Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #5

Tadi cocot kencono ku banyak nyerocos sok ngintelektual. Sekarang malah cuma melamunkan satu hal. Lamunan yang didominasi keraguan. Keraguan yang didalangi ketakutan. Ketakutan yang dilahirkan oleh firasat tak mengenakan. Firasat yang muncul dari akumulasi ragam pengalaman.

Iya, masih tentang itu. Tentang menyatakan perasaan. Aku ragu mau mengatakan sekarang, atau nanti, lain kesempatan. Situasi semacam ini membawa ingatanku pada sepenggal lirik lagu Jamrud, "Mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara". Di mana lembaga kursus itu, ya?

"Eh. Puisi yang ada di cover buku tadi, itu nempel banget loh di ingatanku", ucapnya. Aku yang sedang melamun, tersentak gelagapan. Gimana-gimana? Dia ulang sekali lagi ucapannya.

"Semuanya kamu ingat, Fik?". Responku, singkat saja.

"Nggak semua. Tapi pas bagian ini". Kemudian dia melafalkan barisan sajak dari buku vsdiksi. Buku yang nggak jadi dia beli karena hasutan dariku. Dan itu, katanya bikin penulis ceritaku sakit hati dan berniat balas dendam dengan bikin ending yang menyedihkan. 

Haha, hei kau penulis cerita ku, aku tak takut dengan ancaman mu. Sebelum ending itu kamu tulis, aku cuma mau bilang, "Mampus aku dikoyak buku yang kurang laku!".

Kita kontradiksi

Dengan sejuta perbedaan.

Seperti pelangi

Indah karena tak seragam.

"Persis seperti kisah kita, ya?".

Aku masih belum nangkep maksud perkataannya. Seperti kisah kita? Apanya yang sama?  Apanya yang persis? Kemudian, perbedaan. Apanya yang beda dari kita? Aku mumet sendiri meladeni pertanyaan-pertanyaan ini dalam pikiran sendiri. Aku perlu membagikan pertanyaan itu padanya.

"Maksudmu apanya yang sama dengan kita?".

"Memangnya kita punya perbedaan seperti keterangan dalam puisi itu, ya?".

"Bukankah agama kita sama?".

Rombongan pertanyaan itu diterima dan disambut oleh senyumannya. Senyum yang tak sama. Senyumnya lain. Khusus senyum yang ini, jujur, aku tak berminat untuk mengantongi. Firasatku mengatakan senyum tersebut mengandung racun berbahaya yang bakal membunuhku. Modar, mampus! 

"Emm...".

Dia berguman. Cukup lama dia am em am em. Lalu diem. Entah, setelah dia am em, aku jadi menaruh dendam pada penggagas kata em, kata hmm. Siapa sebenarnya yang bikin frasa yang merepotkan pikiran itu?!!

Aku mending bertarung melawan hingga kalah telak, tak berhasil memahami rumitnya pemikiran filosofis dari Om Neitzsche. Ketimbang harus pusing menerjemahkan kata hmm yang diucapkan perempuan di hadapanku ini. Serius, pikiranku meledak, Kamerad! 

Nggak berguna itu semua pengetahuan dari TK sampai Kuliah bila berhadapan dengan cinta, terlebih ketika munculnya hmm yang sialan ini. Mental semua yang logis, semua jadi melodramatis. Kan asu, ya?

"Emm..".

"Agama kita memang sama. Tapi...".

"Kita beda perasaan". 

Sialan! Maksud mu sebenarnya apa, sih? Aku belum mengatakan apapun tentang perasaan ke dia, kenapa bisa dibilang beda perasaan? Coba perjelas lagi, lah. "Ya kalau mau tahu yang dia maksud, tanyakan langsung, dong. Dasar, tokoh aku goblok!", ucap aku yang nulis cerita tentang aku.

Dengan keberanian yang gila, aku berucap mantap. "Kata siapa beda? Perasaanku ke kamu sama seperti perasaanmu ke aku". Mengucapkan ini, sedikit melegakan hati.

Dia berdiri. Beranjak dari kursi. Berjalan pelan menuju gerbang depan Rumah Berdikari. Keluar. Mematung di sana. Aku tahu, maunya dia adalah agar aku ngikutin dia berdiri di sana. Hafal betul aku dengan sikap mistis yang ia presentasikan dihadapanku itu. Baiklah, aku turutin apa mau mu, sayang!

"Kamu mau tahu nggak bagaimana perasaanku ke kamu?". Dia berucap setelah aku berdiri di sampingnya. Aku mengangguk. Aku lempar senyum tipis-tipis, biar nggak dikira Atheis. Typo, maksudku dikira apatis. 

