Duh Gusti, Harusnya Nggak Begini - Keresahan Berkesenian #3


Dulu ada seorang gadis penari, yang menari liar di pikiranku. Liarnya serupa ular kobra yang keinjek buntutnya. Gadis ini bilang ke saya, "Sesuatu yang dimulai dengan bismillah, tidak bakal berhenti di tengah-tengah". Bagus, detail conversationnya masih saja keingat. Masuk ke long term ternyata dia.

Kata-katanya hinggap, lalu menetap selamanya dalam kepala. Darinya, saya diajarkan satu kurikulum penting kaitannya dengan proses kekaryaan. Kurikulum yang secara teori mudah, tapi secara praktek, susahnya nangudubillah. Adalah konsisten atau istiqomah.

Ngomongin konsisten, reputasi saya terbilang buruk. Dulu pernah sedikit saya senggol dalam tulisan semi serius edisi perdana. Tentang beberapa platform yang saya bikin dan kelola untuk sebarkan propaganda ideologi sripilan karya. Jika belum baca, link birunya 👉 Klik, klik, klik saja segera.

***

Sebelum menahkodai Mahaplung, saya pernah menjadi tukang di beberapa platform. Dan hampir semua platform itu, nggak ada satupun yang usianya panjang. Ya, semua platform selalu berakhir dengan dilenyapkan sendiri oleh saya, sebelum sempat benar-benar tumbuh dan berkembang. Saya coba cari tahu alasan di balik platform bikinan saya yang entah kenapa selalu berakhir mati muda.

Setelah melakukan investigasi diri, ternyata masalah bermuara pada pondasi pertama. Semua platform itu dibikin dengan pondasi dasar yang nggak kuat, dicor menggunakan semen orientasi yang dangkal. Yakni angka, sekedar nominal semata. Nggak mentingin value-nya lebih dulu. Begitu mungkin, sebabnya.

2019, tahun di mana mulai kepikiran untuk bikin kolam sendiri. Kolam yang semoga saja bisa menampung ikan hiu ganas yang semula tinggal di kepala. Satu alasan, saya nggak sudi membiarkan mereka stay di dalam sana. Karena dengan membiarkan, hiu ganas sialan itu bakal mencaplok habis kepalaku, mati. 

Juga saya iba pada mereka. Mereka terlalu besar untuk mendiami ceruk sempit kepala. Mereka berdesakan di sana. Protes padaku untuk segera dikeluarkan karena space-nya sudah kepenuhan. Jika tidak segera dikeluarkan, mereka mengancam bakal mengkudeta kepalaku dengan kegilaan yang mengerikan. Ya, saya pikir seharusnya begitu. 

Sudah semestinya semua rasa perlu dibikinkan outputnya. Maka, gagasan membikin kolam harus beneran direalisasikan. 

Makin lama hiu ganas itu nampaknya makin bedebah. Puncaknya di pertengahan tahun. Saya mulai dikerubungi berbagai kegundahan soal-soal hidup yang kompleks. Seperti misal, tentang pekerjaan. Ada pertentangan batin dalam diri saya menyangkut kerja : mau milih kerja versi ideal kepala atau kerja versi standar hidup normal? 

Satu sisi, saya pengin mewujudkan ideal di kepala itu menjadi nyata. Memiliki kehidupan yang bebas dari tuntutan rutinitas yang menurutku, sama sekali nggak ada enaknya. Saya pengin berkesenian. Biar hidupnya nggak terpenjara dan always merdeka. Sebab dalam diri saya nggak ada sedikitpun keinginan untuk menggantungkan penghidupan lewat korporasi perusahaan. 

Saya nggak mau menjadi seperti yang dibilang Mas Seno Gumira Ajidarma, "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

Nggak ada bayangan kebahagiaan jika saya menghabiskan hidup dengan cara seperti demikian. Itu ideal saya. Tapi seringkali hidup nggak merestui ideal. Atau katakanlah, ada skenario lain yang mengharuskan tertundanya ideal itu diwujudkan. Saya perlu kerja untuk memenuhi kebutuhan harian. Karena itulah, saya bungkam suara hati dengan mengiyakan untuk melamar kerja. Ya, suka nggak suka, garisnya begitu. Gas saja.

