Upaya Perpanjangan Nafas Cerita - #1

Kami duduk bareng di Warmindo. Aku pesan nasi orak-arik. Satu dari sedikit kuliner yang mampu membuatku jatuh cinta sejak suapan pertama. Entah apa sebab. Yang jelas, baik di lidah maupun dalam perut, kuliner ini sama-sama mencukupkan bahagia bagi kenyangku. 

Perkenalan dengan nasi orak-arik terjadi tanpa terencana. Suatu malam yang penuh raung kelaparan, kawanku datang membawakan dua bungkus makanan. Tanpa banyak tanya, nasi berserta lauk yang tak ku tahu apa, langsung tandas seketika. Wareg. Baru setelah selesai, aku penasaran dengan yang barusan ku makan.

"Itu nasi orak-arik", terang kawanku.

Besoknya, ku datangi warmindo terdekat. Mencari makanan seperti tadi malam. Pesanan disajikan, bentuknya jauh beda dan rasanya tak sama. Saya semakin penasaran dengan orak-arik ini. 

Hari berlalu dengan cepat. Berbagai titik lokasi Warmindo telah ku ziarahi, serta ku cicipi kuliner orak-ariknya. Dari observasi ngasal, ku simpulkan hipotesa bahwa setiap warmindo punya ciri khas tersendiri terkait penyajian dan rasa nasi orak-arik.

Dan di Warmindo yang terletak di pinggir jalan dekat perempatan lampu merah, di sinilah menu orak-arik yang paling enak. Setidaknya menurut selera lidahku. Sekarang aku dan dia ada di sana. Aku masih menunggu kata terlontar dari bibirnya. "Sebenarnya kamu pesan apa, sayang?". Cukup lama dia diam perhatikan deretan tulisan menu makanan. 

"Emm, samain aja seperti kamu", ucapnya.

"Oke. Mas, nasi orak-arik telur dua, ya".

"Minumnya apa, mas?".

"Air bening saja".

Sembari menunggu pesanan tersaji, kami ngobrol dengan gayeng. Tentang apapun. Kadang, dia jadi pencerita yang renyah mengkisahkan keluh kesah. Aku mendengarkan tanpa mendebat apapun. 

Lalu gantian. Aku berbicara, lebih tepatnya mengumpati keadaan yang mengecewakan. Dia menatapku dengan sorot mata yang seolah-olah tak henti mengatakan, "Tenang. Jangan risaukan keadaan". 

Momen seperti ini, adalah satu dari banyaknya hal kecil yang sangat menggembirakan. Obrolan terpotong sebentar. Sebab makanan yang tersaji di meja makan nampak gelisah menanti kami melahapnya. Kami yang sedang digerogoti lapar, saling mempersilakan untuk kemudian bersama-sama makan.

Aku betah sekali melihat setiap sendok makanan yang tertelan mulutnya. Entahlah, aku merasa dia terlihat lebih berkharisma ketika nguntal sega. Terlebih ketika ada upa yang menempel di sudut kiri bibirnya. Itu serupa replika surga.

"Boleh?", ucapku.

"Boleh apa?".

"Itu". Sambil menunjuk ke pojok bibirnya yang temaram. Dia tersipu ketika aku sapu dengan tanganku, sisa nasi yang lancang menempel di bibirnya itu.

"Sudah", ucapku. Lanjut makan.

Beres makan, tak perlu buru-buru pulang. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. Dua abad, mungkin. Tapi sepertinya mustahil, sih.

"Yang kemarin kita bicarakan. Tentang hal yang 'penting' dalam kehidupan. Mencari dan menemukan orientasi", ucapku terlatih.

"Iya..".

"Gimana-gimana?".

"Aku merasa sudah menemukan itu".

Dia dengan sabar menanti kata demi kata menculat dari lisanku. Ku bilang, aku telah menemukan hal yang ku anggap penting. Satu hal yang aku rela bertaruh sepanjang waktu dan tabrak portal apapun untuk sampai kepadanya. Menulis, terangku. Dia tersenyum. Bibirnya memberi aba-aba bahwa sebentar lagi dia akan berbicara.

"Aku mendukung mu. Asal, jangan pernah kamu hidupkan lagi sikap pesimis yang akut dan mengerikan itu. Janji, ya?".

Aku diam dan mengangguk. Senyumnya kian lebar. Selebar harapanku untuk hari ini. Berharap nanti yang kan ku bicarakan dengannya seperti yang sedang ku bayangkan dalam kepala. 

Iyalah nanti. Sebab sekarang aku masih jongkok di kamar mandi. Jelas sambil merokok, memantik imajinasi. Duh, menyenangkan sekali. Aku jadi tak sabar. Rasanya pengin buru-buru menjemput dia di kostnya.

__________________________________________

Baca Sekuel Berikutnya 👉 Upaya Perpanjangan Nafas Cerita #2

__________________________________________

***