Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #3

Ya kali aku mati diawal. Engga, lah! Sebabnya aku tokoh utama dalam cerita. Mana ada tokoh utama yang mati ketika cerita baru melewati prolog? Kan goblok! Maka, aku perlu menjelajah isi kepala, mencari kata-kata yang sering bersliweran dan mondar-mandir tanpa tujuan. 

Mereka itu, kata-kata, adalah tunawisma. Mereka menggelandang dari resah ke resah. Sampai akhirnya aku menemukan mereka. Aku asuh dan bikinkan rumah. Di rumah cerita, Mereka terlindung dari deras hujan dan panas kemarau di kota pikiran yang tata letaknya semrawut. Mereka sekarang lebih tertata dalam bingkai cerita. Mereka mampu beradaptasi dengan alur cerita yang ku kehendaki. 

Meski aku tak pernah mau memberi jaminan bahwa mereka bakal berujung bahagia, ya. Sebab terkadang mereka nampak lebih cantik dan erotis, bila berakhir dengan ending yang tragis. Tapi entahlah, itu urusan ending. Sekarang yang ku perlukan adalah membuka pintu dan menggiring mereka masuk. Pelan-pelan.

Sudah dua jam aku menatap layar laptop. Menyalin ulang naskah yang ku tulis di atas kertas sewaktu melamun pas jam kuliah. Pemaparan materi yang disampaikan dosen terlalu membosankan. Aku lebih tertarik dengan isi pikiran yang membayangkan sesuatu dengan keliaran absolut.

Yang kubayangkan, adalah aku lagi duduk di kelas dan mendengarkan dosen berceramah. Apa kamu bilang? Aneh? Hanya karena aku lagi kuliah dan membayangkan suasana perkuliahan, itu menurutmu aneh? Ah, jangan langsung ngejudge begitu, dong! Kan aku belum selesai cerita. Mau nggak baca cerita utuhnya? 

Oke, tapi bentar ya. Aku mau EE dulu. Nongkrong di wc tanpa bibir menjepit rokok itu kurang syahdu. Maka, sebatang rokok aku bakar ujungnya untuk menemani diri ini mengeluarkan sisa makanan yang tak dapat diuraikan oleh mekanisme perut beserta kroni-kroni pasukannya. Plang plung, plang plung. Plong, lega. 

Hei, bagaimana? Masih nunggu aku ceritakan khayalan liar? Masih? Oh iya, sebentar, satu lagi. Biar jelas konteksnya, perlu kuterangkan bahwa saat ini aku kuliah semester satu ngambil jurusan Psikologi di kampus yang terkenal, terkenal tabah-tabah mahasiswanya. Oke, langsung saja, ya.

Dalam khayalan, aku sedang duduk di kelas. Ada kawan-kawan dan tentu ada dosen. Situasi sama persis seperti kuliah pada umumnya. Ketika dosen menjelaskan teori Psikoanalisa, mendadak ruangan jadi gelap. Keadaan ini berlangsung tujuh detik. 

Kemudian ruangan terang kembali. Seisi kelas kaget bukan kepalang tatkala menjumpai Sigmund Freud tiba-tiba duduk di meja dosen sambil nyedot cerutu. Dia nampak khidmat menikmati serotan asap yang ngebul serupa kereta uap dalam serial kartun Thomas and Friends.

Tiga kali hisapan. Kaki kiri yang semula menyilang di atas kaki kanan, diturunkan. Freud berdiri dan berjalan mendekat ke arah dosen yang masih termangu. Baik Freud maupun sang dosen, diam bersitatap. Ku lihat bibir sang dosen umak-umik seperti ingin berbicara. Namun nampaknya sia-sia. Sebab tak satupun kata mampu diucapkannya. 

Kini, Freud berkeliling mengitari setiap sudut kelas. Menyambangi satu persatu mahasiswa yang ada di sana, termasuk aku. Saat ia di depanku, aku bergegas berdiri. Memberi penghormatan dengan membungkukkan badan ala Samurai Jepang. 

Dia hanya menganggukkan kepala. "Kaku sekali dokter sardot ini", pikirku. Lalu, aku merogoh saku kemeja dan mengambil sebatang rokok. Segera meletakan rokok itu di sela-sela bibirku. Freud sangat peka. Diambilnya korek api dan dia bakarkan rokokku. Aku duduk dan kebal-kebul dalam kelas. Dalam diamnya, sang dosen melirik ke arahku dengan tatapan mendakwa. 

Freud sampai detik ini belum berbicara. Juga diantara kami semua, tak ada satupun yang mampu berkata-kata. Kemudian Freud balik lagi ke meja dosen. Kali ini dia menghadap laptop. Tak lama berselang, dia menatap dan memanggilku dengan jari telunjuk yang maju mundur ke depan dan belakang. Sebagai anak Psikologi yang menghormati junjungan agungnya, aku turuti maunya.

"Ada apa, Mbah Freud?". Aku kaget tiba-tiba mulut ini bisa ngomong lagi.

"Saya mau youtuban. Tetring dong", ucapnya.

Oke, aku paham. Dia kan orang lawas yang nggak kenal kebutuhan kuota. Eh, tapi ini kan laptop milik dosen? Ah, apa pentingnya urusan itu. Yang penting kuota internet milikku kecipratan barokahnya Al-mukarrom Sigmund Freud. Anjay, Lutfi Agizal!

"Mau nonton apa, Mbah Freud?". Aku bertanya dengan sopan. 

