Haruskah Bikin Tiktok? - Keresahan Berkesenian #1


 

Orang yang seleranya stuck, bahkan cenderung mundur kejauhan dari jamannya, itu ketika dituntut mengikuti hegemoni kemajuan jaman, yang muncul di pikirannya, "Hah? Harus banget nih nempelin lagu yang begitu itu? Aduh!". Di telinga saja nggak masuk. Apalagi di jiwa. Nggak masuk, tapi dipaksa dimasukin. Mungkin ini kali ya yang dulu dirasain Kurt Cobain ketika dia nulis lirik, "Rape me, my friends!". Pantes, dia batinnya menjerit, men. Mengerikan.

Di sini saya mau bercerita. Sedikit gambaran tentang bagaimana sakitnya pikiran dalam mengurai bundetnya keresahan. Tulisan ini bakal panjang. Jika kamu punya waktu luang, silakan nikmati output keresahan yang disajikan dalam tulisan yang cukup renyah dan enak dikunyah (sepertinya, sih). Membebani diri sendiri.

******

Tentang Tik Tok. Padanya telah saya tanam sikap antipati sejak awal kemunculan. Karena, di sana banyak bertebaran hal-hal yang why. Yang memicu kegatelan di pikiran untuk mencibir segala ketololan yang ditimbulkan. Yah, coba pikir saja. Betapa tidak why ketika gadis remaja seusia SMP sudah seperti kesetanan. Rela bayar ratusan ribu, yang uangnya minta orang tua, hanya untuk ikut meet and greet bareng idola. 

Tak sampai di situ, ketololannya makin parah tatkala idola mereka diserang. Mereka membelanya membabi buta. Waw, rupanya idola mereka setara tuhan yang sakral dan nggak boleh dinistakan. Faklah! Nggak habis pikir saya. Mbok ya kalau mau nyembah berhala, ya yang kredibel dan pretensius sedikit, lah. Einstein, Marx, atau Nietzche, atau bts-lah minimal. Lah ini, nyembah kok ke yang cuma joged-joged nggak jelas dan lipsync umak-umik cangkem. Bener-bener nggak masuk akal. 

Saya pikir, hampir semua orang waras pada masa itu sepakat, kalau di sana, itu isinya cuma kebodohan yang diviralkan. Banyak sensasi. Kaya akan kontroversi. Miskin substansi. Nggak berkebudayaan. Menihilkan moralitas keagamaan. Semi porno dan merusak generasi muda penerus bangsa. Ya, itu penjajahan gaya baru yang arahnya jelas-jelas mau meracuni anak muda. Berkedok kemajuan lewat piranti teknologi bernama media sosial. Saya sih bakal ragu sama kredibilitas calon presiden di masa depan jika dia passionnya joged-joged kayak cacing kepanasan.

Mohon maaf, istilah-istilah yang dipakai sok ngintelektual. Harap maklum, kemarin saya didiagnosa dokter kesadaran diri, kalau saya terjangkit gejala virus culture shock. 

Oke, lanjut. Saya resah pada fenomena itu. Saya punya kecenderungan membenci platform tersebut. Nggak mau nyentuh barang sedetikpun. Jangankan mengkonsumsi produknya, cuma sekedar download saja, itu saya sudah merasa terhina. Pada waktu itu, loh ya. Lain dulu, lain kini. 

Karena ada satu momen di mana saya nggak bisa ngelak dan menghindar lagi. Mau nggak mau, harus mau download itu aplikasi. Ada tugas kuliah, disuruh bikin video tiktok. Tugas itu, bikin saya merenung cukup lama untuk sekedar memutuskan iya dan tidaknya. Kebimbangan nentuin pilihan ini ya mirip-miriplah seperti ketika ditodong pertanyaan yang intimidatif, "Kamu lebih milih temanmu ketimbang aku yang pacarmu ini, hah?"

Semisal saya ngerjain tugas, artinya, saya harus download itu aplikasi. Dengan mendownloadnya, kesucian ponselku jadi ternodai. Idealisme yang selama ini saya agungkan, runtuh. Saya sudah kebayang bakal dimasukkan ke dalam neraka. Dijadiin kayu bakar. Hangus, dihidupin lagi. Dibakar lagi. Dan itu semua sebagai penebusan dosa karena saya telah melacurkan idealisme, mendownload tiktok. Dan siksaan itu ditambah tingkatan rasa sakitnya karena alasan melacurnya cuma demi angka-angka untuk ngisi lembar ijazah nanti. Tapi masalahnya, semisal saya tidak ngerjain tugas, ada keamanan yang bakal terancam. Untuk apa idealis kalau dana segar yang menghidupi per semesternya beresiko dicabut hanya karena nurutin ego semata? 