"Perasaanku ke kamu, itu...".

"Tidak ada perasaan". Ada jeda sebentar yang memberi ruang untuk sesak nafasku. Jeda yang singkat itu kemudian diembat dengan kelanjutan ucapan yang bikin aku sambat.

"Masih mau bilang perasaan kita sama?". 

Sialan! Kalimatnya seketika membangkitkan arwah ketakutan, menjadi sesuatu yang nyata. Ketakutan itu bukan lagi maya. Bukan cuma asumsi belaka. Ia nyata. Ia benar-benar datang dengan membawa kekejaman luar biasa, membunuh semua asa. Aku mati?

"Iya, sama. Perasaanku sama seperti perasaanmu. Aku juga tidak punya perasaan apa-apa", ucapku tak ragu. 

Entahlah. Apakah ucapan ini menyelamatkan, atau justru semacam bunuh diri yang dilakukan orang mati. Sudah mati, mau mati lagi. Ah, persetan dengan semua interpretasi. Itu kalimat aku ucapkan spontan. Mendadak mendesak lisanku. Minta dijadikan prioritas yang harus didahulukan, diucapkan. 

Aku tak memikirkan apapun tentang resiko ini dan itu. Loss, begitu saja.

"Aku tadi cuma becanda, loh", jawabnya.

"Kamu serius ngomong gitu?".

"Jadi selama ini kamu anggap aku itu apa?".

"Aku pikir selama ini kamu sayang ke aku".

"Ternyata...".

"Ih. Nyebelin!!!!!".

Loh, kenapa jadi begini? Kenapa semuanya rumit sekali? Kenapa sekarang jadi terkesan aku yang salah? Belum sempat aku menanggapi semua perkataan, keburu dia lari. Aku coba mengerjanya, manggil-manggil nama. Aku terus mengejar sampai bisa ku raih lengannya.

"Apa lagi!!!!". Dia membentak. Kulihat, sesuatu yang bening sedang bersiap merayap menjalar ke permukaan pipinya. 

"Kamu kenapa?", ucapku.

"Serius, aku bingung dengan drama tolol yang kamu lakonkan di siang bolong".

Iya, aku tahu ucapanku itu bunuh diri ketiga kali. Kenapa pula harus ku katakan begitu. Iya, yang aku ucapkan itu salah. Meski sebenarnya itu benar, ya. Tapi tetap salah. Mutlak salah. Aku salah. Aku praktisi dalam membuat kesalahan. Aku salah strategi menghadapi perempuan. 

Aku pemain Liverpool! Tapi sepertinya sih dia yang lebih pantas disebut pemain Liverpool. eMoh salah.

"Ih! Kamu ituuuu!". Dia nangis. Di depanku. Dan itu membuat aku semakin kacau. Aku tak tahu lagi apa yang musti ku lakukan. Aku ngeblank. Semua gelap. Gelap sekali. Serupa mataku ditutup dengan kain, kain kafan. Dan aku terbaring dipendam dalam tanah, tanah kuburan. 

Kurang gelap? Mati keempat kali sajalah!

Masih sambil nangis, dia berucap, "Udah ah, aku mau pulang saja! Biarin aku pulang sendirian!". 

Bilangnya mau pulang tapi tetap diam di tempat. Aneh. Jadi pulang sendirian nggak sih? Aku tak tahan lagi dengan permainan tolol ini. Ku katakan saja padanya, 

"Oke. Kalau itu mau mu, ya silakan pulang. Nanti kalau kesasar, whatsapp saja. Nomerku always on dan bales chatmu fast respon". 

Ku biarkan dia pergi. Membawa kekesalan hati serta tangisan yang tak mau berhenti. Aku tetap diam di sini. Berupaya menjinakkan rasa geram menyaksikan tingkahnya. Serta menyangkal penyesalan pada keputusan yang jelas positif mengandung kesalahan. Mungkin, tak termaafkan. 

Mungkin benar, memang aku yang salah. 

Tapi semuanya sudah terjadi. Mau bagaimana lagi jika nasi sudah dimakan dan jadi seongok tai? Tak ada pilihan lain selain buanglah tai mu itu. Biar nggak jadi penyakit. 

Atau, kamu mau ya nggak bisa ngising? Jika mau, maka pendam terus itu penyesalan di dalam mekanisme pikiran yang kacau berantakan.

Kamerad mau pilih yang mana? Terserah. Kamu punya Free Will, kok.

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #6

__________________________________________

***