"DJ Remix jedag-jedug", jawabnya.

Aku terpental. Kaget. Asu! Demi melihat aku bereaksi sebal mendengar jawabannya, Freud tertawa ngakak sampai terjungkal dari kursinya. Sekarang giliran aku yang tertawa melihat nasib apes menimpa dirinya. Tawaku menular seperti virus, menjalar ke seisi kelas. Ngakak berjamaah. Raut muka Freud merengut menahan geramnya malu.

Mendadak lagi, ruang kelas gelap. Tujuh detik setelahnya, terang. Tapi Freud menghilang. Kini malahan suara tawa kian lantang. Tawa itu datang dari kursi di sebelah tempat duduk ku. Tawa kerasnya, menarik perhatian semua pasang mata dalam kelas untuk melirik ke arahku. Kamu tahu siapa yang ketawa? Freud!

Beberapa penghuni kelas ada yang ikut tertawa. Ada yang diam tapi prangas-prenges. Aku penasaran. Aku amati setiap bagian yang melekat di diriku. Bangsat, malunya aku! Ternyata aku ngaceng. Ada sedikit basah ngecap di celana membentuk peta Uni Soviet. 

Pas lagi malu-malunya, si Freud mendekat dan membisikan ledekan ke telingaku, "Ngeseks kok beraninya cuma dalam mimpi. Cemen!". Ingin rasanya ku tempiling mulutnya pakai buku-buku Carl Gustav Jung dan berbisik pelan di telinganya, "Halo, Freud. Sudah baikan belum sama Jung? Katanya dulu kalian baku hantam pemikiran sampai-sampai merusak persahabatan?". 

Freud diam tak berkutik. Aku merasa menang.

"Freud, ingat ya, ini tulisanku. Soal roasting pasti aku yang menang. Tulisanku, aku yang mengatur semuanya semaunya". 

Mendengar ucapan ku, Freud tersenyum dengan senyum yang membahagiakan. Aku sungguh kagum pada senyum itu. Meski sekarang aku belum memahami segala senyuman yang ia warisan dalam pengetahuan yang ia tuliskan. "Freud, love you". Kini dia pulang. Meninggalkan aku yang kembali tersadar dari lamunan indah dan liar. 

Aku akhirnya tersadar juga. Ternyata, Tuhan itu baik, ya. Dia memberikan satu karunia yang bisa bikin senang tanpa perlu kita bayar. Ya benar. Karunia itu bernama imajinasi. Aku sepertinya tahu apa maksudnya. Mungkin ya, dia hadirkan imajinasi ini sebagai jalan alternatif. "Ya kalau nggak dapet di dunia nyata, ke sini dulu aja, wahai hamba". 

Duh, alangkah sia-sianya hidup ini bila berkhayal pun enggan. Pantesan si John Lennon bilang berulang-ulang imagine all the people. Sekarang baru ngeh. Wah, gila juga ya. Ugal-ugalan sekali ini tulisan.

Dan malam ini, beberapa hari setelah kedatangan Freud, baru aku selesaikan tulisan tersebut. Namun aku ragu mau menyertakan khayalan itu dalam cerita. Iya, jangan? Ah, biar ku pikir nanti sajalah. Toh kalau nanti dirasa kurang sreg ketika dibaca ulang, palingan kisah di atas bakal ku buang ke tong sampah. 

Tong sampah yang sudah penuh oleh ribuan cerita dari berbagai formulasi uji coba. Cerita-cerita yang kalau sekarang ku baca, bikin mual dan muntah-muntah. Alay dan menjijikan. Itulah proses, kata seorang bijak yang telah selesai dengan pergulatannya. Dia sekarang lagi nangkring di atas batu nisan kuburannya.

Akan tetapi, jika kamu sempat membaca kisah ini, itu artinya tulisan tersebut layak tayang. Ya meski ada kemungkinan bakal direvisi atau malah ku hapus dari jajaran publikasi. Entahlah. Oh ya, jika nanti aku sertakan khayalan tadi, tolong  jangan pernah sekalipun tanya apa maknanya. Sebab aku sendiri beneran nggak tahu, nggak ngerti. 

Kadang aku heran sendiri, kenapa jari ini memilih menulis sesuatu yang absurd. Tulisan yang nggak pop sama sekali. Kenapa nggak ku tulis saja sesuatu yang inspiring people to change the world, misalnya. Atau kisah yang katakanlah lebih mudah diterima oleh pasar. Katanya kan, yang begitu itu bisa bikin viral, kan ya?

Alah, persetan viral! Menghadapi kepala yang pusing sebab dihantam ribuan pertanyaan idealis tentang eksistensial saja sudah membuat kerja kesenimanan ku stuck nggak jalan-jalan. Mogok massal aliansi ide itu kini malah berlipat ganda setelah dua pesan whatsapp masuk secara beruntun membunyikan lonceng notifikasi.

"Besok kamu sibuk?".

"Bisa anterin aku beli buku di Berdikari?".

Isinya bikin aku sumringah. Itu kabar baik. Kabar buruknya, karena pesan itu, tulisan ini jadi terbengkalai dan nggak selesai-selesai. Ah, ngapain juga harus buru-buru menyelesaikan? Itu mah nanti-nanti juga bisalah! Sekarang, dia dulu. 

Dia lebih penting. Sebab, dia adalah pusat tata surya dalam semesta karya sastra ku.

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #4

__________________________________________

***