Sebenarnya sih saya sudah tahu ya mau milih yang mana. Cuma, saya sangkal terus itu kesadaran. Saya benamkan ke dalam ketidaksadaran terdalam. Hingga kemudian, setelah tak lagi menyangkal, kesadaran itu muncul ke permukaan perlahan-lahan. Serupa pertapa yang nerima wangsit dari bisikan suara-suara gaib, "Apa hinanya? Wong sekedar mencoba?". Make sense. Suara itu saya benarkan. Kesadaran itu tak lagi disangkal. Saya iyakan. Oke, download. Cie, bikin tiktok. Mulailah saya mikirin konsep videonya. 

Jelas, saya nggak mau bikin video joged-joged sambil jari telunjuk nuding ke tulisan yang dimotionkan. Jangan segitunya lah. Wagu. Akhirnya saya putuskan untuk pake format yang sudah biasa saya kreasikan dalam kekaryaan. Satire. Mempergunakan simbol, meminimalkan keterangan. Itu, bakal memicu orang untuk mikir dan pertanyakan, "Ini maknanya apa?". Dan video itu jadinya begini.

Setelah tugas beres, persepsi saya dalam memandang aplikasi itu sedikit-sedikit mulai berubah. Itu karena saya sadar, selama ini saya membenci sesuatu yang saya sendiri nggak tahu betul-betul dalemannya seperti apa. Nggak tahu banyak, langsung generalisasi, dan bersikap antipati. Ya fasisnya kurang lebih sama-lah seperti n***r* yang membakar buku-buku *i*i. Tidak lulus sensor. Dan saya tahu betul, sikap macam itu nggak betul. 

Saya salah sasaran. Salah pemetaan. Logikanya kacau. Menganggap kalau kelakuan bodoh itu pasti sepaket dengan tools yang digunakan. Tiktok, ya itu cuma tools. Sama halnya seperti pisau. Kalau digunain untuk ngupas buah, ya nggak masalah. Tapi kalau untuk ngebunuh orang, ya, yang disalahin jangan pisaunya dong. Yang salah, kejahatan itu orang. 

Kesadaran itu baru muncul ketika kita mau melepas kacamata yang jarak pandangnya justru memendekkan jangkauan penglihatan. Baru muncul ketika kita mau mencoba mengerti. Ngelihat sesuatu secara lebih objektif. Mengambil jarak dari ranah yang sifatnya asumsi subjektif. Lagi-lagi, saya diingatkan oleh tulisannya Mbah Pram di buku Bumi Manusia, "Kamu terpelajar. Kamu harus berlaku adil sejak dalam pikiran. Apalagi perbuatan". Oke, saya aktualisasikan pengetahuan dari kutipannya Pram tersebut. Sedikit-dikitnya, ke cara pandang saya menilai aplikasi Tiktok. Meski setelah selesai ngerjain tugas, saya nggak otak-atik apapun selain secepatnya uninstal itu aplikasi dari ponsel. Alasannya karena merasa nggak punya kepentingan lagi untuk terus gunain itu aplikasi. Bukan karena benci dan antipati seperti dulu. 

Sampai suatu hari saya dibenturkan kepentingan ketika belakangan sedang gencar menyebarkan tulisan di Instagram. Katakanlah, istilah kerennya sedang membangun personal branding. Dengan ngepush pritilan karya ke media sosial. Biar ditengok audiens selain orang yang sudah dikenal. Dengan tujuan utama, ya apalagi kalau bukan jualan. Saya mau hidup bersahaja, makmur dan sejahtera lewat jalur kesenian. Menghidupkan karya dan karya itu menghidupi saya. Alasan lain, yang lebih dari sekedar angka nominal, adalah saya nggak rela jika semisal besok saya tiba-tiba mati, karyaku hanya dinikmati oleh kalangan sendiri. Nggak rela saya. Orangnya, boleh mati. Tapi namanya harus abadi. Dan mewujudkan itu semua, saya perlu ninggalin legacy.

Jadilah piranti yang ada dan memungkinkan, saya pergunakan untuk melancarkan propaganda. Dan sebetulnya, ya, instagram bukanlah mainan baru bagi saya. Sebelum sekarang, dua-tiga tahun lalu saya sudah melakukan hal serupa. Bedanya cuma tidak mengatasnamakan pribadi. Melainkan pakai topeng. Biar apa? Biar orang-orang yang saya kenal, nggak tahu kalau saya 'berkarya'. Beberapa topeng yang saya kelola waktu itu antara lain matifuckshit, vsdiksi, dan fakamitetep. Isi kontennya, ya nampar-namparin hal-hal yang why. Selain tiga itu, satu akun lagi saya gunakan untuk jualan buku online, yakni manifestasibook. Semua akun sudah dilenyapkan.

