Gagap Gulita Sosial Media - Serpihan Puisi #8



Ingat, ya.
aku ini sinyal 4G.
sadarlah,
manuver ku cepat sekali.
sekali aku mengedipkan mata,
ragamu ragu dalam pelukan maya.
hanya sekian karakter aku mengetik,
rumahmu bakal hancur terusik.
sentuhan gesit jempol kanan,
meluluhlantahkan segala
ketidakmungkinan.


Jangan lupa!
postinganku tak sekedar
aksara sumbang.
ia mampu membangun,
sekaligus menghancurkan.
tentu saja menghancurkan kamu,
sayang!


kau kan resah dalam genggaman.
ribuan kilometer kau lari
tunggang langgang,
sedikitpun tak dapat kau menghindar.
aku menerkam dari setiap
sudut teritorial.
aku adalah bayang
yang selalu kau sangkal.


Mau bersemedi di gersang
gurun pasir Saudi,
atau berlindung di kehangatan
ketiak Amerika,
atau membenci tapi menikmati
made in China,
dan bahkan jika kau mengkultuskan
berhala di selatan Korea,
aku tetap jadi bayangmu di mana-mana.
dan dari sini, aku mampu
membunuhmu seketika.


Nanti,
mayatmu ku kuburkan
di semak linimasa Facebook.
bunga-bunga yang aku taburkan
adalah cuitan twit-twit bermoral.
nisanmu ku percantik dengan
filter terbaru Instagram.
tentang kematianmu, kan ku kabarkan
lewat pesan siaran Whatsapp.
prosesi pemakamanmu ramai
oleh tarian hot Tik-Tok, Like, dan Bigo.
dan video dokumentasi akan aku viralkan
melalui jajaran trending Youtuber kenamaan.


Kau mati dalam keadaan bahagia,
mendapat jutaan view, ribuan like,
ratusan komen, dalam satu status
doa sosial media.


Itu terjadi, bila kau tak melawan.
tapi ku yakin, sepenuhnya
kau tak bakal diam.
tentu kau kan balik menyerang.
dan aku, telah siapkan
gladi resik peperangan.
kita saling bunuh-bunuhan
dengan hate komentar.


Lalu kita sama-sama mati,
bersamaan dengan habisnya
kuota bulanan.
dan sayang sekali,
berita kematian kita
tak ada yang mengabarkan,
melalui denyut nadi
notifikasi media sosial.


Sungguh, sialan!


***


*Dikutip dari buku vsdiksi hal. 72-74