Mulailah saya melempar map cokelat ke kantor instansi yang sesuai dengan bidang keahlian yang sedikit saya kuasai. Tapi sialnya nasib berkata lain. Lamaran yang diajukan hampir semuanya berkiblat pada satu ucapan sopan santun yang manis, yang saya tahu, itu cuma template : Dua minggu lagi nanti dikabarin. 

Dua minggu menunggu dalam kehampaan, nggak ada satupun kabar yang datang. Iya, tahu kok saya kalau lamaran itu ditolak. Tapi mbok ya diperjelas saja nolaknya biar nggak menunggu dengan ketidakpastian yang memuakan. Mending sekalian saja ditembak dengan senapan terus mati kemudian, ketimbang dicekoki narkoba yang pelan-pelan pasti bakalan ngerusak organ tubuh. Gitu, analoginya.

Kegundahan lain yang menyapa di tahun 2019, soal perbisnisan. Beberapa bisnis kecil-kecilan saya coba jalankan, bergantian. Coba A, B, C, D dan semuanya sama, gagal. Haha, Makan itu enterpreneur! Keuntungan memang ada, tapi nggak seberapa. Sudah nggak seberapa, uangnya nggak tahu larinya ke mana. Saya jadi merasa begini : dapat uang dari bisnis itu sama seperti nuduh orang sebagai simpatisan pki jaman orba. Hari ini dapat uang, besoknya lenyap menghilang. 

Itu bisnis konvensional. Pun saya coba ngeblend dengan jaman, jualan online. Tapi sama aja hasilnya, malah lebih nggak jelas. Menjalankan bisnis konvensional, meski sedikit, tapi setidaknya uangnya ada, nyata. Tapi ketika beralih ke bisnis online, boro-boro dapat uang, malah waktu saya habis diperas cuma untuk mikirin gimana strategi jualannya. Banyak banget yang musti dipelajari, men. Pusing saya. Harus inilah, harus itulah, harus ini itulah, harus itu inilah. Halah ngepet!

Sudah pusing nggak dapat kerja. Bisnis yang dijalankan nggak ada prospeknya. Malah ketambahan konflik internal partai perasaan yang mengganggu kewarasan. Kacau berantakan.

Ini semua perlu ada pelariannya. Kalau nggak, ya bisa gila saya. Niatnya mau lari ke hal-hal yang tidak-tidak. Tapi untung saja, kewarasan berfikir masih sedikit stabil. Jadi, tiada lain dan tiada bukan, satu-satunya pelarian paling tepat, ya berkesenian. Apalagi memang selain seni yang bisa menyelamatkan? Saat itu yang lain nggak ada! Adanya cuma seni.

Gagasan bikin kolam itu kembali menyeruak. Di saat genting dengan situasi yang serba sinting. Saya duduk santai di warkop langganan di area pemberhentian moda transportasi angkutan kota. Sambil kebal-kebul udud, melintas ide di kepala. Saya tangkap dia, saya borgol biar nggak lari ke mana-mana. Dapatlah itu kandidat nama untuk platform yang akan saya kelola. 

Nama platformnya : matifuckshit. Iya, plesetan dari kata 'motivasi'. Saat itu langsung saya eksekusi. Langsung bikin kost-kostan platform di Instagram.

Tentu bisa ketebak, di akun tersebut pasti kontennya bukan motivasi-motivasi bijak. Di situ isinya gerutuan, sumpah serapah dan umpatan yang dibalut busana kepesimisan akut. Saya jungkir balikkan logika yang mengharuskan berfikir optimis. "Ngapain optimis? Pesimis sajalah!", begitu kira-kira konsep yang dipropagandakan akun tersebut. 

Satu catatan dari akun itu yang masih kesimpen, kurang lebih begini : setengah dari pesimis adalah sikap membenarkan dan menerima realita yang ada. Sedangkan setengah dari optimis adalah upaya penyangkalan untuk menghibur diri dan menutupi fakta sebenarnya.

