralnya video tak berhenti hanya pada ledakan jumlah visitor. Para penasaran itu, bahkan sampai meneror nomer whatsapp yang tercantum di Mahaplung. Lebih dari 300 nomer asing masuk dan ngechat sejak dua hari terakhir. Tiada henti, nomer baru datang silih berganti. Make some noise!

Mereka menyerang nomer tersebut dengan chat-chat yang terbilang freak. Mungkin karena konektivitas orang sange, ya, jadinya chat yang masuk kebanyakan menjurus ke arah yang begituan. Salah satu yang paling ngehe, tiba-tiba saya dichat, "bisa open bo?". Sialan, dikira saya ini germo apa gimana, hei?!

Ada juga yang ngechat, "mau jadi pacarku?". Duh, mohon maaf, nih. Semisal antum mau nyari pacar secara online, ya bisalah pake dating apps. Tinder atau Taaruf ID atau apalah gitu. Boleh kok dicoba. Di sana stock kandidat calon pacarmu melimpah ruah dengan spesifikasi yang bervariasi. Bisalah nyari di situ. 

Jangan nyari ke sini, dong. Nyari pacar kok ya di Mahaplung. Aneh bener kau ini, bung bung. Sisanya, yang paling banyak, adalah rentetan 'P' dan pertanyaan. Pertanyaan yang berupaya mencari validasi atas temuan mereka yang tak sesuai ekspektasi. Buntut dari rasa penasaran. Mereka mengira, Mahaplung merupakan platform sejenis brazer atau semacamnya. 

Mengira kalau di sini ada video yang memfasilitasi mereka, guna menyalurkan hasrat libido tak tertahankan. Padahal, Mahaplung bukan platform yang begitu. Bukan. Konten di mahaplung itu memuat value-value filosofis spirituil. Haha. Duh, rahasia dapur jadi kebuka. Sialan!

Iya. Saya paham kenapa mereka bisa sebegitu agresifnya sampai-sampai ngechat segala. Itu bisa dijelasin secara psikologis. Sok-sokan pake teori. Seorang Psikolog Behaviorisme asal Amerika Serikat, yakni B.F Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia terbentuk apabila dilakukan stimulus atau rangsangan yang didapat dari lingkungannya. 

Nah, dalam konteks kejadian ini, stimulus tersebut adalah video bikinan kawanku. Sedangkan tingkah laku yang ditimbulkan, adalah tindakan mencari dan mengunjungi situs mahaplung, ngechat, bahkan sampai ada yang langsung video call. Aneh! Baiklah, mari kita bedah satu persatu. Dimulai dari kerangka videonya dulu. 

Durasi videonya cuma 33 detik. Durasi yang singkat namun memikat. Beliau membuka videonya dengan narasi meyakinkan, "Yg Lagi Viral!!!". Sebelumnya, satu hal perlu digarisbawahi. Jelas, kawanku bukan peramal yang sedang meramal kontennya sendiri bakal viral. Dia cuma menerapkan satu pola yang memungkinkan orang jadi penasaran. Satu kalimat pendek yang beliau sisipkan, cukup ampuh menjaring perhatian audience yang tak sengaja ngelihat konten itu di berandanya.

Mungkin beliau mengetahui satu riset yang mengatakan kalau fokus audience ketika melihat suatu konten, itu hanya pada kisaran delapan detik pertama. Makanya diawal video beliau menempatkan satu narasi ajakkan yang meyakinkan. Yang langsung nyantel di kepala. Dan itu bikin orang mantengin layar ponselnya. Terus menonton video buatannya sampai tuntas.

Ketika fokus audience sudah didapat, beliau arahkan mereka untuk ngikutin apa yang dia lakukan dalam videonya. Yakni masuk ke browser dan ngetik keyword: mahaplung.com. Begitu situs terbuka, dengan cerdik beliau bikin blur videonya. Tentu cara ini bakal menaikan dosis rasa penasaran mereka. Ditambah pula dengan satu narasi lagi yang menggantung ekspektasi. 

"Scroll-scroll aja buat pilih-pilih". "Dijamin langsung plung". 

Sampai sini, saya paham kira-kira apa yang terlintas di kepala banyak orang begitu selesai nonton videonya. Kata viral, tidak bisa tidak membuat orang untuk mikirnya ke arah yang ngeres. Karena memang fenomena yang sering terjadi, ya begitu. Yang viral pasti nggak jauh-jauh dari begituan. Yang bermutu itu sulit, atau katakanlah jarang sekali bisa nembus tembok interest selera mainstream. 

