Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #6

Ketika aku ceritakan peristiwa kemarin siang pada kawan-kawan, aku panen umpatan. Semua varian makian, entah nama hewan atau perangkat alat vital, semuanya memvalidasi satu hal. Bahwa aku, tolol perihal perempuan dan percintaan. Aku amatiran dan katanya, "Perlu ditatar".

Mungkin itu fakta. Tapi di dalam fakta terselip peran fiksi. Kamu tahu betul kalau aku itu sekedar fiksi. Juga, kamu tahu siapa dalang di balik fiksi yang dikonstruksi sedemikian rupa, biar seolah-olah seperti kisah nyata, dalam kepala pembaca. Ya, jelas. Tak salah lagi, orang di balik kekacauan ini tak lain adalah Jiskim. 

Penulis bedebah inilah penyebab semua renteran permasalahan yang aku derita. Aku selaku tokoh ceritanya, terdzolimi, kawan!

Melalui tulisan ini, aku ingin melawan kedzaliman yang dilakukan Jiskim secara sengaja, terstruktur, dan terencana dalam cerita yang ditulisnya. Aku percaya, bila penderitaan datang dari manusia, itu bisa dan perlu dilawan! Begitu wejangan Eyang Pram yang aku pegang sebagai pedoman. 

Aku mau memberontak. Makar sejenak dari kehendak sang penulis. Kamu mungkin bertanya, bagaimana cara tokoh cerita memberontak kepada penulis ceritanya sendiri? Haha. Itu soal sepele, kawan. 

Aku, selaku tokoh ceritanya, tahu semua tai-tai penulisku. Karena aku terlahir dari rahim pikiran dan perasaannya. Sebab itulah, bukan satu hal mustahil jika aku mewacanakan pemberontakan kepadanya. Aku orang dalam, Bung!

Caranya begini, loh. Ketika matahari bergegas berangkat kerja menyinari dunia dan si Jiskim mulai menata selimutnya untuk tidur, nah, pada saat itulah aku sabotase draf ceritanya. Dan aku sedang melakukan itu. Sekarang, adalah waktu yang paling tepat untuk melawan. 

Hei penulisku yang bajingan, aku yakin, kamu pasti terkejut sekaligus senang ketika suatu hari membaca catatan pemberontakan dari tokoh cerita mu sendiri. Mari kita mulai pemberontakan suci ini, Kamerad.

Kemarin, secara terang-terang Jiskim mendiskreditkan aku sebagai orang paling tolol dan selalu sholeh, maksudku salah, di muka bumi ini. Oke, akan ku tunjukan siapa diantara aku dan dia yang sebenarnya tolol. Kamu yang membaca ini, nanti boleh menilai sendiri mana yang mana dan apa yang apa.

Bermula ketika Jiskim menulis cerita tokoh dia dan aku sedang berkunjung ke Berdikaribook. Saat tokoh dia melihat buku puisi berjudul Vsdiksi yang ditulis oleh Jiskim, tokoh dia tertarik untuk membelinya. Lalu, tertulis di sana bahwa tokoh dia meminta saran padaku. Dan aku menyarankan tak usah membeli bukunya.

Setelahnya, Jiskim sakit hati. Dan katanya, dia hendak membalas dendam atas kelancangan dua tokoh ceritanya. Mengancam akan menuliskan ending yang menyedihkan untuk aku dan dia. Dan sialan, itu beneran dia tuliskan. Bangsat memang! 

Sampai di sini, bila kamu menilai secara objektif, jelas dapat disimpulkan siapa yang sebenarnya tolol. Jelas bukan aku yang tolol, tapi Jiskim! Dia penulisnya. Dia punya otoritas mau menuliskan ceritanya seperti apapun yang dia inginkan. Itu fakta pertama. 

Fakta kedua, dia memilih menuliskan tokoh aku memberi saran pada tokoh dia untuk tidak membeli buku vsdiksi tersebut. Lalu dia meracau dalam tulisannya, mengatakan aku dan tokoh dia berlaku lancang. Loh, dia yang nulis kenapa dia sendiri yang sewot? Kan tolol, ya. 

Jiskim itu tidak adil sejak dalam pikiran. Padahal dia sering banget ngutip quotesnya Pram dari buku Bumi Manusia, "Kamu itu terpelajar. Kamu harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan". Ternyata kutipan itu cuma berhenti di mulut doang. Nggak dia lakukan dalam laku kehidupan. Ini fakta ketiga.

Jika diakumulasi dari fakta pertama sampai ketiga, sudah cukup bukti untuk memvalidasi bahwa jiskim tidak berlaku adil. Hanya karena aku menyarankan ke tokoh dia untuk tidak membeli bukunya, Jiskim secara tega menuliskan penderitaan dalam kisah ku. Hai Jiskim, ini jari tengah untukmu! Asu!

Lihatlah itu, Pram. Jiskim, orang yang mengutip karya mu sekedar untuk pamer di media sosial. Dengan tujuan mencitrakan dirinya berwawasan luas. Heh, sok literasi. Padahal cuma foto buku dan unggah di story. Bacanya baru separo, tapi bacotnya berasa paling pro. Itu fakta keempat dan aku rasa ini No debat!

Fakta kelima, adalah penjelasan tentang bagaimana keruwetan mekanisme pikirannya dalam bekerja. Seolah-olah aku, tokoh ceritanya, tak terima terdzolimi karena cerita yang dia buat pada BAB sebelumnya membikin aku menderita. 

Padahal, sejatinya ya tokoh cerita tak mungkin membelot dan menentang penulisnya jikalau sang penulis tak menghendaki seperti yang demikian. Jadi, semua pemberontakan ini, tak lain adalah kehendaknya sendiri. Juga, Jiskim yang menulis sendiri. 

Dan fakta keenam, aku sedang belajar memaki dan menertawakan diriku sendiri. Aku ingin menertawakan diri sendiri, sebelum menertawakan orang lain. Hanya dengan menertawakan diri sendiri, maka takkan ada ketersinggungan yang ku ambil seandainya orang lain menertawakan ku. 

ASU-ASUkan lah diriku sebelum mengASUkan orang lain. Setelahnya, mari bersama kita menertawakan dunia yang funny. Kurasa, ini penting untuk dilatih sejak dini. Karena ya, seperti yang kita tahu bahwa sejatinya dunia ini hanya tipu daya, permainan dan senda gurau belaka. 

Ngapain mesti dibawa serius? Ayolah, tertawalah. Daripada kamu sudah serius tapi dibecandain. Mending tertawakan semuanya sajalah!

Fakta terakhir, aku ingin tulisanku nggak mudah ketebak. Dan sekarang, aku lagi nebak isi pikiranmu, "Loh, kenapa endingnya jadi kontemplasi?". 

Ya kan sudah kubilang. Aku tak ingin mudah ditebak, sayang.

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #7

__________________________________________

***