Waktu itu akun @mtfcksht nggak begitu saya seriusin. Ya sesimpel dibikin untuk sekedar memfasilitasi diri ngumpat-ngumpat saja. Tapi karena sedikit dioptimasi dengan praktek teori yang pernah dipelajari pas berbisnis online. Juga karena mungkin saat itu ada banyak orang putus asa yang merasa senada dan sefrekuensi, serta merasa terwakili dengan suara gerutu @mtfcksht, jadilah growth itu akun terbilang cepat.

Jika benar orientasi saya angka, dengan pertumbuhan pengikut yang cepat naiknya, saya harusnya senang dengan hasilnya, kan? Tapi nyatanya nggak 100% benar seperti demikian. Justru saya jadi mikir, kenapa ketika nggak serius malah hasilnya lumayan bagus? Kenapa dulu pas serius bisnis online malah hasilnya nihil belaka? Dari pikiran seperti itu, semakin menguatkan diri saya untuk tidak jadi orang yang optimis. 

Dan demi menunjang kehendak untuk tidak jadi orang optimis, saya peluk pertanyaan itu untuk dijadikan bahan gugatan. Aneh sekali, ya? Disaat semua manusia berlomba-lomba untuk menanamkan positif mindset, saya malah menolak dan pengin membunuh semua keoptimisan di kepala. Itulah sedikit gambaran tentang betapa semrawutnya jalan pikiran di kegelapan masa itu.

Saya hadirkan sepaket pertanyaan tersebut ke persidangan mahkamah pikiran. Saya menggugat : Mengapa usaha serius hasilnya becanda? Mengapa yang iseng malah menghasilkan sesuatu yang tak disangka-sangka? 

Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian beranak-pinak menjadi berbagai macam kemungkinan jawaban. Mereka terus bergerak tak tentu arah, mencari dan mencari jawaban pasti dalam pikiran. Membuat pikiranku sumuk, mendidih dan mengepulkan asap-asap kepusingan. Hampir meledak itu pikiran, memuncratkan isinya yang nggak seberapa. 

Tapi untungnya, pengadilan itu buntu. Jawaban nggak ketemu. Gugatan tak diteruskan. Saat kau mulai merasa gila sendiri di kepala, jangan lama-lama kejebak di sana. Cepat-cepat keluar segera. Balik ke kenyataan yang harus dijalani.

Saya kembali ke realita. Dan ndilalahnya, taraf kehidupan mengarah ke situasi yang lebih menyenangkan. Kegelapan pelan-pelan tersorot sinar pencerahan. Saya ketemu pekerjaan yang sesuai passion, kata orang sih gitu. Bekerja sebagai penulis lepas harian di media pribadi milik entah seseorang. 

Seseorang yang sampai detik ini bahkan saya nggak tahu namanya siapa. Saat itu sedikitpun saya nggak punya kepedulian untuk mengenal bos ku ini secara personal. Kepentinganku dengan orang ini cuma sebatas gaji. Saya garap yang dia minta, dia dibayar saya, beres. Kurang lebih sama seperti pelacur, lah. Gitu kasarannya.

Saya menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Terlalu sibuk, dari pagi sampai menjelang dini hari, bekerja sesuai arah redaksi. Nulis, nulis dan nulis berbagai topik yang sebenarnya nggak saya suka. Tapi ya kerjakan sajalah. Lagian, slogan Pak Jokowi "kerja, kerja, kerja", agaknya lebih make sense ketimbang "berkarya, berkarya, berkarya" tapi nggak ada duitnya. 

Hingga akhirnya platform @mtfcksht terlantar nggak keurus. Lalu mati kemudian. Sudah saya kubur dia dengan tidak ada kesedihan, apalagi penyesalan.

Melakukan pekerjaan di bidang yang disukai, memanglah menyenangkan. Terlebih bila diganjar dengan bayaran. Tentu menambah dosis rasa senang. Awalnya, saya merasa begitu. Senang rasanya nggak perlu bangun pagi, jam kerja fleksibel sesuka dan semau sendiri. Meski tetap, ada kaidah yang harus saya taati. Tapi ya saya terus saja bertahan dengan itu pekerjaan sampai setengah tahun lebih. 