Isi pikiran audience sudah di situ. Setelahnya, mereka tergerak untuk ngikutin step by step yang diinstruksikan dalam video. Mereka buka google, ngetik keywordnya. Mungkin ada yang typo ketika ngetik. Jadinya situs gagal diakses. Terus mereka balik lagi ke tiktok. Nonton ulang videonya. Mengingat lagi keywordnya, lalu kembali ke google untuk percobaan kedua kalinya.

Dan berhasil. Mereka akhirnya masuk dan mengakses situs ini. Mereka scroll dari atas ke bawah. Klik link ini, link itu. Mencari-cari apa yang dicari. Tapi nggak nemu-nemu. Pasti mereka jengkel. Merasa ditipu, dikadalin. Tindakan berikutnya yang mereka lakukan, bermacam-macam bentuknya. 

Ada yang nulis di kolom komentar. Ada yang ngisi form terlampir. Dan banyak juga diantara mereka yang terfokus ngelihat papan bilboard besar di bagian paling atas platform. Kemudian mereka klik itu. Muncul pop-up yang perlu di Acc terlebih dulu sebelum beralih ke Whatsapp. Setelahnya, tampilan layar beralih dari browser ke kolom chat personal.

Mereka yang kadung penasaran, pengin banget memastikan, "mana nih yang viral". Maka kebanyakan chatnya, ya gitu. Ada yang ngechat baik-baik. Menanyakan sopan. Tak sedikit, ada yang langsung ngegas, mengumpat. Beberapa malah tetiba langsung vc. Dipikir bakal diangkat. Tentu tidak. Dan akhirnya ya mereka dikecewain ekspektasi sendiri. Wakwaw. 

Your mind plays trick on you, friends!

Di sini saya perlu bilang, bahwa kawanku, itu jenius. Jenius, man! Apresiasi untuknya. Keproki! Cerdik nian dia punya propaganda. Dia mainnya di tepian perbatasan. Narasi yang dibikinnya, abu-abu. Bukan hitam. Narasi videonya masih tergolong abu-abu! Dan kalaupun orang yang ngelihat video itu menganggap warnanya hitam, ya itu sih interpretasi orang itu sendiri.

Iya. Memang sih hampir semua orang, termasuk saya, ketika ngelihat konten semacam itu, pastinya mikirnya ke situ. Kenapa ke situ? Karena kesangean itu berefek nutupin akal sehat. Dan kalau mikirnya ke situ, jelas ada yang nggak beres di kepala kita. Dan tidak beresnya kepala kita, ya kita sendiri yang perlu membenahinya. Tidak semestinya jadi tanggungan orang lain, dong? 

Benar begitu, kan?

Membaca ratusan chat yang masuk, satu sisi bikin kesal. Tapi di sisi lain, itu menghibur. Karena ya kocak. Dan kelucuan dirasa semakin ultimate ketika saya ngecek statistik pengunjung situs. Satu juta orang. Terbayang olehku, satu juta orang ini kok bisa-bisanya terjaring oleh narasi marketing yang dibikin iseng-iseng oleh kawanku. Satu juta bukan angka yang sedikit, loh. Hebat betul kawanku itu. 

Dan karena viral di tiktok, konon katanya, keyword mahaplung menjadi salah satu yang paling banyak dicari orang-orang di mesin informasi raksasa Google. Dan lagi-lagi saya kaget ketika search keyword mahaplung di google. Ternyata ada beberapa portal web yang mengulik, mengulas dan membahas situs kecil ini. 

Dari beberapa portal web yang saya baca, hampir semuanya membahas mengenai apa arti mahaplung. Ada yang mengartikan berdasarkan semboyan mahaplung, yakni proses mengantar ke suatu plang, lalu mencari titik plung, hingga akhirnya menemukan rasa plong. 

Ada juga yang berpendapat bahwa Mahaplung adalah sebuah tulisan yang berbentuk kata puisi, pantun cinta atau bisa juga curhatan seseorang yang sedang galau, gelisah dan gundah gulana karena putus cinta. Waduh, bisa gitu ya artinya. Baru tahu saya malahan. Haha.

Satu lagi, ada artikel yang menyebut bahwa mahaplung merupakan situs yang menyedikan kata-kata berbentuk meme, akan tetapi tulisannya aneh dan di typo-typo kan. Awalnya saya bingung mencerna maksudnya. Sebab saya tidak merasa kalau mahaplung itu isinya kata-kata berbentuk meme. 

