Sebuah Cerpen Yang Jelas-Jelas Tidak Jelas

Seminggu aku bersembunyi. Berjarak dengan society. Bersedih sepanjang hari. Mengunci diri dalam kamar dan enggan untuk keluar. Sebab saat ini, jiwa berantakan sekali. Kalam, seorang kawan yang bermukim di kotaku sana, datang ke kost-an. Sengaja ke sini hanya untuk ngecek apakah aku masih hidup atau sudah mati. Dia dengar kabar kalau aku frustasi. Dia mau meluangkan waktu ditengah ketidaksibukannya, demi menghiburku. 

Dia tahu semuanya. Baik awalan maupun kini akhiran, kisah bahagia yang ujungnya bikin aku menanggung duka derita. Atas nama solidaritas, begitu dengar kalau aku di sini berantakan, dia langsung nyamperin aku di perantauan kota pelajar. Dia gedor-gedor pintu kamar. Dari dalam, aku dengar. Namun memilih bungkam. Gedor pintu dan teriakannya makin kencang. Tapi aku tetap diam. Menatap langit kamar, dinding kusam, dan dibayangi kekalutan perihal kenangan. Tatapanku kosong, serupa orang waham. 

Mungkin karena kesal, dia dobrak pintu kamar. Engselnya patah, kayunya rusak. Jebol juga ini persembunyian. Keadaan kamar gelap. Samar ku lihat dia berjalan mendekat. Masuk ke dalam. Menyalakan lampu. Dan kini duduk di sudut kasur yang tipis dan kapuknya menyembul keluar. Duduk di situ, lama dan menghela nafas cukup panjang. Mungkin, di dalam pikirannya, dia tak pernah menyangka bahwa perempuan itu, bisa membuat kawannya berpotensi mengalami gangguan jiwa. 

Dia mendekat ke arah ku. Dia tampar pipi kanan dan kiriku. Bolak-balik. Cukup keras tamparannya. Namun aku tak bergeming. Tak sedikitpun aku merasakan sakit karena ditamparnya. Aku tetap saja melamun, diam. Dia menarik kerah bajuku. Mengangkat tubuh yang layu. Menyandarkannya ke tembok. 

"Bangun, goblok!", Teriaknya, berkali-kali. Aku tahu, dia sedang berupaya menyadarkan aku. Biar aku tak larut dalam kesedihan. Tapi nyatanya, upaya yang dia lakukan, sia-sia. Keadaanku sepintas mirip seperti mayat melek. Nggak punya sedikitpun daya dan tenaga untuk merespon yang sedang diupayakan oleh Kalam. Dia hempaskan nafas kekesalan.

Kemudian, dia membakar rokoknya. Dengan bahasa non-verbal, dia menawarkan rokok kepadaku. Aku merespon dengan jemari menunjuk ke arah meja. Di sana, bergeletakan sembarang putung-putung rokok. Berantakan di atas meja, sama berantakannya seperti perasaan dan pikiran.

"Bro. Aku ngerti betapa kacau perasaanmu sekarang", ucapnya. 

Dia melanjutkan, "Aku saksi nyata seperti apa kisah cinta kalian. Delapan tahun. Jelas, itu bukan waktu yang sebentar".

"Kisah yang, ya terbilang cukup romantislah". 

"Nggak nyangka saja, begini akhirnya".

Dia tersenyum. Mencibir seseorang perempuan nun jauh di sana. Perempuan yang berhasil merusak tatanan batin kawannya. Sementara, aku masih saja melamun. Kosong. Benar-benar kosong. Kosong yang isinya kosong.

Tapi lambat-lambat, bibirku mulai bergerak. Tersenyum sejenak. Dan mendadak tertawa terbahak-bahak. Lalu, aku beranjak. Berdiri dan merenggangkan kedua lengan tangan. Menggerakkan tubuh yang lama terkapar. Bunyi-bunyi tulang berulang-ulang terdengar.

"Sepertinya kau perlu keluar. Menjauh dari kepengapan kamar. Menghirup udara luar yang segar. Biar tidak terus-terusan meratapi kepergian itu perempuan", ucapnya.