Sampai kemudian, yang saya kerjakan digugat pikiran sendiri lewat pertanyaan : apa kamu nggak kepikiran bikin tulisan untuk diri sendiri dan berkemungkinan dapat uang lebih besar ketimbang menulis untuk orang lain yang bayarannya nggak seberapa? Sialnya, pikiran itu malah di-acc oleh saya. Money oriented!

Saya lepas pekerjaan itu. Nganggur lagi. Nggak ada pemasukan lagi. Dan semua itu dilakukan demi mengejar satu mimpi yang belum pasti. Ninggalin sesuatu yang sudah pasti demi mengharap sesuatu yang belum pasti dan baru berkemungkinan : mungkin jadi pasti. Atau kalau mau disederhanakan pake istilah : nggak realistis.

Berbekal ilmu yang saya colong selama bekerja menjadi penulis lepas, sedikit banyak saya tahu gimana caranya pak bos make money. Saya bikin platformnya, dengan blogspot. Saya kasih nama platform itu : vsdiksi. Iya, judul buku puisi yang saya tulis adalah reinkarnasi platform lama tersebut. Belum punya bukunya? Belinya di sini 👉 Klik, klik, klik saja segera.

Beres semua dengan urusan teknis, mulailah saya isi platform vsdiksi dengan konten tulisan yang katakanlah, idealis. Konten di platform vsdiksi lebih banyak menghadirkan kritik pada situasi dan kondisi yang terjadi di negara ini, sewaktu awal-awal pandemi. Idealis betul tulisan di platform vsdiksi. 

Saking idealisnya, sampai berkali-kali ditolak ketika mengajukan portofolionya ke jasa pengiklanan. Katanya, "vsdiksi memuat konten-konten yang terlalu vulgar dan sensitif". Makan lagi itu idealis! 

Kecewa saya, bung. Saya sudah melepas pekerjaan yang pasti demi mengejar sesuatu yang harapannya bisa bikin lebih makmur bahagia bersahaja, tapi ternyata, ya begitulah adanya. Sialan! Saya tidak menyerah untuk mengupayakan lagi dan lagi agar vsdiksi bisa jadi platform untuk make money. Caranya, dengan memperbaiki sistem dari dalam. 

Konten-konten yang tidak komersial, saya hapus dari platform. Saya ganti dengan konten-konten yang lebih mainstream. Atau kalau mau lebih jujur menyakitkan, saya mengisi vsdiksi dengan konten-konten sampah. Iya, sampah. Vsdiksi mengumumkan pada khalayak ramai bahwa ia mempunyai slogan baru : revolusi adaptasi menuju berdikari. Wah, nampak pretensius sekali, ya. 

Tapi ternyata saya salah strategi, saudara-saudara. Ternyata bikin pengumuman soal rencana-rencana, itu nggak baik bagi kesehatan. Ternyata, rencana yang diumumkan, itu didengar kuping dunia yang brutal. Sekali rencana diceritakan, itu nggak bakal kejadian di kenyataan. Pasti gagal, men. 

Seharusnya, ya, kalau punya rencana itu kayak gerilyawan saja. 

Gerilyawan pantang ngebocorin strategi dan taktik peperangan. Karena sekali bocor rencananya, ya penyerangan nggak bakal terealisasikan dan otomatis gagal. Mereka harus bergerak diam-diam, dalam kesunyian di rimba-rimba hutan. Menyamar sebagai rumput, merayap dalam malam dalam gelap. Nggak pake pengumuman segala gitu.

Dan nggak harus banget diketahui siapapun. Yang boleh diketahui orang : berita pasukan gerilyawan memenangkan peperangan atau mereka terbunuh mati oleh pasukan lawan. Gitu saja konsepnya.

Dan sepertinya, kamu sudah menebak bagaimana nasib akhir platform vsdiksi. Tiada lain, sama seperti rekan seperguruan yang terdahulu : mati muda. Pelaku yang melenyapkan nyawanya, ya siapa lagi kalau bukan saya. Alasannya : dia sudah kujadikan pelacur tapi kok ya nggak dapat uang seperak pun.

Harusnya kan nggak gitu cara mainnya, duh gusti....