Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #4

"Ini bukunya bagus loh, Fik", ucapku.

"Das Kapital. Karl Marx".

Dia bertanya, "About?".

"Nothing and everything all at once", jawabku.

"Itu mah lagunya Greenday!!!". 

Dia tersenyum. Dia kesal dengar jokes yang nggak lucu blas. Aku waspada. Aku menaruh curiga pada pergerakan lengan kanannya. Dengan cermat, segera mungkin aku menghindar. Dan benar, lengan itu terangkat, terayun dan berupaya menyikut dadaku. Untungnya nggak kena.

Manuver subversif yang ia lancarkan, gagal. Wakwaw. Dia semakin kesal. Tapi senyumnya kian lebar. Dan senyumnya, itu sungguh menggairahkan. Ingin sekali aku kantongi senyum itu. Kubawa pulang. Kan kujadikan ia juru selamat akhir bulan. Kuyakin, cukup dengan sekantong senyumnya, aku tak bakal kelaparan.

Sekarang, aku dan dia sedang berkunjung ke Rumah Berdikaribook. Sebuah toko buku yang menyediakan ragam bacaan alternatif. Di tempat ini, banyak ku jumpai judul buku yang sepertinya mustahil ku temukan di toko buku mainstream. 

Aku dan dia, disingkat saja kita, mondar-mandir keliling sana-sini menelisik setiap judul yang tertera dan tertata rapi di rak bukunya. Dia berjalan di depan, sedang aku ngekor di belakang. Ladies first, katanya. 

Setiap judul yang memanjakan mata, entah oleh aku atau dia, menarik buku itu dan membaca resensi di belakangnya. Lalu dikembalikan lagi ke raknya. Begitu terus, berulang terus. 

Kini aku dan dia sejajar, berjalan beriringan. Jariku mencoba meraih jarinya. Maksud hati ingin menggenggam, Ah, sialan! Dia malah menaikan tangan kanan dan ngupil. Jancuk tenan!

Dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri, akhirnya langkah kakinya meminta berhenti. Tepat di hadapannya, sebuah buku tipis berwarna hitam menarik perhatian mata. Diambil olehnya, dia amati ilustrasi sampulnya. 

Cover yang cukup simpel. Hanya menempelkan sebuah logo dan tertulis di bawahnya, vsdiksi. Entah, aku sendiri tak tahu barisan abjad dari judul buku itu harus dibaca kayak gimana.

Puas menelisik sampul depan, ia balik buku itu, tampilkan cover belakang. Tersaji sepenggal puisi yang mungkin representasi dari keseluruhan isi. Dia senyam-senyum sendiri membaca puisi yang berjudul vsdiksi. Aku jadi penasaran dan ikut membaca puisi itu selayang pandang. 

Adakah alternative untuk kita siasati,

Rindu yang hangus oleh nyala api.

Bisakah kita serupa air,

Yang menyejukan, 

dimensi hati yang terbakar.

Selaraskan,

Warna-warni kita.

Aku dan engkau...

Kita kontradiksi,

Dengan sejuta perbedaan.

Seperti pelangi,

Indah karena tak seragam.

"Aku mau beli buku ini. Bagus nggak menurutmu?". 

Aku kaget tiba-tiba diserang pertanyaan. Ku iyakan saja kalau buku yang ia pegang, itu bagus. Tapi ya memang beneran bagus sih bukunya. Kemudian dia bertanya, "Menurutmu, buku ini aku beli atau engga, ya?".

"Bukunya sih bagus. Tapi kalau soal beli, menurutku sih nggak usah lah, Fik".

Anjing! Aku yang aku, membaca statement aku tokoh ceritaku, kok sakit hati, ya? Dasar bajingan si aku ini! Rules ceritanya seharusnya nggak gitu, loh yaaa!!!! 

Hei aku, harusnya tertulis di atas sana bahwa aku berkata padanya, sudah semestinya dia membeli buku vsdiksi itu. Bukan malah mengatakan nggak usah beli. Sialan. Tokoh aku semacam ini, nih, yang nggak pernah bisa bikin penulisnya makmur. 

"Tapi aku penasaran sama isinya. Beli nggak, ya?", ucapnya.

