Bukan Kolam Ikan Puisi - Rilisan #2

Kumpulan puisi
_____________________________
_____________________________

[1] Masker
.....
Bolehkah aku
melepas tali maskermu?
Tenang, aku sudah Vaksin.
Sini, kiri dan kanan 
pipimu, sun.
.....
_____________________________
_____________________________

[2] Ribut bin Ribet 
....
Baru mau tidur, 
kamar sebelah ribut 
debatin agama. 
di internet, 
netizen ributin
perkara negara.
di kemarau dompet, 
ribut soal keuangan 
yang kayak nggateli.
sedang di pikiranku,
ribut tentang kamu.
kamunya ribet, 
muter-muter nggak jelas,
bikin pusing saja.

Hei, panadol, 
di mana kau!
.....
_____________________________
_____________________________

[3] Sarapan Bubur Kertas
.....
Kamu tepis imanku yang tipis.
Merobek lancang kertasnya 
di pinggiran kanan. 
Bolongnya kekal bekasnya 
kesiram air mineral, 
tempias melebar.

Makin ke sana, 
dosa mendekat ke sini. 
Menggigil doa-doa 
kala lakban selimuti rona rohani 
yang merana melawan durjana 
yang menghambat roda perputaran pahala.

Kau ruwetkan bias batasan 
kebenaran dengan kebinalan.

Kamu suka yang abu-abu 
dan ngeblur. 
labur kesaksian sakralku 
perlahan kabur, 
kertasnya hancur lebur 
menjelma jadi bubur,
seiring sang waktu 
mencoreng tinta hitam 
yang meluncur menjelang temaram 
dari lajur kiri silit ubur-ubur 
yang terlilit hutang perjanjian 
dengan setan yang menyenangkan.
.....
_____________________________
_____________________________

[4] Dikira Romantis
.....
Bulan tanggalkan purnama
dan pasrahkan separuh jiwanya
bertempat tinggal di kediaman 
matamu yang menatapku 
dengan kedipan mata
ala Jaja Miharja. 

Tunggu bentar.
biar safety, jangan lupa 
daftar asuransi Jasa Raharja.
biar bilamana terjadi 
laka lantas percintaan,
yang bikin hati patah
juga meradang gelisah, 
pengobatan luka ku dibiayai
setengahnya oleh negara.

Halah, ngawur betul puisinya!
mana ada lukaku 
ditanggung negara.
yang jelas-jelas ada, 
Lukaku pemain bola.
.....
_____________________________
_____________________________

[5] Judulnya X
.....
Di balik puisi romantik
dengan diksi ndakik-ndakik
tersimpan segudang problematik:

hati yang rematik
pikiran jungkir walik
puyeng, karyanya tak dilirik
ketika datang musim paceklik
dompetnya traumatik
dan penyair kian tercekik 
oleh derita yang artistik.

kapankah ketemu titik?
semoga nanti, 
matinya kharismatik.
.....
_____________________________
_____________________________