Tapi, lama-lama topengan bikin gatel eksistensi. Mulailah saya persiapkan segala rencana. Berhitung seberapa resikonya. Dan bergegas tanggalkan itu topeng. Saya telanjang. Tapi sial, begitu berani telanjang, alogaritma instagram tak lagi menggairahkan seperti tahun-tahun terlewatkan. Tidak memuaskan. Mereka lesu. Sebab perhatian orang-orang, direbut kompetitor yang sedang wangi-wanginya. Ya, si Tiktok. Semua orang beralih ke sana. Semua. Bahkan orang-orang yang saya kenal idealis, yang dulunya juga bersikap apatis, kini malah punya hubungan romantis sama tiktok. 

Saya yang baru mulai lagi di instagram, lagi-lagi mau nggak mau harus segera gelar tikar di sana. Kalau nggak, ya keburu hype-nya turun. Ketinggalan momen. Kesempatan terlewatkan. Nanti begitu muncul kesadaran kalau di sana itu penting, bakalan kesusahan. Pontang-panting dan akhirnya terpelanting. Pengalaman sebelumnya di instagram sudah lebih dari cukup dijadikan kurikulum pembelajaran. Bahwa polanya : kemarin akan diakumulasi jadi hari ini. Hari ini diakumulasi jadi besok. Dan besok, bakal balik nama jadi hari ini lagi. Sekarang yang ada, ya cuma hari ini. Nggak ada yang namanya besok. Nothing!

Jadi, mumpung belum basi, ya janganlah alergi. Nggak boleh alergi sama kemajuan, men. Orang yang alergi kemajuan, bakalan mati dia. Ya kayak orang yang hidup pas jaman api, nggak bisa dia dengan gampang bilang, "Dih, apaan. Mainan kok api". Orang itu, dia besoknya mati, men. Kedinginan. Kalau mau survive, ya perlu belajar menyeimbangkan diri dengan maunya jaman. Karena faktanya, jaman yang milih orang. Bukan sebaliknya, orang yang milih jaman. 

Dan karena fakta itu, sepertinya saya mau disuruh menjilat ludah sendiri. Dan itu nggak masalah. Orang yang menjilat ludahnya sendiri, itu orang yang mau maju. Penjelasannya begini : jaman itu bergerak. Perubahan nggak bisa dielak. Mau jilat ludah sendiri, artinya mau meralat yang dulunya dianggap benar, namun sekarang udah nggak relevan. Yang demikian, itu apa namanya kalau bukan progres kemajuan? Iya, kan? Ya lagian, memang ludah siapa lagi yang mau dijilat selain milik sendiri? Mana sudi ludah orang lain!

Sudahlah. Nggak bakal kuat melawan maunya jaman. Berat, men. Mending kompromi. Ubah cara pandang soal bagaimana harusnya berkesenian. Lagian, sudah banyak pengetahuan baru yang masuk di kepalaku, yang berujung mengobarkan revolusi pemahaman secara radikal. Old mind does'nt work! Revolusi itu telah membakar habis pikiran sumbu pendek, salah satunya perihal idealisme.

Sesuatu yang dulu dianggap idealis, nyatanya bukan idealis betulan. Itu egosentris. Nggak mau melakukan kalau nggak sesuai sama kemauan ideal. Padahal kan tahu, mana ada di dunia ini yang benar-benar sesuai ideal kita. Nurutin ego terus, ya jadinya bego. Harus ada kompromi. Karena kalau nggak kompromi, terus kemudian kalah, yang disalahin faktor eksternal. Nggak nengok kesalahan dari sistem berfikirnya sendiri. Terus, nanti menggunakan idealisme sebagai tameng biar kesannya superior. Kalah, bikin pemaknaan, "Saya idealis. Nggak ngejar yang begituan! Dih, apaan!". Padahal dalam hatinya menggerutu, "Nggak ada hasilnya, bajingan!". Dan yang kayak begitu, bikin Nietzche mencibir, "Apalagi yang diupayakan orang kalah, selain bikin pemaknaan yang klise dan memuakan? Hanya itu bisanya!".