Huft. Tarik nafas panjang, hempaskan perlahan. Nggak habis pikir, kenapa dua tokoh cerita yang aku tulis sendiri, kok terkesan nggak niat mengapresiasi penulisnya! Kalau tokoh dia beneran penasaran dan pengin beli bukunya, ngapain harus nunggu validasi dari tokoh aku? Ngapain?!!! 

👉 Ayo beli bukunya! 👈

"Jangan beli buku ini, Fik".

"Baca itu nama penulisnya. Jiskim. Heh, aneh bener itu nama".

"Gitu ya? Ya udah deh, nggak jadi beli", ucapnya. Menaruh kembali buku itu ke tempat semula. Dua tokoh yang sungguh bedebah! 

Meskipun sakit hati, tapi aku apresiasi keberanian dua tokoh cerita tadi. Mereka berani berkata seenaknya dan membuat keputusan fatal dengan tidak membeli buku yang ditulis oleh penulis mereka, dengan darah dan air mata. Fak! 

Ya, ya, ya. Nggak apa-apa. Aku biarkan kelancangan dua tokoh cerita itu, abadi dalam cerita ini. Tapi, jangan salahkan aku ya, wahai dua tokoh cerita. Sekali lagi ku pertebal, jangan salahkan aku. 

Jika tokoh aku dan dia berani lancang seperti demikian, aku pun tak kalah berani menulis ending cerita yang berkalang tragedi menyedihkan. Dan yang pasti, itu bakal bikin kalian terjerembab dalam kubangan samsara. Menderita. 

Di sini, di cerita ini, aku punya otoritas mutlak yang nggak bisa digugat. Camkan itu, wahai tokoh cerita!

Setengah jam lebih mengitari ruangan ini, tak ada satupun buku yang kami beli. Kami akhirnya memilih sekedar membaca buku yang disediakan di perpustakaan Berdikari. Masing-masing ambil satu, bawa keluar dan duduk santai di beranda.

Sementara aku memesan dua cup coffe, ku minta dia untuk duduk menunggu di area pojokan beranda Berdikari. Setelah pesan kopi, aku menyusul ke tempat duduknya. Lalu aku diam, dia juga diam. Kami berdua larut dalam diam, menjelajah alur cerita dari buku yang sedang kami baca. 

Tak berselang lama, kopi yang aku pesan diantarkan. Nama kopinya cukup unik. Kopi Socrates. Apakah rasanya seperti pertanyaan filosofis? Ya nggak gitu juga, dong! Memangnya kamu mau apa minum kopi Socrates, terus mati diracun hanya karena pendapat dari pemikirannya menyenggol ego mayoritas, berlawanan dengan otoritas?

Kalau ngomongin soal rasa, ya rasanya seperti kopi. Mohon maaf nih. Aku tak mengerti perihal perbedaan rasa kopi. Dan tak lihai pula menuliskan sensasi rasa itu dengan detail. Karena bagi lidahku, semua jenis kopi ya rasanya selayaknya kopi. Iya, aku tahu setiap jenis kopi pasti rasanya beda. Tapi aku tak mau pedulikan soal itu. Sebab aku cuma mau menikmati kopi saja. Nggak lebih.

Aku masih diam tak berkata. Selain sedang menikmati kopi, aku pun sedang menikmati dia yang sedang menikmati kopinya. Dia sadar kalau aku memperhatikannya dari tadi. Lantas, dia taruh kopinya dan balik menatapku dengan sorot mata yang membuat mataku berdarah. Tatap pandangnya, tajam.

"Kenapa ngelihatin aku gitu?".

"Nggak papa".

"Hanya saja, kamu cantik, Fik". Dia salto. Maksudku, salting. Salah resleting. Bukan. Salah tingkah. Nah, ini baru bener.

Kemudian aku mengajaknya ngobrol tentang banyak hal. Tentang surga dan nereka, dosa dan pahala. Tentang filsafat dan firasat. Tentang Komunis, Kapitalis, Fasis, Liberal, Konservatif, Anarkis in Your Kiss. Bagiku, semua obrolan itu terasa tak penting. Sebabnya sesuatu yang penting tak mampu aku bicarakan. 

Satu hal yang terbilang penting, adalah tentang sebuah perasaan. Perasaan yang sukar untukku berterus terang mengatakan itu kepadanya. Orang-orang sepakat memberi nama untuk hal semacam ini dengan sebuah istilah : Cinta.

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #5

__________________________________________

***