Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #7

Catatan kemarin sekedar selingan. Piweling untuk diri biar aku yang berwatak keakuan, mati. Keakuan itu, adalah peranakan raksasa yang sedang gladi resik. Bersiap untuk melumat dan mencaplok habis jiwaku. 

Mulanya ku temukan dia di permukaan hati yang kusam. Aku sentuh moncong kepala yang lonjong dengan kelembutan sentimentil. Sungguh, dia menggemaskan dan mampu menebar kesenangan. Menghibur hati yang saat itu sedang sakit-sakitnya. Itu kesan yang aku rasakan ketika bertemu keakuan. 

Atas dasar kesenangan, aku putuskan untuk menjaga dan merawatnya. Tak luput pula aku rutin ngasih dia makan setiap harinya. Tanpa pernah ku sadari, bahwa itu satu kebodohan yang kan ku sesalkan dikemudian hari. Keakuan itu beranjak gede. Mulai ngehe. Bertumbuh besar, semakin jelas terlihat borok yang sebenarnya. 

Aku jadi bimbang. Apakah jalanku benar, atau sebenarnya binal? 

Suatu ketika aku lupa ngasih dia makan. Dia ngamuk. Dia yang kurawat dengan gairah kesenangan, menerkam aku tanpa belas kasihan. Aku hampir mati karenanya. Kejadian tersebut memercik kesadaran bahwa dia tak layak kujadikan kawan. Dia sejatinya musuh bebuyutan. Musuh yang mengancam demi satu misinya, menghancurkan. Aku tak boleh membiarkan dia terus bercokol menguasai dimensi hatiku. 

Aku harus bunuh dia. Tidak perlu negosiasi, mari mati! 

Maka, tak ada pilihan lain selain melawan. Ya, tentu saja melawan diriku sendiri. Meski aku tahu ya, melawan diri sendiri adalah perang paling melelahkan sepanjang sejarah umat manusia. Banyak yang akhirnya kalah. Dan terbilang jarang, yang bertahan dan menang. Perang ini akan terus berkecamuk dalam jiwa. Selagi nafas masih ada. Selama ego masih menyala.

Aku tahu, ini adalah mandat suci yang tuhan percayakan hanya kepada manusia. Sebab, tak ada makhluk lain sesempurna manusia. Satu contoh konkretnya, adalah manusia diberikan wewenang untuk dapat mengontrol dirinya dengan peran kesadaran. Dan kesadaran ini, menjadi bekal persenjataan bagi manusia untuk menjalankan perlawanan tersebut. 

Maka tak ada jalan lain, selain menjalankan laku tirakat pembebasan untuk jiwanya yang terpenjara. Sebisanya. Semampunya. Hingga selesai, tuntas dengan dirinya sendiri. Nirvana.

Kok aku jadi sok spiritual begini? Padahal sebenarnya aku aslinya sepi-ritual. 

Memang, ya. Orang kalau lagi patah hati, itu punya kecenderungan balik lagi ke entitas yang dengan sadar telah jauh dia tinggalkan. Jauh. Kelewat jauh. Saking jauhnya, kadang kangen datang dan berkeinginan menyapanya lagi. Ya, seperti sekarang ini. Aku kangen dia. Dan ini, caraku menyapanya. Sebuah cara janggal dan ganjil untuk menyampaikan kerinduan pada yang tunggal.

Lain cerita lagi jika kemarin aku berhasil menyatakan cinta padanya. Wah, pasti sekarang isi tulisanku kayak toko bunga. Harum, wangi, penuh warna dan la la la, ceriaaa. Datang kupu-kupu. Terbang, menclok di titik terindah bunga. Menghirup kasih sayangnya. Terbang lagi sambil nyanyikan lagu Nadin Amizah.

Ya begitulah. Namanya juga manusia, ya. Harap maklum sajalah. Kadang lagi begini dan tak jarang sedang begitu. Sekarepmu, menungsa!

Oke. Sekarang aku mau rajut lagi jalinan cerita yang kemarin tertunda. Masih tentang dia. Dia yang kemarin kubiarkan pulang sendirian. Katanya, dia tak pulang. Dia nginep di kost kawannya. Dari kawannya pula, aku mendengar kabar kalau semalam suntuk dia nangis sampai air matanya menumpuk. Jadi pupuk yang suburkan kesedihannya.

Usai mendengar kabar itu, aku kian terpuruk. Bayang-bayang rasa bersalah menjelma jadi palu yang mengepruk. Berceceran itu isi kepala. Aku buntu. Tak tahu harus bagaimana. Tak tahu harus berbuat apa. 

Aku berputar-putar di labirin pikiran mencari jalan keluar. Aku kesasar. Setiap gang sempit hanya ada semak belukar. Semua sukar. Jalan pulang itu samar. Rute ini membingungkan. Aku tak tahan. Aku angkat tangan. Aku tuangkan minuman. Aku hilang kesadaran. Aku mabuk, sampai subuh datang. 

Kemudian aku tidur. Baru bangun menjelang siang. Siangnya larut dalam lamunan. Meratapi kesalahan dalam bungkus penyesalan. Sampai mentari menghilang, aku pertanyakan semua yang ku tuliskan. Mana itu laku spiritual yang terhampar di paragraf awal cerita? Mana! Rupanya, semua itu hanya bual belaka.

Kadar pretensius dalam tulisan ini terlalu ketinggian. Itu bikin aku mabuk. Gitting melayang-layang. Semakin mabuk pula diriku setelah kecanduan zat adiktif bernama ekspektasi. 

Mumpung belum parah sampai jatuh sakau, aku sepertinya perlu rehab. Mengambil jarak dengan harap. Ini semua penting kulakukan biar nggak terjerembab dalam kubangan gemerlap yang sejatinya gelap. 

Karena aku telah mengerti seperti apa rasanya terlalu dekat, bahkan mendekap yang namanya harap. Tak lain, bikin pengap!

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #8

__________________________________________

***