Ide bagus. Aku iyakan. Ku bilang, aku mandi dulu. Biar kembali bugar, tak lagi seperti pagar besi yang karatan. Aku bergegas ke kamar mandi. Menutup pintu. Membuka kran, mengucur itu air ke dalam penampungan. Mengambil segayung dan guyur ke sekujur badan. Baru sekali guyuran, kepalaku kleyengan. Pusing nggak karuan. Tatapan mataku buram. Ngeblur, objek penglihatan kabur. Aku tak ingat betul apa yang terjadi kemudian. Yang pasti, saat itu aku sudah tak sadarkan diri. 

Sayangnya aku cuma pingsan. Padahal, aku berharapnya mati saja sekalian. Ya biar di masa depan, setidaknya aku meninggalkan legacy di kost ini. Biar kost ini punya urban legend. Desas-desus kabar kalau dulunya di kost ini ada salah satu penghuninya yang mati ketika lagi mandi. Mau mandi, eh malah mati. Matinya sebab nggak kuat lagi menerima pahitnya realita, kekalahannya. Matinya sebab menanggung beratnya patah hati. Pacar yang begitu dicintai, dibawa kabur oleh entah siapa lelaki. Pedih, men. 

Setelah mati, rohku bakal gentayangan. Tapi tentunya aku nggak mau gentayangan di kost-an. Lagian, ngapain juga gentayang di sini? Aku nggak punya kepentingan untuk begitu. Nggak mau. 

Aku, bakal gentayang di sana, di rumahnya. Rumah milik keluarga kecil yang mungkin sedang bahagia-bahagianya. Rumah yang dihuni mantan pacarku dengan suaminya. Aku akan ke sana setelah mereka selesai menjalankan ritual pasca pernikahan. Tapi tenang saja, aku nggak ganggu mereka. 

Aku ke sana cuma mau melakukan eksperimental. Mau mencari kebenaran faktual dari apa yang orang hidup bilang. Kata orang hidup, makhluk halus bisa nembus tembok. Aku kurang percaya pada hal-hal yang ranahnya takhayul macam itu. Makanya aku perlu membuktikan dengan mata kepala sendiri. Biar aku jadi orang mati yang berpengalaman. Biar bisa ngisi CV dengan pengalaman pernah nembus dinding kamar pengantin mantan pacar.

Aku bakal duduk di pojok jendala kamarnya. Ongkang-ongkang kaki. Tentu aku sambil ngerokok dan ngopi. Lalu akan aku amati seberapa lama pertahanan dan kekuatan suaminya. Paling lama, ya palingan tiga menit. 

Dan ada satu misi utama yang paling aku pentingkan. Adalah aku ingin memastikan bahwa di raut wajahnya terukir kebahagiaan. Bila sudah ku lihat sendiri dia bahagia bareng suaminya, tentu aku akan ikut bahagia juga. Meski jelas, bahagiaku ya cuma pura-pura.

Setelah misi selesai, aku balik ke kuburan. Ngapain di sana? Mengukir batu nisan dengan tangisan. Duduk di atas tanah kuburan yang masih basah. Dan tambah basah oleh derasnya tangis yang menerjang wajah, serupa air bah. Puas nangis, aku menyelinap masuk hendak berbaring tenang dalam tanah kuburan. Tapi sialan. Pocong-pocong senior penghuni area pemakaman malah menarik ujung atas kain kafan. Brengsek! Sudah mati masih saja ada ospek. Ternyata ada juga ya arogansi senioritas di sini.

Iya, itu semua memang nggak beneran kejadian. Ya orang aku cuma pingsan. Dan begitu sadar, aku sedang terbaring di rumah sakit. Dengan selang infus melekat di pergelangan tangan. Dengan dikelilingi ibu dan bapak, adik dan kakak, serta beberapa kawan. 

Ketika mata terbuka, aku melihat mereka semua. Mereka bergegas mengerubungi aku. Melempar puja dan puji rasa syukur. Ada haru kurasakan di hati. Aku berupaya menggerakan lisan ketika mereka selesai memanjatkan syukur dan doa-doa. Mulutku tipis terbuka, kemudian spontan aku berkata, "Ku kira kalian di sini lagi pada yasinan".