Tapi kemudian saya paham. Mereka mengartikan itu berdasarkan tumbnail yang dipasang di tiap artikel yang terpublikasi. Ooh, begitu rupanya. Ya meskipun artikel-artikel yang mengulas mahaplung itu terkesan terlalu banyak nempelin keyword -biar seo-, tapi bolehlah diterima tafsirannya. Senang sekali saya membaca ulasan kawan-kawan.

Eh, tapi sebenarnya mahaplung itu artinya apa sih? Bridgingnya gimana? Alus nggak?

Nama mahaplung sendiri dipilih karena satu alasan : saya pengin bikin platform dengan nama yang benar-benar tanpa arti, tanpa makna. Bebas nilai, begitu kiranya. Jadi, jika ditanya apa arti mahaplung, jawabannya tentu saja 'tidak ada artinya'. Itu awalnya. 

Dan karena mungkin saya ini bukan orang Eksakta, jadi ya saya bikin dulu baru mikir. Bukan mikir dulu baru bikin. Dan seiring berjalannya waktu, saya coba untuk merefleksikan ulang penamaan sekaligus pemaknaannya. Hingga akhirnya ketemulah itu makna. Ternyata, makna itu ngumpet di sini, di kedalaman nurani. 

Seperti halnya emas, saya perlu menggali tanah terdalam untuk dapat menemukannya. Setelah kelihatan kilauanya, saya angkat ke permukaan. Saya bersihkan sisa tanah yang nempel. Kemudian saya bentuk sedemikian rupa hingga mewujud perhiasan yang layak dikenakan oleh orang tersayang.

Dan wujud makna itu, tak lain adalah semboyan yang menjadi konsep utama dari Mahaplung : Mengantar ke suatu plang, Mencari titik plung, Menemukan rasa plong. Ya kurang lebih seperti itu maknanya. Selanjutnya, saya bebaskan orang-orang menafsirkan tiga kalimat pendek itu sesuai pemahamannya masing-masing.

Setelah ledakan pengunjung di mahaplung terjadi, saya coba menahan diri sebentar dengan tidak meresponnya. Saya nggak mau moment ini lewat begitu saja tanpa ada hal penting yang bisa saya renungkan dan pelajari. Saya coba menganalisa semuanya, sebisa dan semampunya.

Dari keisengan cerdik yang dilakukan kawanku, serta reaksi yang ditimbulkan orang-orang, menjadikan saya teringat pada satu teori. Teori yang pernah saya dengar dari Lord Adriano Qalbi. Seorang stand up komedian, merangkap podcaster sekaligus pemimpin pasukan Kolam Tai.

Beliau pernah bilang yang intinya, kalau semua aplikasi yang sukses, itu pasti memuat satu atau lebih dari tujuh dosa pokok. Seven capital sins. Tujuh dosa pokok itu diantaranya : Kesombongan, ketamakan, iri, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. 

Cek saja semua aplikasi yang kita pakai. Pasti ada satu bahkan lebih dari ketujuh unsur tersebut. Dulu saya yakin kebenaran teori ini karena masuk akal, rasional. Namun sekarang ketambahan satu faktor penguat, yakni pengalaman empiris. Jadinya kepercayaan pada teori tersebut makin dipertebal.

Balik lagi ke Mahaplung. 

Jika ditinjau dari teori Bung Adri tentang Start-up dan tujuh dosa pokok tadi, tentunya yang menggiring orang untuk berkunjung ke situs ini ya tiada lain adalah hawa nafsu. Konektivitas orang-orang sange, katakanlah begitu. Duh, seandainya saja saat ini Mahaplung bisa dimonetisasi. Pastinya banyak keuntungan nominal yang didapatkan. Namun sayang, platform ini masih non profit. Sialan! Haha. 

Tidak apa-apa.

Oh, ya. Semisal nih, ada diantara pembaca sekalian yang punya perusahaan dan butuh ide kreatif untuk pemasaran, bisalah kawanku ini diajak gabung. Kejeniusan ini orang nggak perlu diragukan lagi, bos. Sudah terbukti. Kontak saja beliau. Nama keren beliau, Jonisu. Sekarang beliau sepertinya sudah jadi Influencer Tiktok. Sudah siap diendorse katanya. Klik link ini untuk ngobrol dengannya.

Oke, sudahlah. Terakhir, hikmah yang saya petik dari kejadian ini, menarik satu garis kesimpulan. Bahwa, di era yang mengutamakan permukaan, ledakkan visitor tanpa mutu sejatinya hanyalah kutukan! Sekian.