Paham kayak gitu semestinya usang. Egosentris jangan terus diterus-terusin. Kalau diterusin, nanti cuma jadi penggerutu yang merasa keren, padahal cuma di kepalanya sendiri. Menyedihkan. Idealis boleh, menyedihkan jangan. Ayolah, kompromi. Ganti manuver dan strategi. Siasati gimana caranya biar idealisme nggak mati, tapi bisa relevan dengan arus kemauan pasar. Dan cara termudah, adalah mengemas idealis dengan balutan selera mainstream. Kemasannya pop, tapi substansi punk. Gitu. 

Ibarat sebuah restoran, sang juru masak nggak perlu menerangkan ini itunya tentang resep masakannya. Yang dia perlukan hanya menyajikan makanan yang enak untuk pelanggan. Hanya itu. Lagian, seberapa penting sih resep-resep bagi si pelanggan? Mereka kan tahunya dan maunya cuma apa yang mereka makan, itu enak. Itu saja. Nggak lebih. Perihal idealis, satire-kan lagi dalam karya yang sudah satire. Puyeng, ya? Saya juga!

Sementara itu, tools untuk menyebarkan karya, nggak boleh saklek. Nggak boleh fanatik. Harus fleksibel. Nggak ada lagi itu prinsip menolak segala macam kemungkinan dari cepatnya perubahan jaman. Yang boleh fanatik, hanya tujuan. Soal caranya, strateginya, itu fleksibel saja. Semua cara bebas dan layak digunakan untuk mencapai tujuan. Batasnya cuma satu : jangan segitunya lah. Semisal kamu punya kepentingan mau ke Malioboro. Caramu untuk nyampe ke sana, ya bisa pake kendaraan apa saja. Jangan hanya karena sukanya naik motor, begitu nggak ada motor, malah nggak jadi ke sana. Kan bisa naik Trans Jogja, Ojek Online, bahkan jalan kaki sekalipun, kalau ada kemauan, bakal nyampe. 

Jangan fanatik harus pakai motor. Apa sajalah, yang penting nyampe. Tapi ingat, boundaries-nya, "Jangan segitunya lah". Kamu boleh naik kendaraan apapun untuk nyampe ke Malioboro, tapi ya jangan naik helipokter juga, dong. Cepet sih, tapi nanti bingung markirnya, goblok! Atau kalau nggak ada kendaraan sama sekali, ya jangan ngesod juga. Iya, benar. Memang dengan ngesod bakal nyampe juga ke Malioboro. Tapi kapan nyampenya! 

Jangan segitunya lah. Nanti batinnya tambah menjerit, loh. Kasian dia. Sewajarnya saja. Sehormat-hormatnya. Jangan memberi kesan condong ke kiri. Yang terlalu segmented. Yang mungkin, pesan yang disampaikan cuma dipahami oleh sedikit orang. Juga, jangan condong ke kanan. Yang mungkin dalam pikiranmu terdalam, kau melebelinya dengan 'Kesan Murahan'. Bahkan mungkin, menjijikkan. 

Tirulah Bung Karno ketika menentukan sikap dari negeri yang baru merdeka ini, mau berpihak ke mana, ke siapa. 

Ketika perang dunia II, dua kubu yang sebenarnya bertolak paham, berkompromi dan berserikat sebentar untuk ngeruntuhin paham fasis yang rese. Mereka menang, ngalahin si fasis. Dan begitu perang selesai, banyak negara yang semula dikuasai fasis, akhirnya merdeka. Salah satunya Indonesia. Dua kubu yang tadi sempat berserikat, kembali ke roots semula. Bersaing lagi, perang dingin. Dan waktu itu, kita bingung mau memihak ke siapa. Kalau ke kanan, nanti yang kiri cemburu. Kalau ke kiri, nanti yang kanan geram. Jadilah kita, bareng-bareng negara kecil lain yang sama-sama baru merdeka, bikin gerakan non-blok. "Kita nggak memihak siapa-siapa. Kita-kita ini mau nentuin nasibnya sendiri". 

Tapi tahulah ya, hati si Bung itu condongnya ke mana, ke siapa. Dan itu bikin 'mereka' ketar-ketir. Hingga nyusun skema untuk......

Duh, kenapa eksplorasi tulisannya jadi ngawur dan liar begini? Malah larinya ke mana-mana. Semakin nggak jelas ini tulisan! Ya sudah, diakhiri sajalah. Sebagai penutup, saya kutip wejangan dari budayawan Prie G.S, yang sepertinya cocok dan merepresentasikan poin utama dari tulisan ini. Kata beliau, "Kita berangkat saja. Alamatnya kita cari. Soal ketemu tidak ketemu, itu soal nanti". 

Sekian dan terima kasih.